Pada zaman dahulu, ada seorang bapak-bapak penjelajah yang melihat layangan hitam yang sangat besar. Layangan itu menyebabkan tertutupnya sinar matahari sehingga tanaman-tanaman di pulau itu mati. Layangan tersebut juga memancarkan sinar radioaktif yang menyebabkan penduduk pulau itu mengalami ngakak sindrom.

Bapak-bapak itupun membantu penduduk pulau itu dengan cara bertarung melawan layangan besar itu. Ketika bapak-bapak itu melihat pengendalinya, bapak-bapak itupun kaget. Ternyata yang mengendalikan layangan itu adalah “ Al D Taher”, penyandang marga D.

Bapak-bapak itupun by one dengan rivalnya, setelah sekian lama bapak-bapak itu tidak bertarung. Pertarungan sengitpun terjadi, bapak-bapak itu memiliki speed dan power yang sangat besar, akan tetapi benang Al D Taher terlalu kuat. Lalu bapak-bapak itupun menggunakan kekuatan terakhirnya dengan menggunakan seluruh bulu di tubuhnya untuk dijadikan benang yang sangat kuat, akan tetapi mengorbankan seluruh tubuhnya atau dengan kata lain “m-a-t-i”.

Bapak-bapak itupun menyegel Al D Taher di Pulau itu, dengan bayaran kekuatan yang sangat besar. Warga-warga pulau itupun membantu bapak-bapak itu dengan memberikan seluruh kekuatan mereka. Bulu-bulu para wargapun menyatu dan menjadi benang yang sangat kuat, lalu layangan bapak-bapak itupun berubah menjadi layangan naga bonar dan berhasil menyegelnya. Bapak-bapak itupun berpesan: “jangan ada yang menyentuh penutup segelnya! Aku tidak cukup kuat untuk membunuhnya, aku hanya menyegelnya.” Dan pada akhirnya bapak-bapak itu meninggal. Nama bapak-bapak itu adalah “Ucok D Baba” dan orang-orang menyebutnya “Raja Layangan”.

Zaman sekarang sudah banyak yang bisa bermain layangan sebebasnya, karena Ucok D Baba yang menyegel Al D Taher di pulau ini. Pulau ini adalah “Laugh Tale” karena zaman dahulu di sini banyak yang memiliki ngakak sindrom. Pulau ini memiliki kemajuan teknologi yang sangat pesat.

Kemajuan teknologi di pulau ini sangatlah di luar Galaksi, contohnya saja ada jenis transportasi darat layangan roda 2, layangan roda 4, dan layangan roda ghoib. Tapi aku paling suka ketika mengendarai layangan benang ghoib yang bisa terbang dengan bebas seperti burung Garuda. Aku punya 9 layangan mewah yang sangat over power  dengan benang yang paling kuat di pulau ini.

Inilah aku, namaku “Pan D Wara”. Aku juga tidak tahu apa arti “D” di namaku ini. Aku seorang pemuda berusia 14 tahun yang masih sekolah menengah dan masih ganteng-gantengnya. Aku juga memiliki impian untuk menjadi seperti Ucok D Baba yaitu Raja Layangan.

***

Inilah awal mula kisahku. Aku menemukan lutung mengambang di lautan. Akupun memungutnya, tetapi anehnya lutung ini tidak memiliki ekor. Akupun bertanya-tanya kepada diriku sendiri, “Makhluk apa ini?” lalu aku membawanya pulang.

Setelah sekian lama akhirnya lutung itu sadar. Dia kaget dan berkata: “di mana aku?” lalu aku kaget juga karena lutung tersebut bisa bicara.

Lutung itupun memperkenalkan diri, “Namaku Dutung. Siapa namamu?” “Namaku Pan D Wara, kau bisa memanggilku Wara.” Lalu kami saling menceritakan masalah masing-masing. Curhatlah sudah.

Hingga kemudian Dutung kuajak ke tempat Al D Taher disegel. Dutungpun kaget karena layangan itu dijadikan transportasi di pulau ini. Lalu aku memberi tahu layangan adalah segalanya di sini.

Sesampainya di tempat tersegelnya Al D Taher, kami makan dulu di restoran paling laris di pulau ini. Nama restoran ini adalah “Kite Warteg”. Di restoran ini banyak sekali menu yang sangat enak seperti indomie gorengan layangan, kerupuk layangan, sosis layangan, dan banyak menu layangan lainnya.

Wara sangat sedih karena tempat bersejarah ini malah dibangun warteg di dalamnya. Dutung pun bertanya apa tujuanku ke sini. Lalu aku menjawab, “mencari air ketek Ucok D Baba yang legendaris”. Dutung pun kagum kepadaku dan ingin menjadi sepertiku.

Lalu kami menyusup ke dalam reruntuhan tempat tersegelnya Taher. Seperti ninja yang susulumputan. Dutung yang sangat pelontong tiba-tiba tanpa sadar membunuh salah satu penjaga. Wara pun kaget karena ternyata Dutung itu brutal.

Dutung tidak memiliki rasa kemanusiaan karena dia monyet. Monyet yang tidak memiliki ekor dan sering dirundung oleh sejenisnya. Warapun kasihan dan malah ingin membullynya juga.

Merekapun sampai di tempat disegelnya Taher. Mereka melihat cahaya merah merona yang sangat pekat. Ternyata ada seorang penyikir yang ingin membuka segel tersebut.

Wara langsung menyerang penyihir itu menggunakan benang layangan yang ada di keteknya yang setajam silet. Dengan jurus oa pelontong, Dutung langsung terbang meninju penyihir itu, tetapi serangan mereka tidak berefek.

Penyihuir itupun memperkenalkan diri, “Namaku Situlicha, Sang penyihir Creapy.” Lalu dia menyinggung Dutung karena para monyet memiliki kekuatan mereka di ekor. Ternyata yang mencuri ekor Dutung adalah penyihir itu “Situlicha.”

Situlpun langsung mematahkan segelnya. Suara gemuruh reruntuhan tua yang akan runtuh kembali terdengar sangat keras. Wara dan Dutung pun putus asa ketika melihat layangan hitam besar telah kembali.

Situl memberitahu Dutung bahwa yang mencuri ekor Dutung adalah Situl. Situl memanfaatkan kekuatan ekor Dutung untuk sumber kekuatannya. Orang-orang yang tidak memiliki mental akan terkena ngakak sindrom.

Saat bersembunyi, Wara menemukan satu botol aqua. Ternyata botol itu adalah air ketek Ucok D Baba. Untuk mengalahkan Situl, Wara langsung meminum air itu lalu merebut kembali ekor Dutung. Wara memberikan ekor itu kepada Dutung.

Dengan kekuatan benang Ucok D Baba, Wara langsung menggunakan kesembilan layangannya untuk langsung menyerang Taher. Benang itu sudah menyatu dengan bulu ketek Wara dan akhirnya Situl mati gara-gara menyemekdon Situl sampai knock dan mati. Lalu Warapun menang melawan Taher karena Taher telah kehilangan sebagian kekuatannya selama disegel.

Oleh: Muhammad Aldi Husni, Santri-Murid Kelas VIII SMP Alam Nurul Furqon asal Garut