Oleh: Putri Mahira S.,
Sekretaris Lembaga Pers Siswa (LPS) SMP Alam Planet Nufo, Siswi Kelas VIII SMP Alam Nurul Furqon Mlagen Rembang.
Minggu pagi, awan kelabu menggantung di langit yang membuat mentari tak mampu menyinari bumi dengan cahaya hangatnya. Aku menarik beberapa helai rambut panjangku yang memang sengaja ku urai. Rambut yang berada di wajah itu sungguh menggangguku. Apakah aku harus memotongnya?
Setelah masalah rambutku beres, kembali kubawa mataku untuk melihat ke bawah. Terlihatlah anak-anak kecil yang tengah bermain bersama. Jelas sekali mereka senang dengan hari libur ini. Namun sayang, itu sepertinya belum bisa kulakukan mengingat diriku yang kini hanya duduk sendirian di bawah pohon trembesi dan bersedih karena kembali mengingat momen ketika aku pertama kali bertemu dengan seseorang di taman bermain ini.
Saat itu aku dan orang itu masih terlalu kecil untuk mengenal suatu kata bernama ‘cinta’. Hal yang sayangnya membuatku salah paham akan rasa yang kerap hadir di dalam dada kala kubertemu dengannya. Malah sepertinya, orang itu bahkan hanya peduli dengan perasaannya, mengingat bahwa orang itu mendapat teman sekaligus keluarga baru(?).
Ia mungkin tak tahu bahwa aku masih mengingat segala detail pertemuan pertama kami. Dimulai ketika sosok kecilnya menangis karena tak dapat menemukan keberadaan orangtuanya, aku sudah ada di sana, melihat semuanya dalam diam sebelum kumulai ikut menangis di ayunan. Ia saat itu sepertinya mendengarku dan kepalanya menengok ke ayunan.
Ia dapat melihatku dari tempatnya berada, dengan matanya yang masih kabur akibat air mata yang baru saja dikeluarkan. Sosok kecilnya itu melangkahkan kaki, mencoba mendekatiku. Yah.. meski awalnya ia terlihat ragu-ragu, tapi ia tetap melanjutkannya.
Melihatku tepat di mata, tangan kecilnya terangkat dan mengusap-usap kepalaku bermaksud menenangkan. Aku yang saat itu sudah mengerti bahwa seharusnya dialah yang lebih membutuhkan hal seperti itu, membuat hatiku terasa sakit. Hal yang tak pernah kurasakan untuk orang lain sebelumnya.
Aku tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Namun saat melihatnya, aku merasa bagian dadaku sakit yang malah membuat tangisku semakin menjadi-jadi. Kala itu, ia semakin kelimpungan dibuatku. Namun, tatapan matanya yang khawatir akan kondisiku entah mengapa malah membuat salah satu sudut kecil hatiku tersentuh.
Tak lama orangtuaku yang tadinya sedang pergi untuk membelikanku es krim kembali. Mereka memang berdiri agak jauh dari ayunan, lebih tepatnya di gerbang taman tapi masih bisa melihat dengan jelas. Melihatku yang menangis sambil terduduk di ayunan dan anak laki-laki yang hanya berdiri di depanku dalam diam membuat keduanya menolehkan kepala bersamaan, satu sama lain.
Apakah anak itu yang membuat Clara menangis?
Kedua orangtuaku mendekatiku dan dia—yang saat itu masih belum kuketahui namanya. Ia awalnya tidak menyadari hal itu. Namun, mendengar langkah kaki yang mendekat membuatnya mendongak ke atas. Raut terkejut terpampang jelas di wajahnya.
“Maaf bu, pak. Apakah ibu dan bapak ini orangtua si gadis kecil?” tanya anak laki-laki itu sopan.
Aku yang saat itu masih menangis segera menghentikan tangisku, dan memasang senyum yang selalu kusunggingkan. Kudongakan kepala, melihat kedua orangtuaku. “Ayah, Ibu. Kalian sudah kembali.”
Eh, apakah kalian sedikit terkejut melihat sikapku yang tiba-tiba saja sudah berubah? Maafkan aku. Aku sepertinya belum memberitahu keadaanku kepada kalian, ya?
