Oleh: Alhamana Dafa Akbar, Santri-Murid SMP Alam Nurul Furqon (Planet Nufo) Rembang asal Ruteng, NTT

Di suatu wilayah bagian timur Indonesia, tepatnya di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), terdapat sebuah kota kecil bernama Ruteng. Bagi sebagian besar orang, Ruteng mungkin masih terdengar asing. Bahkan, tidak sedikit yang belum mengetahui letak dan kondisi wilayah tersebut. Karena itulah, ketika saya berada di lingkungan baru, saya kerap merasa berbeda, seolah hanya saya sendiri yang berasal dari NTT.

Saya lahir dan besar di Ruteng. Saya tinggal bersama Ummi, Ayah, seorang adik perempuan, dan seorang adik laki-laki. Ummi saya lahir di Kota Rembang, sedangkan Ayah berasal dari Kota Demak. Saya dan kedua adik saya lahir di Ruteng. Saat ini, saya duduk di kelas 2 SMP, adik perempuan saya kelas 4 SD, dan adik laki-laki saya baru berusia dua tahun.

Sebelum menginjak bangku SMP, saya bersekolah di MI Amanah Ruteng, salah satu dari dua madrasah ibtidaiyah Islam yang ada di sana. Sejak kelas 4, Ayah sudah meminta saya mulai mencari pondok pesantren di Pulau Jawa, khususnya di Jawa Tengah. Namun, saat itu saya belum benar-benar memikirkan kelanjutan pendidikan. Fokus saya masih sebatas menikmati masa-masa SD.

Waktu berjalan begitu cepat. Tanpa terasa, saya sudah berada di penghujung masa MI. Di pertengahan semester dua, saya mulai didesak untuk segera menentukan pilihan pondok pesantren karena waktu kelulusan semakin dekat.

Setelah beberapa hari mencari, saya menemukan dua International Islamic Boarding School (IIBS) di Kota Malang, Jawa Timur. Saya langsung melaporkannya kepada Ummi dan Ayah. Kami berdiskusi panjang hingga akhirnya memutuskan untuk mendaftarkan diri ke kedua sekolah tersebut. Saya mengikuti tes di IIBS Al-Mahira Malang dan IIBS Ar-Rohmah Malang, lalu menunggu hasil pengumuman.

Alhamdulillah, saya dinyatakan diterima di kedua sekolah itu. Namun, di saat yang bersamaan, datanglah pendiri Pondok Pesantren Alam Nurul Furqon, Abah Nasih, ke Ruteng untuk melihat kondisi masyarakat setempat. Selama tiga hari, Abah Nasih berada di Ruteng. Pada suatu pagi, beliau mengisi kultum tentang “Tujuh Kewajiban terhadap Al-Qur’an” setelah salat Subuh hingga pukul tujuh pagi.

Dalam kesempatan itu, Abah Nasih banyak bercerita tentang kehebatan para santri Planet Nufo. Beliau juga mengetahui impian saya untuk suatu hari bisa dikenal luas, bahkan namanya muncul di pencarian Google. Abah lalu menyuruh saya mencari beberapa web dan nama santri Planet Nufo. Sejak saat itu, saya mulai tertarik dan membayangkan diri saya berada di sana.

Sebelum kembali ke Semarang, Abah Nasih berkata, “Dafa, nanti SMP-nya di Nufo saja, biar dekat rumah dan namamu bisa ada di Google.”

Saya hanya menjawab pasrah, “Iya, Pakde.”

Malam harinya, Ummi dan kedua mbak saya kembali menasihati saya agar bersekolah di Planet Nufo. Saya sempat bimbang. Di satu sisi, saya ingin merantau jauh ke Malang. Di sisi lain, bersekolah dekat rumah juga terasa lebih nyaman. Akhirnya, saya memilih pasrah dan menyerahkan keputusan terbaik kepada Allah.

Sepulang dari liburan keluarga ke Labuan Bajo, saya diminta mengisi formulir pendaftaran Planet Nufo. Tak lama setelah itu, saya mengikuti tes dan dinyatakan diterima.

Tanggal 6 Juni 2024 menjadi hari bersejarah dalam hidup saya. Saya diantar ke Planet Nufo pada sore hari, sekitar pukul 16.30. Jaraknya hanya sekitar 200 meter dari rumah. Saat azan Magrib berkumandang, saya resmi menempati kamar pertama saya: Gorong-Gorong atau Kapsul 6.

Hari-hari awal di Planet Nufo diisi dengan Test Camp selama satu minggu, dilanjutkan MPLSO (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah dan Organisasi). Dari sinilah saya mulai mengenal lingkungan, budaya, dan organisasi yang ada di Planet Nufo.

Awalnya, saya tertarik masuk IPNU. Namun, setelah pertimbangan panjang, saya memilih bergabung dengan PII (Pelajar Islam Indonesia) agar dapat belajar mengenal berbagai latar belakang organisasi Islam. Pada akhir 2024, saya direkrut menjadi anggota OSIS bagian Tata Ruang. Kemudian, pada Mei 2025, saya dipercaya menjadi Ketua Umum PK PII Planet Nufo periode 2025–2026. Tidak berhenti di situ, pada Desember 2025, saya dilantik sebagai Ketua OSIS SMP Alam Nurul Furqon periode 2025–2026.

Saya masuk Planet Nufo bukan karena pilihan yang mudah. Jika boleh memilih sejak awal, mungkin saya akan memilih Malang. Namun, Alhamdulillah, dari pilihan yang terasa rumit itulah, saya justru menemukan alur kehidupan terbaik.

Sebagai salah satu santri dari NTT dalam sejarah Planet Nufo, saya ingin membuktikan bahwa santri dari timur juga mampu berprestasi dan menjadi yang terbaik. Dari pilihan yang penuh keraguan, saya belajar bahwa takdir Allah selalu menyimpan rencana paling indah.