Berkunjung ke Pesantren-Sekolah Alam Nurul Furqon atau yang lebih dikenal dengan Planet NUFO, Mlagen, Pamotan, Rembang, kita akan melihat sebuah kawasan yang cukup luas. Kesan sangat luas karena mungkin juga disebabkan oleh tidak ada pagar yang menghalangi pandangan dari sisi mana pun kita melihatnya. Apakah itu sebuah kebetulan, atau memang menjadi simbol dari maksud-maksud tertentu?
Untuk mengetahui lebih detil, mari kita simak wawancara dengan pengasuh Planet NUFO, Dr. Mohammad Nasih, M.Si. atau yang akrab disapa oleh para santri dengan Abah Nasih atau Abana:
Planetnufo.com: “Abah Nasih, Planet NUFO makin luas saja saya lihat. Dan fasilitas huniannya nampaknya bertambah terus ya?”
Abana: “Alhamdulillah, sedikit demi sedikit, lahan bertambah. Dari yang awalnya hanya tanah saya, 1500 meter persegi, tak lama kemudian ditambah lahan almarhumah ibu saya hampir 2000 meter persegi, karena pada tahun kedua, santri makin bertambah dan membutuhkan fasilitas-fasilitas baru. Menjelang tahun ketiga, istri saya memberikan tanah 2500 meter persegi yang sekarang ada 5 lokal gedung untuk ruang sekolah, kamar mandi umum yang ada 24 kamar toiletnya, dan 9 rumah alam untuk bilik-bilik santri. Lalu, ditambah lagi hibah dari seorang teman saya tanah seluas 2000an meter persegi. Dan tanah saya lagi yang sekarang sedang dibangun replika ka’bah seluas 2500an meter persegi. Tak terasa sudah lebih dari 1 hektar kawasan NUFO. Masih ada lagi tanah milik saya dan hibah dari teman saya, hampir 1 hektar juga yang kini sedang proses akan dibangun kandang untuk peternakan domba, sapi, dan puyuh. Semoga bisa nambah terus sampai hari kiamat. Aamiin.”
Planetnufo.com: “Biasanya lembaga pendidikan itu kan dibatasi dengan pagar. Agar lingkungannya aman. Tapi kenapa ini bisa dikatakan tidak ada pagarnya sama sekali? Apakah tidak khawatir ada orang-orang yang berniat jahat menembus masuk ke dalam?”
Abana: “Pikiran begitu kadang muncul juga. Namun, kami membolak-balik pikiran. Diberi pagar atau tidak diberi pagar, keduanya memiliki nilai plus dan minus. Plusnya ya itu tadi, sekedar merasa aman dari orang luar yang ingin masuk tadi. Namun, nilai negatifnya justru lebih banyak. Kalau ada pagarnya, saya khawatir anak-anak merasa bahwa mereka sedang dipenjara. Dan ini nyata terjadi di mana-mana. Sampai-sampai pesantren sering disebut juga dengan “penjara suci”. Padahal saya membangun Planet NUFO ini dengan maksud agar mereka tetap merasa bebas dan bisa melakukan banyak hal. Sebab, kerangka berpikir itu mempengaruhi jiwa mereka untuk belajar tanpa paksaan. Dengan jiwa yang merdeka, kami, para guru tidak perlu lagi mengejar-ngejar mereka untuk belajar. Kalau memang mereka betah di sini, mereka akan merasa senang. Kalau tidak senang, mereka akan pulang tanpa halangan, karena tidak ada pagar yang menghalangi mereka untuk kabur. Selain itu, Planet NUFO ini sejak awal memang saya disain berbeda. Paradigma yang saya tekankan adalah keterbukaan. Tidak tersekat oleh madzhab apa pun, baik teologi maupun apalagi fikih, dan perbedaan afiliasi ormas. Itu kami anggap ketinggalan zaman. Nah, kalau kami menutup diri dengan pagar, maka akan ada alasan bagi orang-orang tertentu yang berpenyakit hati untuk menuduh kami yang tidak-tidak. Tapi kalau terbuka begini kan tidak ada alasan lagi. Walaupun isu ini itu tetap ada, tapi orang yang pikirannya lurus, tidak akan percaya. Semua yang ingin tahu tentang apa yang kami lakukan di sini, bisa langsung melihat dan bahkan ikut bergabung. Kalau mau tahu shalat shubuhnya pakai qunut atau tidak, silakan ikut shalat jama’ah shubuh. Nanti akan tahu bahwa kadang ya pakai qunut, kadang tidak juga. Tergantung siapa yang jadi imam. Kalau imamnya saya, tidak pakai qunut. Kalau imamnya Ustadz Suud yang mantan Katib Syuriyah NU Cina, ya kadang pakai qunut. Dan santri kecil di Planet NUFO pun sudah biasa dengan itu.
