Persentase santri pesantren di Indonesia yang bisa membaca kitab kuning hanya 2%. Ini adalah prosentase yang terbilang sangat rendah. Kenyataan inilah yang mendorong Dr. Mohammad Nasih, M.Si., seorang doktor ilmu politik, aktivis, pengkader, dosen, ustadz, dan juga pengusaha, melakukan riset selama bertahun-tahun agar bisa melakukan inovasi metode mengajar dan mendidik para santri. Pendiri dan Pengasuh Rumah Perkaderan Monasmuda Institute Semarang, sebuah pesantren-plus khusus untuk para mahasiswa, itu mencoba berbagai macam cara baru yang dianggap relevan, dengan menyesuaikan diri dengan perkembangan sains dan teknologi, sebagai di antara alat bantu untuk meningkatkan prosentase santri yang mampu membaca kitab kuning. Bahkan, di antara usaha ke arah itu dilakukannya dengan mendirikan lagi sebuah lembaga pendidikan Islam bernama Pesantren-Sekolah Alam Nurul Furqon di Mlagen, Pamotan, Rembang, Jateng, atau yang lebih dikenal dengan Planet NUFO.
Ternyata ada cukup banyak faktor complicated yang mempengaruhi kemampuan para santri membaca kitab gundul. Faktor-faktor yang masih memungkinkan untuk dipenuhi itu oleh Planet NUFO diupayakan dengan keras untuk dipenuhi, sehingga hasil sementara ini sudah bisa cukup signifikan. Pada angkatan pertama santri Planet NUFO, terdapat tidak kurang dari 40% yang mampu membaca kitab gundul. Namun, sesungguhnya angka ini masih bisa ditingkatkan, jika upaya untuk lebih mendekati prasyaratnya terus diupayakan.
Bagaimana sesungguhnya usaha untuk itu? Berikut hasil wawancara eksklusif Planetnufo.com dengan bapak lima anak yang akrab disapa oleh para santri-murid di Planet Nufo dengan Abah Nasih atau Abana:
Planetnufo.com: “Kenapa Abah Nasih sangat menekankan agar santri bisa membaca kitab kuning? Seberapa penting kemampuan membaca kitab kuning itu bagi seorang santri?”
Abana: “Saya sering menyebut bahwa hukum bisa bahasa Arab adalah wajib ‘ain. Tapi ada yang protes, katanya fardlu kifayah. Alasannya, yang wajib ‘ain itu bertanya kepada orang yang tahu, apabila tidak tahu. Padahal kita ini pada umumnya shalat memakai bahasa Arab. Kalau tidak mengerti bahasa Arab, berarti ya “membaca mantra”. Sebab, tidak mengerti artinya. Okelah. Anggap saja fardlu kifayah. Definisi fardlu kifayah ini juga harus kita rekonstruksi. Bukan sekedar jika ada satu orang yang melakukannya, maka sudah cukup. Yang lain sudah tidak dosa. Sekedar seperti shalat jenazah itu. Bukan begitu. Kifayah artinya cukup. Maka kita harus pakai rasio. Kalau rasionya terlalu kecil, maka walaupun hanya sekedar bertanya pun menjadi sulit. Agar rasionya besar, setidaknya di dalam setiap keluarga harus ada satu orang yang memiliki kemampuan bahasa Arab al-Qur’an. Lebih bagus lagi hafal al-Qur’an. Dengan demikian, kalau muncul persoalan, solusinya bisa diambilkan dari al-Qur’an dan hadits Nabi Muhammad. Dengan begitu, sikap dan perilaku yang muncul sesuai dengan standard hidup seorang muslim, turut al-Qur’an dan Sunnah Nabi kita. Karena itulah, maka hukum bisa berbahasa Arab, lebih spesifik lagi membaca teks sumber-sumber Islam, bagi santri menjadi wajib ‘ain. Agar kalau ada keluarga, tetangga, orang sekampung mereka yang memiliki persoalan, para santri ini bisa menjadi rujukan yang memberikan solusi tepat, sesuai dengan keinginan Allah dan RasulNya.”
