Oleh: Dr. Mohammad Nasih, M.Si.
Pengajar di FISIP UMJ, Jakarta; Pengasuh Pesantren-Sekolah Alam Planet NUFO Rembang; Guru Utama di Rumah Perkaderan dan Tahfidh al-Qur’an Monasmuda Institute Semarang
Di antara yang pasti menjadi bagian dari takdir adalah dari rahim yang—dan di—mana seseorang dilahirkan. Ini adalah persoalan yang benar-benar adalah hak mutlak Allah Swt.. Jika ditawarkan terlebih dahulu, pasti pilihannya juga akan tetap beragam dan tidak ada jaminan tidak menyesali pilihan sendiri. Yang memilih lahir di kota, kemudian justru ingin dilahirkan di desa saja. Yang dilahirkan oleh orang tua pejabat, kemudian justru ingin dilahirkan oleh orang tua yang biasa-biasa saja. Atau sebaliknya.
Saya memang dilahirkan di sebuah desa yang waktu itu “belum ada dalam peta”. Di zaman sebelum ada googlemap, untuk sampai desa tempat kelahiran saya, dari Kota Rembang setidaknya harus bertanya tiga kali, untuk menghindari potensi salah arah. Mlagen adalah salah satu desa di Kabupaten Rembang yang ketika saya lahir belum ada listrik mengalir. Jalan desanya pun masih tanah yang walaupun telah dikeraskan dengan batu gamping, ketika hujan tetap saja sebagiannya becek.
Namun, saya sering merasa sangat beruntung, karena saya lahir dari dua orang tua yang memiliki tingkat literasi dengan kategori tertinggi. Minimal sangat tinggi. Bukan hanya di kampung saya, tetapi bisa saya pastikan juga di Indonesia. Tidak melebih-lebihkan. Iya, benar. Bisa dikalkulasi dengan sangat mudah.
Ibu dan bapak saya, keduanya adalah penghafal al-Qur’an. Tidak mungkin hafal kalau tidak memiliki kebiasaan membaca dan mengulang membaca al-Qur’an. Rutin. Ibu saya muraja’ah 10 juz per hari sampai meninggal. Tiga hari sekali khatam al-Qur’an. Kecuali saat beliau mestruasi. Hampir pasti. Karena al-Qur’an 30 juz cetakan Arab Saudi yang sering digunakan para penghafal al-Qur’an 604 halaman, berarti ibu membaca rata-rata min 200 halaman per hari. Jika satu hari saja tidak memenuhi target, maka kekurangannya akan menjadi “hutang bacaan” yang harus dibayar pada hari berikutnya.
Saya kurang tahu pasti, berapa juz yang bapak jadikan bacaan harian. Kata ibu, kadang 15 juz. Yang saya tahu, setelah memimpin shalat shubuh berjamaah di mushalla depan rumah, bapak duduk bersila di ruang shalat pribadinya dan membaca al-Qur’an sampai setelah shalat dluha. Setelah dhuhur muraja’ah lalu qaylulah. Juga setelah maghrib sampai isya’. Di kaca rumah bagian depan, ada tulisan “Tamu Setelah Isya’”. Jadi, kalau ditotal, waktu fix muraja’ah bapak tidak kurang dari tiga setengah jam. Bacaan penghafal al-Qur’an dalam 30 menit per juz adalah bacaan standard. Tidak cepat, juga tidak lambat. Sudah bisa tartil. Jangan bandingkan penghafal al-Qur’an dengan orang awam. Itu ibarat pembalap profesional dengan pemotor pemula. Yang pertama cepat dan selamat. Yang kedua, pelan pun tetap mengkhawatirkan. Dari hitungan ini, bapak muraja’ah minimal 7 juz per hari atau setara dengan min 140 halaman per hari.
Ibu sering “membanggakan diri” karena, katanya, bapak hafal al-Qur’an termotivasi olehnya. Ceritanya mungkin cukup bagus jika diangkat jadi sebuah novel. Ibu saya mondok di Pesantren al-Hidayat yang diasuh oleh Kiai Ma’shoem. Sejak awal mondok, dan menjadi santri paling kecil, Mbah Ma’shoem tidak memanggil nama aslinya, Chudzaifah, tetapi memanggilnya Hafidhah. Ibu saya cukup cantik. Kulitnya halus dan bersih. Tubuh tetap langsing sampai usia senjanya, bahkan sampai meninggal. Mungkin karena semua itulah, bapak tertarik kepada Ibu.