Aku sudah sering mengalami hal seperti ini. Bukan apa, hanya saja aku yang entah mengapa merasa orang-orang di sekitarku akan merasa bahagia jika mereka melihatku senang membuatku selalu bertingkah riang di depan orang-orang. Namun, itu bukan berarti aku akan selalu kuat menahannya.
Kadang ketika tidak ada orang-orang di sekitarku, aku akan menangis untuk meluapkan kesedihan yang selalu kutahan. Namun saat pertemuan pertamaku dengannya di taman bemain ini, entah mengapa topengku hancur kala melihat matanya berlinang air mata. Aku tak mengerti dengan keadaanku sendiri. Biasanya aku tidak akan sampai seperti ini, apalagi dengannya yang saat itu hanya seorang asing.
Setelah itu orangtuaku menanyakan hal yang sebenarnya terjadi. Aku mencoba menjawabnya dengan lugas, meski sedikit kuberi bumbu-bumbu kebohongan di dalamnya. Aku tak bisa menyatakan segala rahasia yang telah kusimpan, bukan? Lagipula, ibu dan ayah terlihat memercayainya dan tidak bertanya lebih lanjut. Bahkan mereka mengajak anak laki-laki yang berhasil menghancurkan topengku ini untuk ikut pulang ke rumah.
Sampai suatu hari saat umurku sudah menginjak sembilan tahun, aku tahu bahwa anak laki-laki itu ternyata telah ‘dilupakan’ oleh keluarga kandungnya. Saat pertama kali mendengarnya, aku tak bisa tidak terkejut. Setelah itu aku berusaha bersikap biasa saja di hadapannya—meskipun sulit—seakan tak pernah mengetahui apapun dan itu… sepertinya berhasil.
Namun, kejadian di taman bermain ini sudah dua belas tahun berlalu. Aku kini sudah tumbuh menjadi gadis remaja berusia tujuh belas tahun dan selama itu pula aku menahan gejolak rasa yang tersimpan. Sifatku yang moodswing itu juga sudah sedikit menghilang, meski belum sepenuhnya. Namun jujur saja, rasa yang kusmpan untuknya tetap ada dan bukannya menghilng malah semakin besar. Kamu tidak akan mengerti, saudaraku.
Haha… benar, itu seperti yang kalian pikirkan. Anak laki-laki yang kini telah menjadi pria dewasa itu telah menjadi saudaraku, lebih tepatnya saudara tiriku. Apakah kalian bisa membayangkan menjadi aku?
Aku terlahir sebagai anak tunggal dikarenakan rahim ibuku yang sayangnya harus diangkat karena terkena kanker serviks (leher rahim) yang saat itu sudah masuk stadium tiga. Lagipula dulu aku tidak mengenal rasa yang bersarang di hati ini, membuatku menerimanya dengan lapang dada. Jujur saja, aku kadang masih terkejut mendapati diriku yang dengan lapang dada menerimanya di rumah. Padahal aku tahu, aku tak pernah mengharapkan seorang berstatus ‘saudara’.
“Clara!”
Mendengar namaku dipanggil membuatku tersadar dari lamunanku. Tanpa membalikan badan, akupun sudah dapat mengetahui siapa pemilik suara itu. Seseorang yang menjadi alasan tidurku tak pernah tenang.
Ialah Alvan Melviano, seseorang yang telah menyandang status sebagai kakak tiriku selama sepuluh tahun terakhir ini. Yang sayangnya juga telah menjadi tunangan sahabatku sendiri selama dua tahun. Membuatku mau tak mau harus berusaha merelakan dirinya ini.
“Ada kau mencariku?”
Diriku bangkit dari tempatnya duduk, berjalan menuruni bukit ke arah Alvan, dan berhenti dalam jarak satu meter. Tinggiku yang hanya sepundaknya mewajibkanku untuk mengangkat kepala demi bertemu dengan sorot mata yang teduh itu. Sorot mata yang selalu membuatku kacau.
Matanya menyusuri seluruh tubuhku, membuatku agak risih. Ini bukan perlakuan pertamanya untukku, tapi aku masih dibuat mengharap olehnya. Padahal, aku tahu bahwa rasa yang telah kupendam selama ini itu salah.
“Kau masih bertanya hal itu setelah langsung pergi dari kediaman begitu sampai?” Alvan terlihat marah saat mengatakan hal itu, membuatku merasa lucu. Kenapa ia harus menunjukan rasa pedulinya padaku? Apakah ia tidak tahu bahwa setiap dia seperti ini, membuatku berharap lebih?