Planetnufo.com: “Sudahkah ada survey tentang berapa besar sebenarnya prosentase santri yang bisa membaca kitab gundul?”
Abana: “Membaca kitab gundul atau kitab kuning itu sesungguhnya istilah saja ya. Sebab, sekarang sudah banyak kitab yang tulisannya langsung dilengkapi dengan harakat dan kertasnya sudah tidak lagi kuning alias buram. Dulu kertas kan susah. Sekarang sudah lebih mudah. Maksudnya adalah mampu memahami makna teks Arab yang berisi kajian keislaman dengan memahami detil i’rabnya dan mampu menarik pemahaman yang tepat. I’rab itu posisi kata dalam sebuah kalimat, subjek, predikat, objek, keterangan, atau yang lainnya. Dalam bahasa Arab, ada posisi yang tidak dikenal dalam bahasa Indonesia, misalnya tamyiz. Soal berapa persen, ini sebenarnya sesuatu yang sensitif. Bahkan bisa dikatakan sangat sensitif. Kalau kita menyebut angka rendah, pasti akan ada banyak guru agama atau ustadz di pesantren yang “meradang”. Tapi, tidak apa-apalah. Kadang-kadang kebenaran memang sangat pahit. Tapi itu harus kita anggap sebagai jamu. Saya sendiri awalnya juga sangat kaget. Prosentase santri yang bisa baca kitab gundul tidak lebih dari 2%. Tapi oleh teman-teman saya yang bersikap objektif, saya malah dikritik bahwa angka itu ketinggian. Makanya, yang tidak setuju dengan data yang saya sampaikan ini, silakan melakukan riset pembanding, dan kita nanti bandingkan datanya. Lagian, data kan bisa berubah sewaktu-waktu, karena ada perubahan di lapangan. Tapi semangat kita sesungguhnya adalah untuk meningkatkan jumlah santri yang bisa membaca kitab gundul. Sebab, kita berharap, santri-santri inilah yang akan menjadi kader-kader muslim masa depan. Yang akan melakukan akselerasi kemajuan dengan menjadikan ajaran Islam sebagai inspirasi. Kalau Islam kan sumbernya jelas, al-Qur’an dan hadits.”
Planetnufo: “Berdasarkan pengalaman, apa yang menjadi faktor pendukung bisa membaca kitab gundul?”
Abana: “Ini pertanyaan yang sangat menarik. Dan sekali lagi, awalnya saya juga kurang memberikan perhatian mendalam tentang masalah ini. Namun, lama-kelamaan, karena setiap hari saya mengajar di pesantren, habis shubuh dan habis maghrib itu pasti, saya memberikan perhatian lebih. Mengajar santri yang paham dan tidak paham itu kan terasa sekali. Kalau paham, mereka nyambung. Kalau kita tanya rujukan ayatnya mana, juga bunyi. Kalau tidak paham, pandangan mata mereka kosong, bahkan ngantuk. Itu ibarat bertepuk sebelah tangan. Kita semangat, mereka loyo. Ibarat lain seperti mendorong mobil mogok, masuk gigi satu, dan hand remnya ditarik. Bisa membayangkan bagaimana rasanya mendorong mobil yang begitu? Karena itulah, saya kemudian mulai melakukan pendataan secara lebih detil. Dan sekarang sudah bisa saya bagi hasilnya. Faktor pendukung utamanya adalah: pertama, gizi; kedua, lingkungan bahasa saat anak mengalami tumbuh kembang; ketiga, guru. Sekali lagi, tiga ini yang utama. Sebenarnya masih ada yang lain-lain. Tapi kalau tiga hal utama ini beres, maka 2/3 persoalan bisa dikatakan selesai. Kita bisa mengajar anak-anak dengan hasil cukup optimal.”
