Oleh: Ficky Prasetyo Wibowo, Guru Seni Musik Pesantren-Sekolah Alam Planet Nufo
Jargon “cerdas, kaya, berkuasa” yang digagas oleh Dr. Mohammad Nasih sejatinya bukan sekadar rangkaian kata motivatif. Ia adalah peta jalan. Sebuah arah perjuangan hidup yang utuh. Namun, saya pribadi baru benar-benar memahaminya menjelang usia 30 tahun, usia ketika idealisme mulai diuji oleh realitas.
Dari tiga kata itu, justru bagian terakhir yang kini terasa paling mengusik: berkuasa.
Selama ini, banyak orang, termasuk saya dahulu, merasa cukup berada di posisi sebagai pengamat, pengkritik, atau bahkan oposisi moral. Kita bangga bisa berpikir kritis, lantang menyuarakan ketidakadilan, dan berani mengoreksi kebijakan yang keliru. Itu penting. Bahkan sangat penting. Kritik adalah tanda bahwa akal sehat masih hidup dan nurani belum mati.
Namun, ada satu pertanyaan yang lama-lama mengganggu: setelah kritik itu disampaikan, lalu apa yang berubah?
Pengalaman pribadi mengajarkan saya sesuatu yang tidak selalu nyaman untuk diakui. Dulu, saya juga pernah berada di barisan pengkritik, berdemo, menulis di media, bersuara dengan penuh semangat. Tetapi waktu berjalan, dan saya mulai menyadari bahwa perubahan yang diharapkan tidak kunjung terjadi. Bukan karena kritik itu salah, melainkan karena pusat kendali tidak berada di tangan para pengkritik.
Kenyataannya sederhana: arah kehidupan rakyat dalam sebuah negara sangat ditentukan oleh kebijakan yang lahir dari ruang kekuasaan. Dari sanalah aturan dibuat, dari sanalah keputusan diambil, dan dari sanalah masa depan jutaan orang dipengaruhi.
Ironisnya, tidak banyak orang baik, orang alim, atau orang cerdas yang benar-benar bercita-cita masuk ke dalam ruang tersebut. Banyak yang merasa dunia politik terlalu kotor, terlalu keras, atau tidak sesuai dengan idealisme. Akhirnya, ruang itu justru diisi oleh mereka yang memiliki keberanian berpolitik dan kemampuan berstrategi, meski tidak selalu diimbangi dengan kecerdasan mendalam atau integritas yang kokoh.
Sementara itu, para akademisi, intelektual, dan kritikus yang sebenarnya memiliki kapasitas besar, justru sering berhenti di luar pagar. Mereka menjadi pengamat setia, pemberi komentar, bahkan pengkritik tajam, tetapi bukan pengambil keputusan.
Di sinilah letak kegelisahan itu muncul.
Jika orang-orang cerdas hanya berhenti pada kecerdasan, dan orang-orang baik hanya puas dengan kebaikan personal, lalu siapa yang akan memastikan bahwa kekuasaan berjalan dengan benar?
Jargon “cerdas, kaya, berkuasa” akhirnya menemukan makna yang lebih utuh: kecerdasan adalah bekal untuk memahami, kekayaan adalah sarana untuk mandiri dan tidak mudah dikendalikan, dan kekuasaan adalah alat untuk mewujudkan perubahan nyata.
Tanpa kekuasaan, kebenaran sering kali hanya berhenti sebagai wacana.
Maka, sudah saatnya terjadi pergeseran cara pandang. Orang-orang baik tidak cukup hanya menjadi penonton yang bersorak dari luar lapangan. Mereka harus berani turun ke arena, menjadi pemain, bahkan jika perlu menjadi pengatur strategi.
Negara ini tidak kekurangan orang pintar. Negara ini juga tidak kekurangan orang yang mampu melihat masalah dengan jernih. Yang sering kurang adalah keberanian untuk masuk ke dalam sistem dan mengambil tanggung jawab atas arah perubahan.
Menjadi bagian dari kekuasaan memang bukan jalan yang mudah. Ia penuh risiko, godaan, dan kompromi. Tetapi justru karena itulah, ia tidak boleh ditinggalkan oleh mereka yang memiliki nilai dan prinsip.
Sebab jika ruang itu dibiarkan kosong dari orang-orang baik, maka jangan heran jika arah kebijakan jauh dari harapan.
Pada akhirnya, memahami jargon ini bukan hanya soal mengaguminya, tetapi tentang menjadikannya sebagai panggilan: untuk tidak berhenti pada berpikir dan berbicara, tetapi melangkah lebih jauh, ikut menentukan.