Namun, saat bapak menyampaikan keinginan untuk menikah dengan ibu, banyak orang, bahkan nenek saya bilang, tak mungkin menikah dengan ibu kalau tidak hafal al-Qur’an. Dan ternyata benar. Ketika bapak menyampaikan niat untuk menikah dengan ibu, ibu menolak dengan halus, dengan alasan akan menyelesaikan hafalan al-Qur’annya dulu. Mendengar jawaban itu, bapak menyatakan akan menunggu sembari kuliah dan juga menghafalkan al-Qur’an di Kudus. Setoran kepada Mbah Arwani.
Tak hanya itu, rumah tempat saya dilahirkan, juga menjadi tempat belajar ngaji anak-anak perempuan di kampung saya. Mushalla yang walaupun tak begitu besar, hanya cukup untuk shalat berjama’ah warga di lingkungan RT saya. Itu pun hanya sebagian kecil saja yang shalat berjama’ah. Umumnya perempuan. Biasanya setelah waktu shalat, santri usia SD datang ke rumah untuk belajar ngaji kepada Ibu. Hanya kalau Ibu sedang menstruasi, bapak menggantikan. Sejak lahir, saya hidup dalam riuh suara orang-orang membaca al-Qur’an dan juga permainan tradisional di depan rumah. Apalagi kalau sedang terang bulan. Bukankah itu keberuntungan besar?
Saya memang pernah juga mengaji di mushalla lain khusus untuk anak lelaki, karena di rumah hanya ada anak-anak perempuan. Tapi itu tidak lama. Saya dan ketiga saudara saya belajar membaca al-Qur’an di rumah. Awalnya, saya diajari oleh Bapak. Namun, bapak terlalu keras. Standard tajwid bapak terlalu ketat. Konon memang itu standard Mbah Arwani. Karena itu, saya pindah ke Ibu. Ibu lebih toleran dan sabar. Namun, setelah bacaan saya berangsur bagus, justru saya ingin kembali kepada bapak untuk belajar dengan standard yang sebelumnya pernah saya rasakan. Seolah itu jadi tantangan.
Karena bapak adalah sarjana, saya bisa bertanya tentang apa saja dan selalu mendapatkan jawaban yang masuk akal. Paling sering, bapak menjawab dengan referensi ayat al-Qur’an. Di antara yang masih saya ingat sampai hari ini adalah: “Kenapa Allah dipanggil dengan tanpa sapaan yang menunjukkan penghormatan?”. Pertanyaan saya ini karena saya orang Jawa, yang memanggil tukang sapu saja dengan “mas”. Waktu itu, Bapak menjelaskan bahwa al pada kata Allah itu adalah juga al jalalah. Jadi tidak perlu dipanggil dengan “gusti Allah” seperti orang Jawa, yang kadang juga menyapa dengan “gusti pengeran”.
Pertanyaan itu adalah bagian dari perkembangan konsepsi tentang Tuhan yang saya miliki. Konsepsi paling awal tentang Tuhan yang ada dalam imajinasi saya sampai saat ini masih saya ingat. Tuhan saya bayangkan seorang perempuan berwajah bersih dengan mukena putih seperti ibu saya yang melayang-layang di atas gunung di Desa Panohan, Gunem. Sepertinya konsepsi itu muncul karena Allah adalah Yang Maha Melihat. Kalau melayang-layang di atas, tentu akan bisa melihat semuanya.
Imajinasi itu kemudian tidak begitu kuat. Konsepsi tentang Tuhan kemudian berubah lebih kepada Tuhan mana yang benar? Ini disebabkan oleh acara mimbar agama-agama di TVRI saat ini. Dari TVRI, saya tahu ada lima agama. Dan dari para penceramah di acara itu, ada berbagai macam konsepsi tentang tuhan yang berbeda-beda. Logika anak-kecil saya waktu itu sudah mengantarkan kepada simpulan bahwa tidak mungkin semuanya benar. Hanya satu saja yang benar. Saya belum punya pandangan tentang kemungkinan kedua bahwa bisa saja semuanya salah. Dalam asumsi saya pada saat itu, tuhan Islam adalah Allah. Sedangkan tuhan dalam agama-agama lain disebut dengan sebutan yang berbeda-beda. Namun, semuanya menyebut kata tuhan. Dalam pikiran anak kecil, saya belum mantap bahwa Islam adalah agama yang benar. Atau jangan-jangan agama lain yang benar. Karena itu, setiap berdoa, bahkan setelah shalat sekalipun, saya berdoa dengan menyebut “ya Tuhan”, bukan “ya Allah”. Kalau Islam salah, sebutan tuhan akan “menyelamatakan” saya, karena saya berdoa kepada Tuhan agama lain yang benar. Namanya saja anak kecil. Belum punya wawasan yang luas, yang tentu saja berpengaruh kepada logika juga. ***