Enggak, Ra. Alvan gak tau dan gak boleh pernah tau tentang perasaan kamu ke dia.
Aku tersenyum tipis hingga saking tipisnya, ia tak meyadari hal itu. Dengarlah, lagi-lagi karena dirinya jantungku harus bekerja lebih keras. Betapa menyulitkannya perasaan ini.
“Terus kenapa kalau aku pergi?” Aku menatapnya datar. Itu sudah menjadi kebiasaanku sejak aku menyadari perasaanku terhadapnya.
Alvan menatapku tak berkedip sebelum menghembuskan napas kasar. Tangannya terangkat ke atas, menyugar rambutnya. Wajahnya terlihat frustasi, membuatku bingung—tentu saja aku tak membiarkan ekspresi itu tergambar jelas di wajahku.
Ada apa sebenarnya?
Tiba-tiba Alvan menarik tanganku, pergi ke arah mobilnya. Aku terkejut dan sontak saja ku mencoba pergi darinya. Namun sayang, kekuatanku tak sebanding dengannya. Aku sedikit menyesalinya, pergelangan tanganku sakit. Aku harap itu tidak lebam.
“Duh!” Dahiku terantuk punggung keras milik Alvan. Ku elus pelan dahiku, merutuk di dalam hati. Tanganku sudah terlepas begitu sampai. Meski jujur, aku merasa sedikit senang karena tanganku sempat digenggam olehnya. Hal yang kuhindari selama bertahun-tahun.
Mati-matian aku menahan segala tentang diriku untuk tetap datar, biasa. Aku tidak bisa membiarkan perasaan ini muncul kepermukaan. Bisa gawat nanti.
Alvan membalikan badannya menghadapku, menatapku tepat di mata. Tatapannya yang tajam seakan ingin membedah tubuhku, membuatku merasa sedikit takut. Ada apa dengan dirinya?
“Clara Alviria Mahendra, jangan menguji kesabaranku!” Dapat kulihat garis wajah Alvan mengeras kala mengatakan hal itu.
Untuk beberapa saat, aku tertegun. Astaga, apakah aku membuatnya marah? Tapi, karena apa?
“Aku, menguji kesabaranmu?” Kutunjuk diriku kala mengatakan itu. “Memangnya aku melakukan apa hingga seorang Alvan Melviano yang selalu berkepala dingin menjadi seperti ini?” Kutunjuk dirinya dengan angkuh, “Apa yang kulakukan, Kak Al?”
Mataku dengan jelas melihat raut wajah Alvan yang berubah. Bukan lagi amarah yang kulihat di wajah tampannya itu, melainkan raut sedih yang tak kumengerti alasannya. Sial, aku merasa gugup kali ini. Aku tahu jika Alvan selalu memakai emosi yang jarang ditujukannya itu dengan apapun yang bersangkutan denganku—entahlah, jangan menanyakan alasannya. Aku tak punya keberanian untuk itu.
Dalam beberapa saat keheningan yang menemani kami, aku baru menyadari bahwa wajah Alvan menujukan keletihan. Ingin kubertanya tentang apa yang telah terjadi hingga membuat wajhnya menunjukan keletihan. Namun, aku tahu batasanku. Telah lebih dari lima tahun aku mempertahankan sikap datar dan dinginku, tak mungkin aku membiarkannya runtuh hanya karena perihal rasa letih.
“Ah sudahlah,” Alvan yang memulai ia juga yang mengakhiri. Dirinya menghembuskan napas, pertanda bahwa dirinya tak ingin melanjutkan pembicaraan yang tadi, “sebaiknya kita segera masuk mobil.” Alvan masuk ke mobil yang sudah ia buka. Sedangkan aku hanya dapat tertegun, mencoba memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi di sini.
Karena diriku yang terlalu lama di luar, Alvan merasa gemas. Dengan segera dirinya keluar hanya untuk membukakan pintu mobil, mendudukanku di sampingnya, dan memasangiku seatbelt sebelum dirirnya. Aku? Aku hanya dapat terdiam mendapat perlakuan—manis—itu darinya.
Alvan menyalakan dan menjalankan mobil. Sedang aku masih berada di dalam lamunanku seraya berpikir, “Apa yang sebenarnya terjadi? Ada apa dengan Alvan?”
