Fungsi lembaga pendidikan sesungguhnya adalah membuat manusia menyadari tugas pokok dan fungsinya sebagai khalifah di muka bumi. Sebagai khalifah, manusia harus mampu memakmurkan bumi dengan menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi laranganNya. Dan untuk itu, manusia harus menguasai ilmu pengetahuan dan mampu terus mengembangkan teknologi. Karena itu, lembaga pendidikan Islam harus bisa memberikan bekal optimal dalam kedua aspek itu. Jangan sampai para santri-murid bermental kuli yang menjalani kehidupan dengan sangat keras dan berat, tetapi dengan hasil yang minimal, bahkan gagal.
Pesantren-Sekolah Alam Nurul Furqon, Mlagen, Pamotan, Rembang, atau yang lebih dikenal dengan Planet NUFO memberikan perhatian yang sangat besar pada masalah ini, karena ingin para santr-murid menjadi orang-orang yang berdaya besar, baik dalam visi maupun aksi. Logika harus ditopang dengan logistik yang kuat.
Bagaimana Planet NUFO membangun kesadaran itu dan membiasakan dengan kerja-kerja cerdas yang akan membuat mereka menjadi SDM berkualitas muslim intelektual profesional secara sekaligus? Berikut ini wawancara Planetnufo.com dengan Pengasuh Planet NUFO, Dr. Mohammad Nasih, M.Si. atau yang akrab disapa dengan Abah Nasih atau Abana:
Planetnufo.com: “Abah Nasih, kali ini kami mau mengangkat perbincangan yang agak sensitive? Boleh ya?!”
Abana: “Siapa yang melarang? Mau mengangkat sensitif, penuh risiko, atau apa saja, itu sudah biasa. Kebenaran itu memang pahit. Sudah 14 abad yang lalu Rasulullah mengatakan begitu. Kata saja yang mesti siap untuk menerima risikonya. Kalau tidak mau menerima risiko, ya tidur saja. Itu saja masih ada risiko kejatuhan genteng. Hehehe. Jadi mau wawancara apa sekarang?”.
Planetnufo.com: “Dalam bayangan Abah, kalau disebut kata “santri” apa idealitanya dan apa realitanya?
Abana: “Wah ini benar-benar sensitif memang. Dan kita harus mengatakan yang sebenarnya. Karena jamu itu menyehatkan. Tidak perlu takut, karena kita tidak bersandar dan berharap kepada siapa pun, kecuali Allah. Santri itu manusia yang sedang berproses mendekati kriteria insan kamil, manusia paripurna. Itu istilah yang sering digunakan oleh para sufi. Para aktivis HMI sering menyebutnya dengan insan cita. Insan cita atau kamil itu prototype-nya ya Nabi Muhammad saw.. Apa kualitasnya? Bisa kita lihat dalam sejarah hidupnya. Beliau itu seorang profesional, punya ketrampilan hidup yang bisa digunakan untuk membantuk ekonomi keluarga. Sampai dikenal oleh Ibu Khadijah dan sampai tertarik menikah dengannya itu kan karena dilihat sebagai pemuda yang bukan hanya cakep, tapi cakap dan terpercaya dalam memutar harta dagangan yang dipercayakan kepadanya. Dan itu menjadi salah satu indikator kuat bahwa beliau adalah calon rasul. Itu yang mendorong Ibu Khadijah ingin menikah dengan beliau. Sudah profesional, menikah dengan perempuan terkaya di Makkah. 2/3 kekayaan Makkah milik Ibu Khadijah. Mantap sekali kan? Setelah itu, baru beliau mendapatkan risalah yang harus disampaikan. Ternyata konsekuensi menyampaikan risalah kebenaran itu berat sekali. Harta beliau dan istrinya sampai habis. Itu semua ahli sejarah mengakuinya. Pemilik harta terbanyak di Makkah, meninggal dalam keadaan bajunya ada 80 tambalan. Siapa berani? Hehehe.”
Planetnufo.com: “Jadi hartanya digunakan untuk dakwah ya, Bah?”
Abana: “Jelas sekali itu. Hartanya digunakan untuk berbagai aktivitas yang sesungguhnya adalah untuk membuat orang menerima Islam. Sebab, Nabi mengerjakan apa yang beliau ajarkan. Bukan hanya sekedar mengajarkan, tetapi tidak mengerjakan. Siapa yang pertama-tama masuk Islam selain Khadijah, Ali, dan Abu Bakar? Ada yang namanya Zaid bin Haritsah. Awalnya dipanggil Zaid bin Muhammad, karena Zaid yang sebelumnya masuk ke dalam keluarga Nabi sebagai budak, tetapi atas permintaan Nabi dimerdekakan oleh Khadijah. Maka sampai dianggap sebagai putera Nabi. Karena kebaikan Nabi itu, Zaid pernah didatangi oleh keluarga aslinya untuk ditebus. Dan Nabi memberikan kebebasan untuk memilih. Ternyata Zaid memilih Nabi, bukan keluarga aslinya. Kalau dia ikut keluarga aslinya, bisa jadi ceritanya akan lain lagi. Dia akan dipaksa untuk mengikuti ajaran keluarga aslinya saat itu.”