Planetnufo: “Perlu diurai satu persatu ini, Bah!”
Abana: “Tentng gizi. Ini saya juga sering menemukan ustadz yang tidak bisa menerima bahwa gizi berpengaruh. Dugaan saya, karena cukup banyak pesantren yang dikelola secara apa adanya. Orang tua tidak mendukung. Bebannya kemudian ya di pak kiai. Kalau makannya harus empat sehat lima sempurna, ya boros. Lalu, mereka berargumen bahwa semua santri yang dia kenal bisa baca kitab gundul. Berbanding terbalik dengan temuan saya, bahwa jumlah yang bisa membaca kitab gundul itu hanya beberapa gelintir saja. Bahkan walaupun sudah mondok tiga sampai enam tahun, tashrif pun tidak hafal. Saya punya datanya lengkap. Kata sebagian pak ustadz ini, mereka yang bisa baca kitab gundul itu lebih sering makan pakai sambel. Kalau sudah begini ini kan saya tidak bisa menyampaikan data lagi. Ya sudahlah, saya ngalah saja. Saya lebih percaya kepada istri saya yang dokter anak. Dan karena persoalan inilah stunting menjadi salah satu pokok persoalan yang sangat penting dalam kebijakan politik. Pak Kiai Ma’ruf Amin pun saat debat capres sudah membahas ini. Ini kemajuan. Pemimpin harus memiliki konsep untuk memastikan bahwa kekurangan gizi ini bisa diatasi. Sebab, gizi sangat berpengaruh kepada proses tumbuh kembang anak. Anak-anak yang cukup gizi, lebih memungkinkan untuk sehat. Dan kalau mereka sehat, maka proses belajar mereka juga akan lebih optimal. Nah, masalahnya, mayoritas santri ini masih berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah. Asupan makanannya belum empat sehat lima sempurna. Dan ini harus dimulai sejak proses kejadian, dimulai dalam kandungan. Sementara usia nyantri ini kan usia belia. Bahkan rata-rata usia SMP dan paling banyak usia SMU. Pesantren yang baik, memberikan asupan gizi cukup, untuk melanjutkan saja asupan gizi cukup yang telah diberikan oleh keluarga. Bahwa ada anak dari keluarga dengan kecukupan gizi, tetapi “lambat”, itu adalah kenyataan juga. Ada yang begitu. Itu ya pasti ada faktor lain lagi yang mempengaruhi. Atau anggap saja sebagai “anomali”, biar sederhana. Maka santri-santri di Planet NUFO saya ajak memelihara domba, sapi, dan hewan-hewan lain yang bisa menghasilkan protein hewani. Sebab, terutama daging sapi dan domba, mengandung nutrisi yang sangat diperlukan untuk meningkatkan kecerdasan. Beberapa tahun ini juga saya galakkan menanam kacang Sachi, karena kandungan Omega 3-nya tinggi. Kalau beli ikan salmon kan mahal. Intinya harus ada alternatif untuk mengatasi persoalan gizi ini.”
Planetnufo.com: “Sekarang soal lingkungan itu bagaimana?”
