Pesantren-Sekolah Alam Nurul Furqon, Mlagen, Pamotan, Rembang atau yang lebih dikenal dengan Planet NUFO menjadikan budidaya domba sebagai salah satu amal usaha andalan. Pasalnya, memelihara domba dianggap relatif tidak rumit. Bisa dibudidayakan dalam skala kecil maupun besar. Bisa dipelihara oleh santri remaja usia SMP yang merupakan penghuni terbanyak di Planet NUFO. Saat ini, jumlah domba yang dipelihara di NUFO Farm berjumlah ratusan. Dan berdasarkan pengalaman jatuh bangun dalam memelihara domba dalam tiga tahun terakhir, Planet NUFO makin mantap akan menjadikan budidaya domba sebagai salah satu usaha untuk terus mengembangkan Planet NUFO menjadi lembaga pendidikan yang berdikari, karena memiliki sumber penghasilan sendiri, tidak hanya mengandalkan dana dari orang tua santri-murid atau sumbangan pihak-pihak tertentu. Sebab, ada keuntungan ganda, bahkan multi, dalam memelihara domba.

Bagaimana perspektif tentang memelihara domba ini? Planetnufo.com mewawancarai Pendiri dan Pengasuh Planet NUFO, Dr. Mohammad Nasih, atau yang akrab disapa oleh santri-muridnya dengan Abah Nasih atau Abana.

Planetnufo.com: “Kenapa budidaya domba nampaknya menjadi salah satu usaha primadona Planet NUFO dibandingkan yang lain?”

Abana: “Sebenarnya tidak ada maksud untuk melakukan diskriminasi. Namun, keadaan di lapangan nampaknya membuat usaha budidaya domba ini menjadi lebih menonjol dibandingkan yang lain. Anak-anak lebih suka bergabung dengan usaha budidaya domba, dibandingkan sapi, kerbau, dan usaha-usaha yang lain. Kalau mengurus sapi dan kerbau kan berat. Memerlukan tidak hanya tenaga yang lebih besar, tetapi juga keberanian. Sedangkan usaha-usaha yang lain, memerlukan ketelatenan yang lebih. Budidaya maggot misalnya, harus memiliki kemampuan untuk menjaga siklusnya, sehingga tidak kekurangan bibit. Anak-anak belia belum bisa melakukan ini. Sedangkan domba, lebih sederhana. Hanya tinggal memberi makan dan minum secara rutin, lalu membersihkan kotorannya dalam waktu tertentu. Sesekali menggembalakan di lahan atau pinggir-pinggir jalan dekat Planet NUFO. Dan domba-domba itu, terutama yang anak-anak kan lucu-lucu juga. Santri perempuan pun bisa melakukannya.”.

Planetnufo.com: “Apa saja sebenarnya keuntungan yang didapatkan dari memelihara domba ini?”

Abana: “Keuntungan memelihara domba ini banyak. Setidaknya ada tiga keuntungan yang bisa didapatkan. Pertama, bisa mendapatkan keuntungan material. Seekor domba menghasilkan keuntungan sebesar Rp. 50.000,00 sampai Rp. 100.000,00 perbulan. Kalau seorang santri-murid mampu memelihara 5 ekor saja, maka dia sudah bisa menghasilkan Rp. 500.000,00 per bulan. Kedua, kotoran domba bisa digunakan untuk pupuk organik yang sangat diperlukan untuk menyuburkan tanah. Kami kan punya usaha budidaya sayur-mayur organik yang sangat memerlukan pupuk kandang dalam jumlah sangat besar. Sayur organik ini sangat kami perlukan untuk memastikan asupan makanan santri-murid di NUFO benar-benar sehat, tidak mengandung bahan kimia berbahaya. Kalau dari pasar, kita kan tidak tahu asal-usulnya. Ketiga, manfaat untuk membangun empati dan kemampuan kepemimpinan santri-murid. Dan semua ini sebenarnya diinspirasi oleh apa yang dilakukan oleh Rasulullah. Nabi Muhammad dan nabi-nabi yang lain adalah penggembala domba.”

Planetnufo.com: “Sumber pendanaan untuk budidaya ini dari mana, Bah?”