Setelah beberapa saat, Alvan yang merasa bahwa keadaan menjadi begitu canggung berusaha memulai pembicaraan meski terdengar kaku. Biasanya selalu ada Alin yang berbicara di dalam mobil, sedang ia hanya mendengarkan dengan penuh perhatian. Namun begitu menyangkut Clara, ia tak bisa mengatakan apa-apa.
“Clara, may I ask you something?”
“Hmm,” Kutolehkan kepala, melihat lurus ke arahnya yang sedang menyetir. “I`m all ears.” Aku sedang berselancar media sosial ketika mengatakan itu.
Alvan menarik napas sebelum mulai berbicara. “Ini tentang hal yang kamu lakukan dua tahun lalu.”
Begitu Alvan selesai berbicara, aku terkejut. Mengapa ia bertanya tentang hal itu? Bukankah aku sudah pernah memberikan alasannya?
“Memangnya aku melakukan apa?” Aku berpura-pura tak mengetahui apa yang sebenarnya ia katakan.
“Kau tak mengerti, eh?” Alvan masih fokus menyetir, tapi nada suaranya berubah dingin. Aku agak merasa aneh ketika mendengarnya, padahal sebenarnya aku sudah sering. Karena, asal kalian tahu saja Clara dan Alvan lama telah menghilang.
. “Aku berbicara tentang tindakan yag kamu lakukan dua tahun lalu,” Alvan memberhentikan mobilnya di sisi jalan. Ia melihat lurus ke arahku ketika melanjutkan kalimatnya. “tentang kamu yang langsung pergi setelah seminggu pertunanganku dengan Alin. ”
Kalimat yang baru saja terlontar itu sukses membuatku membeku di tempat. Bersusah payah kukendalikan diriku. “Untuk apa kau bertanya hal itu?” Aku balas menatapnya seraya menaikan satu alisku. “Bukankah aku sudah pernah mengatakan alasanku melakukannya?”
Alvan terlihat tak terima dengan apa yang kukatakan, membuatku semakin bingung. Apa yang sebenarnya ia inginkan dariku? Tak mungkin ia mengetahui kebohonganku, bukan?
“Maksudmu tentang kamu yang bilang kalau kamu hanya ingin menemani Oma di Jerman sana? Like I will trust it, eh? ” Alvan mendekatkan dirinya kepadaku dan berbisik, “You know, you can`t even lie to me.”
I lost the words.
Aku terpaku di tempatku duduk. Ia tak mengetahuinya, bukan? Ia tak mengetahu-
“Aku tahu kamu ke sana bukan untuk menemani Oma yang sendirian, Clara.” Alvan menarik dirinya. “Kamu ke sana untuk menemui Albert, bukan? Teman masa kecilmu itu?” Nada bicaranya terdengar santai. Tidak sedingin tadi.
Aku menghembuskan napas lega setelah terlepas dari keterkejutanku lantas tertawa kaku—hal yang sebenarnya tak ingin kulakukan di hadapannya. “Haha… Kak Al benar. Aku melakukannya karena Albert.” Aku menepuk lengannya pelan sebelum menariknya. “Kakak menangkapku.”
Dapat kutangkap ekspresi puas di wajahnya, membuatku bernapas pelan. Hampir saja aku terkena serangan jantung. Thanks, God…
***
Aku dan Alvan sudah sampai di depan pintu rumah. Ketika kami keluar, Alvan melemparkan kunci mobil kepada seorang pekerja yang dengan sigap menangkapnya. Aku hanya menatap adegan itu datar.
Ck, betapa dirinya bisa begitu bebas di rumah ini. Membuatku iri saja. Aku mengerjapkan mata kala menyadari hal yang kukatakan. Apa-apaan aku ini…
Alvan menggandeng tanganku, membawaku masuk ke rumah. Dirinya tidak tahu saja bahwa, perlakuannya padaku acap kali membuatku melambungkan harapan. Yahh… aku tahu sih, kalau harapanku itu tak mungkin.
Kami telah sampai di ruang keluarga. Dapat kulihat para anggota keluarga yang sudah ada di sana—juga banyaknya wajah baruyag dapat kulihat. Ruangan yang memiliki harum cendana, membuatku terkenang masa lalu. Masih sama, tak banyak yang berubah.