Abana: “Bahasa al-Qur’an dan juga hadits Nabi, terutama al-Qur’anlah sangat tinggi. Jadi, memahami al-Qur’an dan hadits tidak cukup hanya dengan menguasai makna katanya saja. Saya sering menekankan ini. Untuk bisa menguasai ajaran yang ada dalam sumber utama Islam, kita harus menguasai makna kata secara literal, kemudian berlogika kuat, dan mampu menangkap rasa bahasa. Nah, sekarang muncul beberapa pesantren yang mendaku diri sebagai pesantren modern. Atau hanya menghafalkan al-Qur’an saja, tidak mengajarkan bahasa Arab. Namun, rata-rata mereka lebih menekankan kepada bahasa Arab praktis dalam kehidupan sehari-hari. Penekanan kepada bahasa Arab fushhah yang digunakan oleh al-Qur’an, hadits, dan juga khazanah intelektual Islam klasik sangat minim. Kalau sekedar bisa bahasa Arab sehari-hari, saya sering gunakan ungkapan ekstrem, “orang gila di Arab juga menggunakan bahasa Arab”. Banyak tenaga kerja di Arab Saudi yang bisa berbahasa Arab. Tapi kita belum menemukan di antara mereka yang pulang kampung kemudian jadi ulama’, bahkan untuk sekedar mengajar ngaji di kampung mereka. Yang kedua ini sebenarnya lebih berpeluang, tapi saya belum dapat datanya. Ini karena mereka hanya menguasai makna literal kata-katanya saja. Masih ada dua lagi yang harus dikuasai, yaitu logika dan rasa bahasa. Coba perhatikan, banyak orang yang bisa berdialog dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi kalau diminta untuk berbicara menyampaikan apa yang ada di dalam pikiran, baik lisan maupun apalagi tulisan, mereka tidak mampu. Kalau mendengar kalimat yang keluar dari mulut mereka, atau membaca tulisan mereka, kita jadi pusing sendiri. Kenapa? Subjek predikat objeknya tidak jelas. Jumlah santri yang begini, juga mahasiswa, agar tidak hanya santri saja, jauh lebih banyak. Saya, kalau menilai UTS atau UAS mahasiswa gampang saja. Kalau paragraf pertama logis, saya lanjutkan ke paragraf kedua dan selanjutnya. Tapi subjek prediak objek di paragraf pertama tidak beres, langsung kasih saja nilai C. Setelah saya amati, di antara penyebabnya, mereka tidak memiliki lingkungan berbahasa yang baik. Misalnya, kita sering menemukan anak-anak mengatakan: “Saya sandalnya yang hijau”. Kenapa tidak “Sandal saya yang hijau”? Ini membutuhkan kebiasaan sejak kecil. Karena itu, saya langsung mengoreksi kalimat anak-anak, apabila saya mendengar kalimat mereka tidak tepat. Agar tidak menjadi kebiasaan yang bisa mengganggu konstruksi logika bahasa mereka. Nah, kalau logika mereka tidak jelas, maka tentu saja akan sulit untuk bisa memahami al-Qur’an yang sebagian ayatnya menuntut logika yang tajam. Kalimat-kalimat dalam ayat-ayat al-Qur’an itu kan runtut sekali. Secara umum, jika ada mubtada’, kita temukan khabarnya, jika ada syarat, ada jawabnya, jika ada kaana, la’alla, inna, dll itu, ada isim dan khabarnya, dan seterusnya. Kita harus belajar manthiq. Logika.”
Planetnufo.com: “Sekarang tentang rasa bahasa ya, Bah.”
Abana: “Terutama al-Qur’an, kalimat atau sebagiannya kalimat dalam ayatnya seringkali menggunakan gaya ungkapan. Al-Qur’an menyebutnya sebagai perumpamaan. Bahkan dalam Ulumul Qur’an ada bab sendiri tentang al-amtsal ini. Dan al-Qur’an menegaskan, tidak akan mampu memahami gaya ungkapan ini, kecuali orang-orang yang memiliki kedalaman pengetahuan. Mereka adalah orang-orang yang sering melakukan perenungan mendalam, sehingga mampu menangkap apa yang diinginkan oleh al-Qur’an. Misalnya, cek saja youtube, bagaimana memahami ungkapan al-Qur’an bahwa dunia ini hanyalah permaian dan senda gurau saja. Hampir semuanya kemudian menarik simpulan bahwa dunia ini harus ditinggalkan. Ini yang kemudian menyebabkan umat Islam tertinggal dalam hampir seluruh aspek kehidupan. Padahal, mestinya dunia ini dikuasai, lalu jangan sampai lalai karenanya, sebagaimana anak-anak lalai karena mainannya. Kalau sudah tumbuh lebih dewasa, anak-anak kita tidak begitu butuh mainan lagi dan diberikan kepada adik-adiknya. Jangan masih digenggam saja, sehingga menimbulkan hasrat adik untuk merebut atau hanya bisa nangis karena ingin tapi tidak berani bilang. Kalau bisa memberikan banyak mainan, itu bagus, karena menyenangkan mereka yang masih membutuhkan. Itulah sikap kita sebagai muslim. Harus menuju kepada kedewasaan spiritual, lalu memberikan dunia yang kita kuasai ini kepada mereka yang membutuhkan. Memperbanyak amal, shadaqah, infak, dll., yang bisa membantu dan membuat orang lain senang.”
