Nilai adalah salah satu hal yang dianggap sebagai bentuk apresiasi guru terhadap siswanya. Bagi sebagian siswa, nilai adalah bagian penting dari pendidikan mereka. Sebab, dengan mengetahui nilai, siswa bisa mengevaluasi hasil dari mengerjakan soal-soal yang diberikan oleh guru. Melalui nilai, siswa bisa mengetahui apa yang salah dan apa yang benar dari hasil pengerjaan yang telah dia lakukan. Sehingga apabila kedepannya ada soal-soal pengerjaan yang sama dengan yang pernah dia kerjakan, dia tidak lagi keliru dalam memilih jawaban.
Dikutip dari website http://portaluqb.ac.id bahwa menurut Sudirman (2011:144-146) Peran guru dalam proses pembelajaran adalah sebagai infomator, organisator, motivator, pengarah/ direktor, inisiator, transmiter, fasilitator, mediator, dan evaluator. Dalam penjelasannya, evaluator sendiri diartikan bahwa guru sebagai evaluator berarti guru memiliki tugas untuk menilai dan mengamati perkembangan prestasi belajar peserta didik. Guru memiliki otoritas penuh dalam menilai peserta didik, namun demikian evaluasi tetap harus dilaksanakan dengan objektif.
Dari pernyataan di atas, dapat kita ketahui bahwa tugas seorang guru bukan hanya sebatas mentransfer ilmu atau mengajarkan hal-hal yang mereka bisa kepada siswa-siswinya. Peran seorang guru tidak terbatas di bagian itu saja. Namun, seorang guru harus mampu menjadi seorang evaluator yang dalam kegiatan belajar mengajar mampu memberikan penilaian kepada siswa-siswinya dan mengadakan evaluasi apabila terjadi kekeliruan atau kesalahan yang dilakukan oleh muridnya-muridnya. Baik kesalahan dalam mengerjakan soal-soal mapun yang lainnya.
Selian itu, guru juga bisa berperan untuk menjadi pengarah bagi murid-muridnya. Menunjukkan atau memberi saran ketika muridnya sedang buntu dalam menyelesaikan sebuah perkara, terutama di bidang pendidikan yang sedang ditempuh.
Mengarahkan bagi seorang guru memang tidak berlaku untuk semua hal dalam kehidupan muridnya. Seorang guru tidak memiliki kewajiban untuk memberikan arahan, memberikan solusi untuk setiap masalah yang sedang dihadapi muridnya. Misalnya ketika muridnya mengalami masalah keluarga, tekanan batin yang disebabkan oleh berbagai faktor, atau hal-hal lain yang memang tidak ada kaitannya dengan pendidikan yang sedang ia tempuh, seorang guru tidak wajib memberikan solusi, melakukan berbagai cara untuk membantu menyelesaikan masalah-masalah tersebut yang dialami murid-muridnya.
Namun demikian, tidak jarang juga beberapa guru dijadikan sebagai motivator oleh siswanya karena dianggap mampu menjadi seseorang yang membantunya dalam tiap masalah yang sedang dihadapi dengan cara memberikan solusi, mengarahkan, memberikan nasihat-nasihat yang mampu mengubah bahkan menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi muridnya. Bahkan, tidak jarang seorang guru dianggap seperti orang tua bagi beberapa murid yang memang merasa nyaman terlebih dengan tindakan-tindakan baik yang telah dilakukan oleh gurunya dalam membantu masalahnya.
Namun, arahan dari guru untuk beberapa siswa yang lain juga kembali kepada siswa itu sendiri. Sebab, arahan dari seorang guru tidak selalu ampuh bagi semua siswanya. Terkadang, solusi yang telah diberikan ternyata tidak mampu mengubah pribadi atau tidak mampu menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh siswa tersebut yang tidak lain disebabkan karena memang tidak ada kemauan dalam diri siswa ersebut untuk berubah. Perbedaan sikap dari siswa-siswinya tersebut yang bisanya menuntut guru untuk bersikap lebih sabar.
Menjadi seorang evaluator bagi siswa-siswinya memang tidak mudah. Terlebih dengan jumlah siswa yang memang tidak sedikit. Kekecewaan bisa saja dirasakan oleh seorang guru. Entah karena siswanya yang tidak berubah setelah dilakukan evaluasi bersama atau bahkan tidak mau mengikuti kegiatan evaluasi yang diadakan secara bersama tersebut. Namun, sebenarnya ada beberapa cara yang tidak menjadikan lelah hanya dirasakan oleh seorang guru ketika melakukan evaluasi, meski kekecewaan harus tetap siap untuk dihadapi.