Abana: “Awalnya, budidaya domba ini menggunakan dana pribadi saya. Waktu itu saya membeli belasan domba, lalu ditambah 40-an domba betina. Setelah itu, ada beberapa orang tua santri ikut beli domba untuk anak-anak mereka. Ada juga seorang teman yang ingin investasi domba, karena memang hitungan di atas kertas sangat menjanjikan. Waktu itu, domba di kandang NUFO sampai lebih dari 300 ekor. Tapi tiba-tiba ada masalah. Tiba-tiba banyak domba yang “berengan”, dan cukup banyak yang harus tumbang di ujung pisau, karenanya. Setelah ditelisik penyebabnya, mereka makan konsentrat terlalu banyak. Tim dari IPB dan FKH Unair memberikan saran agar pakan domba minimal 70% berupa hijauan. Setelah kami jalankan saran dari kedua universitas tersebut, kambing kembali membaik. Dan sampai sekarang alhamdulillah makin bagus. Dombanya gemuk-gemuk.”

Planentnufo.com: “Berapa banyak domba yang akan dibudidayakan oleh Planet NUFO”.

Abana: “Ya sebanyak-banyaknya. Makin banyak makin baik. Menyesuaikan kemampuan SDM yang ada di sini. Mestinya, setiap santri bisa mengurus belasan sampai dua puluhan domba. Bahkan kalau sudah benar-benar mahir, bisa lebih dari itu. Dan kalau bisa benar-benar profesional, mestinya ya para ustadz bisa menjadi peternak dalam skala besar. Ya ribuan mestinya bisa.”

Planetnufo.com: “Wah, berarti pakan hijauannya akan makin banyak ya? Bagaimana memenuhinya?”

Abana: “Itu ada yang urus sendiri. Ada menejemen pakan yang ditangani oleh koordinator peternak domba, Ustadz Suud dan Ustadz Arif namanya. Mereka sudah mempersiapkan pakan itu dengan menanam rumput gajah, rumputh pak chong, dan rumput odot. Bahkan mereka juga menanam jagung dan sorgum yang kemudian disilase agar ketersediaan pakan benar-benar terjamin, cukup. Dengan ketersediaan pakan yang cukup, santri pemula tinggal memberikan pakan kepada domba-domba di kandang, dan sesekali mereka menggembala domba-domba yang jadi tanggung jawab mereka di sepanjang jalan dekat NUFO”.

Planetnufo.com: “Apa itu tidak menyita waktu belajar mereka?”

Abana: “Justru mengurus domba ini untuk membuat mereka berlatih untuk memanfaatkan waktu secara efektif dan efisien. Jangan sampai ada sedetik pun waktu yang mereka buang secara percuma. Anak-anak usia SMP ini kan belum bisa diajak berpikir optimal. Pikiran mereka belum sampai kalau kita ajak berpikir secara mendalam dan membangun visi yang abstrak, atau memahami materi-materi yang rumit. Jika ada, itu kasuistik saja. Umumnya, mereka baru pada tahap persiapan untuk menuju ke sana. Nah, sembari menunggu itu, mereka diberdayakan dengan mengurus domba-domba dengan panduan memenej waktu yang benar. Saya dulu juga melakukannya. Selain itu, mereka jadi memiliki empati yang tinggi, kemudian memiliki kemampuan memimpin dalam arti memandu peliharaan mereka untuk mendapatkan makanan yang cukup. Kalau mereka nanti menjadi pemimpin, mereka nanti akan mengarahkan rakyat mereka agar mendapatkan kesejahteraan hidup, sebagaimana mereka sekarang mengarahkan domba-domba gembalaan mereka ke tempat yang banyak rumputnya. Sembari menggembala, mereka masih bisa belajar dengan membaca buku-buku dan bersosialisasi dengan teman-teman mereka sesama penggembala domba. Inilah yang dilakukan oleh Rasulullah saat masih belia di perkampungan Bani Sa’d dan juga sebagai pekerjaan yang dilakukan. Dalam sebuah hadits, beliau menyatakan bahwa beliau menggembala domba milik penduduk Makkah dengan upah beberapa qirath. Nah, ini nilai ideologisnya, kenapa saya memilih dan selalu mendorong anak-anak mengurus dan menggembala domba. Karena para nabi pernah melakukannya.” (AH)