Oleh: Dr, Mohammad Nasih, M.Si.

Pengasuh Pesantren-Sekolah Alam Planet NUFO Mlagen Rembang, Guru Utama di Rumah Perkaderan-Tahfidh al-Qur’an Monasmuda Institute Semarang, Pengajar di FISIP UMJ

Islam adalah agama yang sangat rasional dan sekaligus juga realistis. Al-Qur’an yang menjadi sumber utama Islam, berisi tentang ketetapan, informasi, dan konfirmasi yang jika ketiganya dipahami secara ilmiah, bahkan akan mengantarkan kepada kekaguman yang akan menambah iman bahwa al-Qur’an memang benar-benar berasal dari Allah Swt.. Tak mungkin berasal dari Nabi Muhammad saw. dengan bantuan siapa pun makhluk di dunia ini. Nabi Muhammad tidak kurang dan tidak lebih hanyalah penyampai pesan dari Allah Swt.. Sebab, tak mungkin isi al-Qur’an yang sebagiannya membicarakan sesuatu yang ghaib bisa diketahui oleh manusia yang bukan berderajat nabi atau rasul.

Nabi Muhammad sebagai pelaku pertama dan utama ajaran di dalam al-Qur’an menjadi uswah hasanah. Beliau memberikan teladan terbaik untuk kehidupan yang realistis, sehingga bisa dijalankan dengan mudah oleh seluruh umatnya. Islam menjadi penyempurna ajaran-ajaran yang telah disampaikan oleh para rasul sebelum Nabi Muhammad dengan cara:

Pertama, menghapus yang terlalu memberatkan dan berpotensi besar membuat kebanyakan orang tidak mampu melakukannya. Puasa misalnya, yang oleh umat sebelumnya dan di masa awal pewajibannya, harus dijalankan dalam waktu nyaris 24 jam, kemudian diubah hanya dalam belasan jam saja. Sebelumnya, malam hari pun mereka puasa. Setelah berbuka dan (ter)tidur, mulai dari waktu itulah puasa dimulai, dan baru boleh berbuka pada waktu yang sama pada hari berikutnya. Faktanya, puasa ini telah menyebabkan banyak orang, baik kalangan awam maupun kalangan elit sahabat mengalami kegagalan. Karena itulah Allah kemudian memberikan keringanan dan menghilangkan kesukaran dengan cara menaskh al-Baqarah: 183-184 dan menggantinya dengan al-Baqarah: 185-86 dan 187.

Kedua, menambahkan ajaran yang sebelumnya tidak ada dengan memberikan ruang kepada sesuatu yang dianggap baik oleh masyarakat. Tambahan ini konteksnya juga untuk meringankan, karena ada kebiasaan masyarakat yang sangat menyulitkan. Misalnya, diyat 100 ekor unta sebagai denda atas orang yang melakukan pembunuhan dengan kriteria yang telah disebutkan di dalam al-Qur’an dan juga Sunnah Nabi dengan tetap berprinsip bahwa pembunuhan adalah tindakan kejahatan sangat berat.

Ketiga, memberikan informasi dan konfirmasi tentang banyak hal yang belum ada dalam ajaran-ajaran agama sebelumnya. Informasi ini bisa berbentuk isyarat ilmiah dan prediksi tentang kejadian di masa depan. Ini tidak hanya disampaikan oleh al-Qur’an, tetapi juga nubuwwat yang disampaikan oleh Nabi Muhammad. Ada banyak sekali isyarat ilmiah yang ada di dalam al-Qur’an, di antaranya tentang utuhnya jasad Fir’aun (Yunus: 92), ada dua arus laut dengan perbedaan kerapatan (al-Furqan: 53 dan al-Rahman: 19), adanya serangga berukuran mikroskopis di atas kepala nyamuk (al-Baqarah: 26). Juga konfirmasi dan konfirmasi secara sekaligus tentang apa yang sesungguhnya terjadi pada Nabi Isa (Yesus) karena terdapat orang-orang yang menganggapnya telah disalib. Al-Qur’an menegaskan:

وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَٰكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ ۚ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ ۚ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ ۚ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا

dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. (An-Nisa’: 157)

إِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَىٰ إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا وَجَاعِلُ الَّذِينَ اتَّبَعُوكَ فَوْقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ ۖ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأَحْكُمُ بَيْنَكُمْ فِيمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

(Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah kembalimu, lalu Aku memutuskan diantaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya”. (Ali Imran: 55)

Dan definisi tentang wafat di dalam ayat ini dijelaskan dengan ayat lain:

اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا ۖ فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَىٰ عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَىٰ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir. (al-Zumar: 42)

Dari ayat-ayat ini, terkonfirmasi bahwa Nabi Isa tidak mati, melainkan hanya wafat dalam bentuk tidur panjang. Dan al-Qur’an juga memberikan informasi bahwa tidur panjang itu mungkin, sebagaimana terjadi pada ashhab al-kahfi yang bangun setelah tidur selama 309 tahun lamanya.

Semangat Islam untuk menjalankan ajaran Allah secara sederhana itu mestinya benar-benar ditangkap oleh umat Islam, lalu dijalankan dengan konsisten. Tidak perlu melakukan sesuatu yang memang tidak ada perintahnya, atau tidak ada semangat moral untuk menjalankannya, sehingga hanya buang-buang waktu, tenaga, pikitan, dan materi, padahal tidak ada implikasi apa pun di hadapan Allah. Jika pun melakukan sesuatu yang tidak ada contohnya dari Nabi Muhammad, itu haruslah hanya bersifat temporer karena kepentinggan ruang dan waktu saat tertentu. Setelah itu, harus ada upaya sungguh-sungguh untuk menyederhanakannya sebagaimana semangat Islam yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw.. Jangan sampai sesuatu yang sesungguhnya tidak substansi Islam, kemudian menjadi tradisi yang menyulitkan dan lebih dari itu mengaburkan ajaran Islam yang murni dan substansial.

Segenap sumber daya yang dimiliki umat Islam, harus segera dan selalu digunakan untuk melakukan kerja-kerja yang bisa membuktikan bahwa umat Islam adalah umat terbaik sebagaimana ditegaskan oleh al-Qur’an. Umat terbaik tentu saja tidak lain dan tidak bukan adalah umat yang bisa memberikan manfaat terbesar kepada seluruh umat manusia dan bahkan alam semesta. Dan untuk itu, yang harus dilakukan adalah kerja-kerja yang lebih produktif dengan bantuan sains dan teknologi tercanggih. Kerjasama dan sinergi antar sesama umat Islam harus dilakukan, untuk membuktikan kemampuan berkompetisi dalam kebaikan dengan umat yang lain dalam memberikan manfaat terbesar. Wallahu a’lam bi al-shawab.