Kegiatan evaluasi di sini misalnya seperti mengoreksi secara bersama soal-soal yang telah dikerjakan oleh siswa-siswinya. Setiap siswa, satu demi satu membacakan soal-soal dan mengutarakan jawabannya. Apabila ada kesalahan, seorang guru kemudian membetulkan jawaban yang salah tersebut dan memberikan penjelasan atas jawaban benar yang dipilih oleh guru. Setelah semua soal selesai dibahas, siswa-siswi kemudian menjumlahkan soal yang benar dan menilainya kemudian menyetorkannya kepada guru.
Guru juga tidak perlu melihat kembali satu demi satu buku untuk melihat nilai dari masing-masing siswanya. Guru bisa memanggil satu demi satu nama, kemudian siswa-siswinya diperintahkan untuk menyebutkan nilai yang telah dijumlahkan. Kegiatan pengoreksian ini adalah bentuk evaluasi paling sederhana yang kemungkinan besarnya tidak memberatkan guru maupun muridnya. Melalui pengoreksian tersebut siswa diharapkan mampu menjadi lebih baik lagi dalam mengerjakan soal-soal berikutnya, terlebih untuk soal-soal yang bentuknya sama.
Melalui koreksi bersama itu pula, para siswa akan cenderung lebih aktif dalam mengikuti kegiatan belajar selama pembelajaran itu berlangsung. Sebab, mereka akan saling menyimak satu sama lain sembari menunggu giliran mereka membaca soal dan mengutarakan jawaban. Ketika mereka merasa jawaban mereka benar, namun tidak sama dengan jawaban temannya yang juga benar, metaka kemudian akan bertanya kepada guru mereka untuk menerima konfirmasi atas jawaban yang mereka ajukan.
Mungkin, nilai dari pengerjaan soal entah dengan hasil baik maupun belum baik, tidak berlaku untuk semua siswa di sekolah. Namun, besar kemungkinan bahwa nilai juga berpengaruh bagi siswa kedepannya. Terlebih untuk yang seorang pelajar yang ingin melanjutkan jenjang pendidikan sampai di bangku kuliah. Karena hal tersebut, sebaiknya seorang guru tidak menyepelekan bentuk nilai dan tidak mengabaikan kegiatan evaluasi yang mungkin tidak termasuk dalam jadwal pembelajaran yang ditetapkan di sekolah.
Ada beberapa hal yang terkadang menyebabkan kekecewaan pula di hati seorang siswa. Misalnya, ketika sudah mengerjakan tugas dengan mengerjakan soal-soal yang ada di LKS yang diberikan oleh guru dengan bentuk soal yang terkadang tidak selalu mudah. Namun, setelah dikumpulkan bahkan terkadang dengan durasi waktu yang begitu lama untuk buku itu dikembalikan kepada siswa-siswinya, beberapa guru hanya meninggalkan jejak berupa tanda tangan tanpa nilai yang tertera di buku tugas tersebut.
Mungkin, mereka menuliskan nilai-nilai dari hasil pengerjaan siswa-siswinya di buku nilai mereka pribadi. Namun, hal demikian justru tidak membuat siswanya melakukan evaluasi, karena mereka tidak tau soal mana yang salah dan soal mana yang benar. Padahal, biasanya banyak dari soal-soal dari LKS tersebut yang dijadikan soal kembali saat ujian akhir semester yang nilainya akan diletakan di raport. Untuk kedepannya, karena hal tersebut, siswa juga tidak dapat melakukan perubahan ketika mengerjakan soal-soal selanjutnya.
Terlebih, nilai yang terlihat di raport tersebut tidak diberitahu dari mana asalnya, mengapa bisa dijumlahkan dengan mendapatkan nilai demikian yang ditulis di raport-raport masing-masing siswa. Padahal, melalui raport tersebut, siswa bisa melihat perkembangan dirinya, karena raport merupakan hasil akhir dari kegiatan belajar yang selama ini diikuti. Namun, jika hanya melalui raport tanpa melihat nilai asli dari hasil mengerjakan tugas, jumlah nilai dari ulangan harian atau mengerjakan soal-soal di LKS, hal itu tidak berpengaruh penuh bagi sebagian besar siswa untuk bisa melakukan evaluasi dan melakukan perbaikan kedepannya. Raport tidak begitu berpengaruh, tetapi guru memiliki peran penuh.
Oleh: Bunga Sukma Indah, Santri-Murid Kelas XII MA Darul Huda Planet Nufo (Nurul Furqon)asal Tegal