Di antara sekumpulan manusia itu, seorang wanita paruh baya bangkit. Ia menghampiriku dan memelukku begitu erat hingga rasanya aku bisa kehabisan napas hanya dengan pelukan itu. Namun tak diayal, aku pun juga balas memeluknya lantas menghirup harum tubuhnya yang sama dengan harum ruangan itu.
Benar, ia adalah bundaku. Bunda kandungku. Seseorang yang begitu kusayangi setelah Tuhan. Seseorang yang juga mengetahui rahasia perasaanku.
Bunda mengurai pelukannya. Setelah terlepas, baru dapat kusadari helai-helai rambutnya yang sudah berwarna abu-abu. Ah akau merasa menyesal. Mengapa akua tak pernah menghubungi ke sini? Time flies, right?
“Halo, Bund. Bagaimana keadaan Bunda? Baik, `kan?” Aku bertanya dengan nada lembut. Hal yang hanya kulakukan kepada dua orang saja di kehidupanku, Bunda dan Oma. Untuk yang lain, aku sudah tak menggunakan nada itu di depan mereka. Bahkan kepada Alin, Alvan, Ayah, dan Grandpa.
Bunda tersenyum. Sebuah senyuman yang masih sama seperti senyuman yang kutinggalkan dua tahun lalu. Senyuman yang membuatku merasa bahwa keberadaanku masih diterima di kediaman ini.
“Bunda baik-baik aja, kok. Harusnya Bunda yang tanya sama kamu. Keadaan Yaya gimana di sana? Terus keadaan Ibu juga, beliau masih sehat `kan?”
Sebagai jawaban, aku hanya mengangguk. Masih terkejut dengan panggilan yang digunakan oleh Bundaku ini. Panggilan yang tak pernah ingin kudengar lagi.
Bunda sepertinya menyadari sikapku yang berubah. Buktinya Bunda langsung mengalihkan pembicaraan, mengajak anggota keluarga yang lain untuk makan malam. Aku mengalihkan perhatian ke jam antik yang selalu bertengger di sudut ruangan itu. Sudah pukul 18.55 WIB, eh?
***
Sesampainya di ruang makan, aku langsung mengambil tempatku yang berada di samping Bunda. Tepat ketika itu pula seluruh anggota keluarga—kecuali Bunda dan Alvan—menatapku seakan aku melakukan sebuah pelanggaran. Aku yang memang pada dasarnya adalah orang tak pedulian, hanya membalas tatapan mereka dengan tatapan dingin nan datar andalanku.
Karena ayah sedang tidak di rumah, Bunda pun mengambil alih posisi sebagai penengah menepuk tangannya. “Sudah, sudah. Kenapa kalian berdiri seperti patung di sana?”
Bunda menunjuk jam yang bertengger di dinding ruangan itu.“Bukankah sebaiknya kita segera makan malam, kita sudah telat. ”
Beberapa dari anggota keluarga dengan terang-terangan menunjukan keberatan mereka. Membuatku heran, apa yang sebenarnya sedang terjadi di sini? Apakah aku melakukan kesalahan? Jika iya, maka apa itu?
Bunda tersenyum lembut, membalas tatapan mereka dengan mengatakan,“Jika kalian merasa keberatan dengan tempat yang dipilih oleh Clara, katakan saja.” Senyum lembut yang terpasang di wajah Bunda tergantikan oleh wajah datar yang kukenali. “Toh, meski kalian mengatakanya sekalipun tempat duduk putrikutak akan berubah. Karena sejak awal sampai kapanpun, itu akan selalu menjadi tempatnya,” final Bunda.
Usai mengatakan itu, perhatiannya teralih ke arahku. “Sweatheart, y`llright?” Aku hanya menganggukan kepala karena masih berusaha mencerna kata-kata yang Bunda lontarkan sebelumnya.
Tak butuh waktu lama, aku tiba di akhir kesimpulanku. So seseorang telah mengambil tempat di samping Bunda selama aku perg, huh? Siapa orang yang sangat berani itu?
Baru saja aku memikirkan hal itu, terdengar langkah laki menuju ruangan ini—omong-omong ruangan ini hening karena orang-orang yang di dalamnya sibuk dengan pikiran mereka sendiri dan belum menyentuh makanan milik masing-masing. Sosok pemilik langkah kaki itu muncul di ambang pintu ruang makan. Sosok yang membuatku terkejut.
T.B.C