Planetnufo.com: “Jadinya memang tidak mudah juga ya kalau begini. Berarti guru menjadi faktor penting ya, Bah?”
Abana: “Bukan penting, tetapi amat sangat penting. Dan bukan hanya kualitas guru, tetapi juga pengalaman dan kemampuan dalam mengembangkan metode mendidik dan mengajar, melakukan iniovasi sesuai dengan perkembangan sains dan teknologi. Kalau dulu, saya contohnya, untuk bisa membaca kitab gundul, harus menunggu ustadz atau kiai mengajar. Saya mendengarkannya dengan sepenuh konsentrasi untuk mencatatkan makna setiap kosa kata yang belum saya ketahui artinya. Sekarang, bukan hanya terjemahan yang sudah banyak sekali, dalam berbagai bahasa lagi, tetapi juga alat rekaman bahkan video sudah ada dalam setiap tangan kita. Setiap orang sekarang punya HP. Karena itu, saya merekam materi pelajaran saya, agar semua santri-murid bisa mengaksesnya sesuai dengan kebutuhan mereka, baik dalam sisi waktu maupun kemampuan. Maksud saya, anak-anak bisa menyimak pelajaran saya, kapan saja mereka memiliki waktu luang. Dan mereka bisa mengulangnya sesuai dengan kemampuan. Makanya, di Planet NUFO ada pemutaran kajian 24 jam. Santri-murid menyesuaikan dirinya sendiri. Coba bayangkan kalau saya harus mengulang-ulang pelajaran saya, karena ada santri-murid yang agak lambat daya tangkapnya, misalnya. Lama-lama bisa emosi juga kan, karena diajari berkali ndak bisa-bisa. Apalagi kalau yang lambat sekali. Tapi dengan adanya rekaman ini, santri-murid bisa mendengarkannya berulang-ulang sampai bisa. Saya hanya memberikan panduan, para ustadz/ah mendampingi setiap hari. Mentor juga menjadi teman untuk belajar kapan saja waktu mereka cocok. Kalau mereka sudah merasa bisa, mereka mengejar saya untuk memastikan bahwa mereka benar-benar bisa. Jadi, guru bukan hanya mengajar kemudian berasumsi bahwa santri-murid sudah paham dan bisa, padahal sebelumnya tidak. Inilah yang terjadi dalam pengajian massal. Akibatnya, para santri-murid tidak pernah bisa “naik kelas”. Yang santri ya santri terus. Yang jadi ustadz atau kiai ya anak ustadz atau kiai saja. Akhirnya santri dan kiai menjadi kasta yang bersifat tertutup. Anak kiai jadi kiai, anak santri jadi santri lagi ilaa yawmil qiyaamah.”.
Planetnufo.com: “Apakah dengan cara ini prosentase santri-murid yang bisa membaca teks Arab gundul mengalami peningkatan signifikan?”