Planetnufo.com: “Memang santri di Planet NUFO ini berasal dari seluruh golongan ya?”
Abana: “Iya. Yang penting Islam. Mau ormas dan orpol apa pun, tidak jadi masalah. Muhammadiyah, NU, Persis, Nahdlatul Wathan ada. Segala parpol juga ada. Banyak anak teman-teman saya yang berbeda parpol dengan saya dimasukkan di sini. Karena kami memang sudah melampui soal itu. Makanya di Planet NUFO ada berbagai organisasi pelajar sesuai latar belakang keluarga santri-murid. Ada IPM, IPNU, PII, dan juga HPI (Himpunan Pelajar Islam). Namun, mereka sudah sangat terbiasa dengan perbedaan itu dan kemudian membangun sinergi. Tidak ada konflik sama sekali. Konflik karena perbedaan yang begini, kami doktrinkan sebagai milik orang-orang picik yang disebabkan oleh sikap fanatik. Bahkan di sini ada juga yang Syi’ah. Anak teman saya dari Depok. Kalau teman saya yang Syi’ah itu memondokkan anaknya di sini, itu bukti makin kuat bagi saya, bahwa Syi’ah adalah bagian dari firqah Islam. Kalau dia bukan Islam, tentu tidak akan mau memondokkan anaknya di sini. Kan di sini diajari ajaran Islam. Yang suka menyalah-nyalahkan kelompok lain itu orang yang tidak sadar telah menjadi alat musuh-musuh Islam untuk memperlemah umat Islam sendiri.”
Planetnufo.com: “Sebenarnya apa target tujuan membuat disain pesantren dan sekolah yang seperti ini?”
Abana: “Target tujuan kami sederhana sekali. Umat Islam ini banyak, dan akan makin banyak. Namun, saat ini, hanya sekedar banyak jumlahnya saja. Dari segi kuantitas menang, tetapi kalah kualitas. Sudah begitu, sukanya berkonflik antar sesama muslim sendiri. Masing-masing kelompok merasa benar. Kalau mendamaiakan orang-orang tua kan susah. Mereka sudah memiliki cara berpikir membantu dan bahkan kepentingan masing-masing. Nah, kami ingin agar cara berpikir berkolaborasi dan bersinergi itu ditanamkan sejak dini kepada para santri. Dengan demikian, mungkin 20 atau 30 tahun yang akan datang, sudah akan ada generasi pengganti yang berpikiran terbuka, sehingga bisa memberikan kontribusi yang jauh lebih besar, karena kesadaran sinergi mereka.”
Planetnufo.com: “Dengan melakukan sesuatu yang melawan arus ini, apakah tidak khawatir diomongin, dibenci, dan akibatnya tidak mendapatkan dukungan banyak orang?”
Abana: “Selama kita hidup di dunia, yang namanya orang menganggap negatif, tidak suka, memusuhi, pasti akan ada saja. Nabi yang jelas-jelas benar dan baik saja banyak yang memusuhi. Apalagi manusia level kita. Ya pasti ada. Saya selalu menanamkan kepada para guru di Planet NUFO, bahwa gerakan kami memang bisa dikatakan melawan arus. Karena itu, harus siap dengan segala konsekuensinya. Di antaranya ya tidak mendapatkan dukungan dari masyarakat pada umumnya. Tapi memang Planet NUFO ini tidak pernah berharap dukungan apa pun dari siapa pun. Pendanaan misalnya, kami tidak pernah minta sumbangan kepada siapa pun. Istri dan teman-teman saya yang membantu itu tidak pernah saya minta. Mereka yang membantu saya di sini, membantu karena sudah mengenal saya sejak lama. Sejak bersama-sama menjalani kehidupan sebagai aktivis, mengenal saya dari dekat, bahkan tahu bagaimana saya tidur di tempat-tempat kaderisasi. Tidur beralas tikar, makan nasi bungkus dengan lauk tahu tempe, kadang ada telur rebus.
Santri-santri di sini kan mayoritas anak-anak teman-teman saya sesama aktivis. Maka mereka berasal dari jauh-jauh. Ada dari Solok Sumatera Barat, Jakarta, Bekasi, Bogor, Sulawesi, Nusa Tenggara; hanya Papua saja yang belum ada. Mungkin tahun ajaran baru ini ada, karena sudah ada seorang kepala suku yang kontak saya akan kirim kader. Kalau in put santrinya saja beragam begini, kan saya nggak mungkin menyeragamkan mereka. Saya harus memfasilitasi mereka dengan potensi yang sudah mereka memiliki, agar bisa berkembang, sehingga mereka bisa menjadi pejuang-pejuang yang andal di mana pun mereka nanti berada.” *** (AH)