Keberadaan Pesantren-Sekolah Alam Nurul Furqon atau yang lebih dikenal dengan Planet NUFO Mlagen, Pamotan, Rembang, sesungguhnya tidak tiba-tiba. Ada proses panjang yang telah terjadi sebelumnya. Medio tahun 2011, Dr. Mohammad Nasih, atau yang oleh para santrinya akrab disapa Abah Nasih atau Abana mendirikan Rumah Perkaderan dan Tahfidh al-Qur’an Monasmuda Institute Semarang. Tepatnya di depan kampus III IAIN (kini UIN) Walisongo Semarang. Di pesantren plus ini digembleng puluhan mahasiswa untuk menjadi manusia berkualitas muslim intelektual profesional. Aktivitasnya padat untuk melakukan kajian keislaman dan keIndonesiaan, mulai setelah shubuh sampai larut malam. Dari sinilah lahir sarjana-sarjana baru yang diwajibkan untuk langsung melanjutkan studi pascasarjana. Kini ada ratusan mahasantri Monasmuda Institute yang sudah kuliah pascasarjana, bahkan dua mentor awalnya sudah menyandang gelas doktor.
Tahun 2017, Alm. Gus Arief, putera Kiai Masduqi, pengasuh pesantren Kasingan Rembang memondokkan puteri bungsunya yang baru kelas V SD, Aisya Sasmaya, di Monasmuda Institute. Saat itu, Monasmuda Institute membuat program khusus santri kecil (Sancil) saat liburan sekolah. Anak-anak belia yang mengikuti program ini difokuskan untuk menguasai tashrif. Dan dengan metode yang didesain menyenangkan seperti nyanyian, anak-anak kecil yang sebelumnya tidak pernah mondok itu bisa menguasai tashrif yang biasanya di pesantren-pesantren konvensional baru bisa dikuasai dalam waktu bertahun-tahun. Ini membuat Gus Arief agak terheran-heran. Dan beliau kemudian menanyakan kenapa materi tashrif ini yang menjadi fokus pelajaran. Abah Nasih menyampaikan bahwa itu adalah pola kata dalam bahasa Arab yang akan menjadi modal bagi anak-anak untuk menguasai bahasa al-Qur’an. Dengan menguasai bahasa Arab al-Qur’an, semoga mereka nantinya bisa menghafalkan al-Qur’an dengan mudah.
Gus Arief yang memang ingin agar Aisya menjadi hafidhah, langsung menyampaikan idenya untuk membuat sekolah sendiri yang diintegrasikan dengan pesantren. Dan sekolah itu akan menjadi sekolah bagi Aisyah selepas SD nantinya. Abana yang juga memiliki putra-putri yang masih belia langsung menangkap ini karena kebutuhan mereka berdua sama. Mereka ingin agar anak-anak mereka berada dalam pantauan sendiri, sehingga hasil belajar dan menghafal mereka nanti bisa optimal. Abana langsung mengumpulkan mahasantri angkatan 2014 Monasmuda Institute yang pada tahun 2018 sudah diterima di program pascasarjana. Jumlah mereka 14 orang. Setelah menjelaskan lengkap dengan analisis SWOT-nya, para mahasantri/wati yang semuanya adalah juga para aktivis HMI itu setuju untuk menjadi guru sembari menjalani proses kuliah S2. Tim guru ini kemudian bertambah dengan adanya lulusan baru tahun berikutnya dan dua orang mahasantri yang kuliah di China menyelesaikan studi dan bergabung dengan mereka.
Planet NUFO berdiri tahun ajaran 2019 dengan murid awal hanya 9 orang, sehingga sering disebut sebagai walisongo. Namun kemudian bertambah menjadi 15 orang. Namun, di Planet NUFO juga ada belasan santri peserta program menghafal al-Qur’an 10 bulan. Mereka menjadi senior yang turut menjadi mentor para santri usia SMP yang disebut dengan Sanja (Santri Remaja). Karena itu, walaupun baru berdiri, suasana Planet NUFO terasa sangat dinamis. Aktivitas belajar sekolah dan menghafalkan al-Qur’an dengan didahului memahai maknanya terjadi penuh dengan gairah.
Tahun kedua, pendaftar Planet NUFO mulai banyak. Satu rombongan belajar untuk masuk kelas I SMP NUFO terpenuhi ditambah dengan santri usia sekolah menengah yang terdaftar di MA Darul Huda Mlagen dan peserta program tahfidh, baik lulusan SMU maupun sarjana. Suasana menjadi semakin dinamis dengan banyak santri-murid yang memiliki bakat dan minat yang kian beragam dan saling melengkapi. Ada yang mahir alat musik: gitar, piano, biola, dll. Ada yang pernah juara panahan, bela diri, dll. Mereka yang menguasai alat musik dan suka bernyanyi dikumpulkan ke dalam satu grum band yang diberi nama BENEFIT.
Para santri-murid yang hoby merawat tanaman dan hewan difasilitasi lahan dan juga modal untuk bertani dan beternak. Tak heran di Planet NUFO terdapat ratusan domba, ayam, burung puyuh, maggot, bahkan juga sapi dan kerbau. Para santri memang didoktrin untuk menjadi pribadi yang mandiri secara intelektual dan finansial. Dengan demikian, diharapkan mereka akan menjadi insan-insan independen yang akan lebih mudah untuk berpihak kepada kebenaran karena tidak ada yang ditakuti selain Allah.
Tahun 2021, walaupun pandemi Covid-19 masih dianggap sebagai masalah, Planet NUFO justru didatangi para santri dari berbagai penjuru Nusantara, dari Sumatera Barat, sampai Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Tenggara. Papua yang belum ada. Karena itu, Planet NUFO nyaris menjadi miniatur Islam Indonesia. Terlebih lagi di dalamnya, para santri difasilitasi dengan organisasi sesuai dengan latar belakang afiliasi ormas keluarga. Karena itu, di dalamnya terdapat IPM (Ikatan Pelajar Muhammadiyah), IPNU (Ikatan Pelajar NU), PII (Pelajar Islam Indonesia), dan juga HPI (Himpunan Pelajar Islam). Para santri-murid belia sudah terbiasa dengan perbedaan yang sering mereka lihat dan rasakan dalam interaksi sehari-hari. Jika yang menjadi imam Muhamamdiyah, maka makmum yang biasanya qunut di rumah tidak akan merasa bahwa shalat mereka tidak sah. Demikian pula sebaliknya. Juga perbedaan awal puasa dan lebaran. Mereka dibebaskan untuk memilih sesuai dengan argumentasi yang mereka pilih. (AH)