Abana: “Alhamdulillah. Demikian adanya memang. Untuk sementara, data yang ada pada saya menunjukkan bahwa gizi berpengaruh cukup signifikan. Di Planet NUFO ini kan ada santri dari keluarga dengan berbagai macam tingkat ekonomi. Ada yang sejahtera dan pra sejahtera. Data saya menunjukkan bahwa kira-kira 75% santri-murid dari keluarga sejahtera memiliki kemampuan ini. Dan sebaliknya 25% saja santri-dari keluarga pra sejahtera yang memiliki kemampuan baik dalam membaca kitab.”
Planetnufo.com: “Apa metode yang paling efektif membuat mereka bisa membaca teks Arab dengan i’rabnya, Bah?”
Abana: “Nah, ini benar-benar hasil inovasi saya selama sewindu terakhir, saya mulai sejak 2014 di Monasmuda Institute Semarang. Saya terus mencari cara yang lebih baik lagi. Dan ini saya lakukan karena ada kaitannya juga dengan metode menghafalkan al-Qur’an. Saya ingin mereka hafal dengan lebih cepat. Padahal menghafal tanpa arti membutuhkan usaha tujuh kali lipat. Jadi menghafal tanpa arti, 30 juz, itu nyaris tak mungkin. Kalau hanya pernah menghafal, itu beda lagi. Maksudnya, hafal terus hilang. Karena itu, mereka saya tuntut mereka untuk tahu artinya terlebih dahulu. Lalu saya menemukan masalah ketika anak-anak saya yang masih sangat belia kesulitan menangkap makna ayat-ayat al-Qur’an kalau harus memulai dari juz awal, akhir, atau surat-surat tertentu yang pendek dan saya anggap mudah dihafalkan. Akhirnya, saya mencoba surat Yusuf agar dijadikan sebagai materi awal para santri berlatih memaknai dan kemudian dihafalkan. Surat Yusuf menjadi pilihan karena kalimatnya sederhana, dan isinya juga kisah yang sederhana. Karena itu, anak-anak usia SD, apalagi SMP bisa menangkap isi kisahnya.
Planetnufo.com: “Kalau surat Yusuf memang semua ayatnya mudah ya?”
Abana: “Relatif demikian. Hanya kisah yang urut saja. Kecuali halaman terakhir. Waktu itu yang jadi masalah hanya ayat yang berkaitan dengan Zulaikah menggoda Nabi Yusuf dan merobek gamisnya dari belakang. Anak saya tanya tentang itu. Kenapa Zulaikha merobek baju Nabi Yusuf. Ini kan persoalan orang dewasa. Di atas 18 tahun ini. Saya jelaskan pelan-pelan. Tapi ayat-ayat yang lain, bisa dipahami dengan mudah, dan kemudian saya jadikan sebagai ayat modal. Saya memastikan santri-murid, baik di Monasmuda Institute maupun di Planet NUFO memaknai seluruh ayat di surat Yusuf dengan i’rab secara detil. Setelah itu menghafalkannya. Dengan menghafalkannya setelah tahu i’rabnya, maka mereka akan mengerti pola kalimat. Dan pola kalimat di surat Yusuf itu kan juga digunakan dalam surat-surat yang lain, kecuali shighat ta’ajjubiyah yang ada di surat al-Kahfi: 26. Jadi, kalau surat Yusuf dikuasai maknanya, santri-murid akan bisa memaknai surat-surat yang lain, sesuai dengan perkembangan intelek mereka. Ini ibarat kita mengajari anak-anak kita berenang di kolam renang di rumah. Setelah itu, mereka bisa berenang di sungai atau di laut. Hanya ada beberapa penyesuaian, karena ada beberapa keadaan yang tidak sama. Di sungai ada arus yang bisa menyeret saat banjir. Di laut kadang ada gelombang besar yang bisa menyeret ke tengah. Itulah kenapa santri juga diajari wazan atau pola kata fa’ala, yaf’ulu, fa’lan. Itu kan untuk memudahkan penerapannya pada kata-kata lain, seluruhnya. Nah, modalnya ini menghafal surat Yusuf sebagai contoh kalimat yang mudah.” (AH)