OLEH: IDA ARIYANI,
Sekretaris Jendral Kohati Badko Jateng-D.I.Y Periode 2019-2021, Alumni Perguruan Islam Mathali’ul Falah, Mahasiswa Magister Komunikasi Penyiaran Islam UIN Walisongo Semarang

Eksperimen atau kegiatan percobaan bertujuan untuk membuktikan kebenaran dari suatu pernyataan atau hipotesis dan menciptakan hal baru untuk peradaban hidup manusia. Eksperimen membutuhkan ketelitian, konsistensi, dan biaya dalam melakukan pengamatan secara berkala sehingga tidak banyak orang tertarik untuk bereksperimen. Pada tahun 2020, Negara Indonesia menempati peringkat 85 dalam Global Innovation Index, ajang penilaian kontribusi negara-negara dunia dalam melakukan inovasi dalam berbagai sector kehidupan (Pipit, Liputan 6). Hal itu menunjukkan bahwa di Indonesia minat dan kemampuan untuk bereksperimen masih rendah.
Pada bidang pendidikan, eksperimen hanya sebatas periodic rituals dalam mata pelajaran Fisika, IPA, dan Kimia. Kegiatan bereksperimen umumnya dilakukan beberapa kali saja dalam satu semester demi mengisi nilai praktikum. Eksperimen pun terbatas dilakukan di laboratorium yang belum tentu lengkap dan sesuai dengan materi pelajaran. Padahal sebuah Jurnal Penelitian JPF menunjukkan sebanyak 81,2 % siswa lebih tertarik untuk bereksperimen dibandingkan duduk, mendengarkan, dan mencatat materi dari guru (Wahyudi, 2014).

Eksperimen Kolaboratif

SMP Alam Nurul Furqon atau Planet Nufo membebaskan seluruh siswa, guru, tenaga ahli, dan staff untuk bereksperimen. Hanya satu aturan main yang diterapkan dalam melakukan eksperimen di Planet Nufo, yaitu sesuai al-Qur’an dan Hadist. Mata pelajaran, kelas, ruang laboratorium, waktu, dan biaya tidak menjadi penghalang untuk melakukan eksperimen di Planet Nufo. Semua mata pelajaran harus bisa diterapkan oleh murid dalam memecahkan problema kehidupan. Kelas tidak harus dilakukan dalam ruangan yang tersekat oleh tembok, tetapi bisa dimana saja. Kelas pun tidak digolongkan berdasarkan urutan masuk, tetapi berdasarkan tingkat pemahaman murid dan beberapa kelas disesuaikan dengan minat murid.

Begitupun dengan laboratorium. Planet Nufo sengaja membuat laboratorium skala besar, yaitu seluruh lingkungan di Planet Nufo adalah laboratorium. Hal itu tidak menjadikan Planet Nufo kerdil, justru dengan begitu eksperimen bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja. Bahkan eksperimen di Planet Nufo dilakukan secara kolaboratif antara guru dengan murid, staff dengan murid, adik kelas dengan kakak kelas, bahkan lembaga lain setingkat universitas melakukan eksperimentasi kolaboratif dengan seluruh elemen di Planet Nufo.

IPB (Institute Pertanian Bogor) University bersama guru dan murid melakukan eksperimentasi di area perkebunan Planet Nufo. Penelitian berupa mengidentifikasian hama penyakit, meramu penangkal hama dan penyakit, penelitian kadar tanah, dan segala hal tentang pengolahan lahan dilakukan. Kegiatan itu tidak hanya memantau dari jauh atau melihat tutorial Youtube, tapi benar-benar dilakukan di lahan. Sehingga semua murid yang memiliki peminatan perkebunan benar-benar praktik dan membantu melakukan inovasi agar Planet Nufo bisa tetap menghasilkan buah dan sayur yang berkualitas.
Penelitian tidak terbatas pada tanaman, hewan-hewan ternak di Planet Nufo juga dijadikan bahan eksperimen secara langsung. Murid dan guru bersama Universitas Airlangga yang memiliki disiplin keilmuan kesehatan hewan menelisik dan mengulik cara agar hewan ternak di Planet Nufo cepat gemuk dan sehat. Penelitian dimulai nutrisi makanan, penyakit, bahkan persilangan genetic hewan. Sehingga meskipun masih SMP siswa Planet Nufo sudah mengerti cara menghasilkan hewan ternak yang berkualitas.

Politeknik Negeri Semarang (Polines) juga sudah mulai mengajak Planet Nufo untuk berkolaborasi. Beberapa sivitas akademik Polines mengenalkan dunia robotic pada murid Planet Nufo agar bisa menciptakan robot pengantar pakan ternak di Planet Nufo. Robot yang memiliki fungsi pengganti kerja manusia untuk menuntaskan pekerjaan berat, beresiko, dan berulang sangat dibutuhkan di Planet Nufo. Sebab Planet Nufo memiliki banyak hewan-hewan ternak yang harus diberi makan, minum, dan dibersihkan kandangnya setiap hari. Sehingga guru, murid, dan staf tidak cukup hanya mendengarkan teori saja namun juga praktik dan bereksperimen dengan sivitas akadmika Polines untuk membuat robot.

Guru-guru Planet Nufo yang menempuh studi magister di Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang juga tidak kalah dalam berkompetisi untuk melakukan eksperimentasi bersama murid. Guru-guru dan pendiri sekolah memiliki target, murid yang lulus SMP di Planet Nufo sudah tuntas ilmu dasar, yaitu keislaman. Murid Planet Nufo tidak hanya diwajibkan mengerti, namun bisa paham, menerapkan, dan mengajarkan ilmu keislaman. Sebab ilmu ini tidak akan habis untuk dikaji dan diajarkan sampai kiamat. Sehingga pada saat murid terjun di dunia professional yang penuh dengan tantangan dan persaingan mereka sudah memiliki pendirian dan cara berpikir maupun berperilaku sesuai nilai-nilai Islam.

Eksperimen dalam menguatkan basic keislaman murid dilakukan dalam bentuk penguasaan I’rabul Qur’an. Mengapa al-Qur’an? Sebab dasar dari segala ilmu dan panduan hidup adalah al-Qur’an dan Hadist. Hal ini menunjukkan bahwa al-Qur’an merupakan bahan eksperimen tanpa batas materi. Al-Qur’an juga memiliki struktur bahasa yang lebih mudah dipahami dibandingkan Hadist. Sehingga al-Qur’anlah yang menjadi bahan dasar untuk mempelajari I’rab. Murid-murid yang belum bisa membaca al-Qur’an dengan lancar dimasukkan dalam kelas karantina. Murid-murid akan melancarkan bacaan al-Qur’an sembari menghafalkan tashrif. Tahap selanjutnya yaitu mengetahui arti dan kedudukan kata alam setiap ayat al-Qur’an.

Murid-murid yang sudah bisa menerapkan akan diberikan kesempatan untuk mengajar. Hal ini juga bagian dari eksperimen untuk mengetahui kemampuan anak dalam memahami materi dan memahamkan orang tentang materi itu. Di sisi lain, murid secara tidak langsung akan melakukan eksperimen metode apa yang tepat agar teman-temannya paham dan nyaman belajar dengannya. Setelah murid mampu menguasai konsep I’rab di al-Qur’an yang berharakat, murid dicoba untuk memahami teks Arab yang tidak berharakat. Sehingga anak bisa belajar mandiri khazanah keislaman klasik maupun modern.