Planetnufo.com: “Santri mestinya bisa mengikuti langkah dakwah Nabi Muhammad ya, Bah?”
Abana: “Siapa lagi yang mau kita ikuti kalau bukan Rasulullah. Karena beliaulah teladan ideal kita. Karena itu, santri harus berdaya secara ekonomi. Nah, inilah idealitasnya. Namun, realitanya kan bisa dikatakan masih sebaliknya. Kalau disebut santri, kita membayangkan sosok lusuh, makannya hanya sambel terong, membawa kitab dengan kertas buram, peci bulukan, toiletnya jorok, menyebar proposal dan kalender untuk mencari dana sumbangan, dan yang lain-lain yang tidak positif. Bagaimana kalau kita balik dengan bayangan: santri itu naik motor gede, shalat jama’ah di awal waktu dengan semangat, ;makannya bergizi dengan menu lengkap daging domba dan sapi, kitabnya tak lagi kuning karena kertas buram, berpenampilan sederhana tapi rapi dan bersih, toiletnya kinclong, dan berbagai hal positif lainnya. Tak ada lagi minta-minta sumbangan, tetapi sebaliknya memberdayakan anak-anak muda lain yang ingin menjadi manusia mandiri dan cerdas.”
Planetnufo.com: “Langkah-langkah apa yang harus kita lakukan untuk mengubah cara berpikir santri agar menjadi sebagaimana yang diteladankan oleh Rasulullah?”
Abana: “Ya ikuti saja yang dilakukan oleh Rasulullah. Kalau Rasulullah menggembala domba, ya santri menggembala domba. Makanya di Planet NUFO saya sediakan banyak domba. Tujuannya agar santri menggembala domba. Mereka saya minta untuk menanam bibit tanaman-tanaman tertentu yang sangat dibutuhkan di sini, di antaranya: kacang saci dan kelor. Bibit tanaman itu saya beli sendiri dan saya tanam di lahan saya atau lahan Planet NUFO. Apa tujuannya? Agar mereka tahu bahwa untuk menghasilkan uang, ada banyak jalan yang bisa ditempuh. Dan jika mentalitas usaha sudah tumbuh, mereka akan mampu melakukan kalkulasi sesuai dengan kebutuhan mereka. Dan pasti mereka akan tertarik untuk berpikir besar. Kalau mau punya uang banyak, maka hasil kerja ya harus dilipatgandakan. Itulah mentalitas pengusaha. Kalau mentalitas kuli atau bahkan budak, ya mereka asal bekerja saja, kalau ada yang memberi bayaran. Kalau santri begini, ya masa depan bisa suram. Dan tidak bisa mengajar. Sebab, mengajar kan memerlukan waktu luang. Siapa yang punya waktu luang? Budak, buruh, kuli? Tentu saja tidak. Karena mereka tidak punya cukup uang dan tidak punya waktu luang. Setelah bekerja seharian, mereka akan kelelahan. Kalau jadi profesional, mereka mungkin akan punya uang, tetapi tidak punya waktu luang untuk mengajar. Kalau jadi pengusaha, nah ini yang kita inginkan. Mereka akan punya banyak uang dan punya waktu luang. Waktu luang itulah yang akan digunakan untuk berjuang, di antaranya mengajar.”
Planetnufo.com: “Apakah ada kendala-kendala santri menjadi seperti yang diinginkan itu, Bah?”
Abana: “Ada. Rata-rata dan terutama ini justru berasal dari keluarga pra sejahtera. Pada umumnya mereka malah tidak tertarik mengerjakan yang saya minta itu. Para orang tua memandang bahwa memelihara domba misalnya, itu tidak prospektif. Ini karena cara berpikir yang sudah membatu di kepala mereka. Sebab, di kampung-kampung mereka, orang yang memelihara domba, pasti orang miskin. Iya, karena yang dipelihara hanya 3-5 ekor. Mana bisa kaya dengan memelihara 5 ekor domba. Kalau di sini, santri diajarkan untuk melakukan budidaya. Memang awalnya hanya diserahi beberapa ekor saja. Namun, targetnya sesungguhnya menjadi peternak domba. Arahnya jadi pengusaha, bukan jadi petani gurem. Nah, justru yang berasal dari keluarga mampu, pengusaha terutama, mereka sangat antusias dengan program-program pemberdayaan dalam bentuk budidaya domba dan sayur-mayur. Sebab, mereka tahu bahwa dari situlah anak-anak mereka akan mulai belajar berhitung secara bisnis. Dan itulah yang akan membuat anak-anak mereka memiliki kesadaran untuk menjadi pengusaha, bukan karyawan.” (AH)