Menjawab Fenemonen Yang Jadi Kiai adalah Anak Kiai

Oleh: Dr. Mohammad Nasih
Pengasuh Pesantren-Sekolah Alam Planet NUFO (Nurul Furqon) Mlagen, Pamotan, Rembang; Guru Utama di Rumah Perkaderan dan Tahfidh al-Qur’an Monasmuda Institute Semarang; Pengajar di FISIP UMJ dan Pascasarjana Ilmu Politik UI

Tahun 2011, bersama dengan beberapa yunior, saya mendirikan sebuah lembaga perkaderan yang desainnya lebih tepat disebut sebagai pesantren plus. Kini namanya Rumah Perkaderan dan Tahfidh al-Qur’an Monasmuda Institute Semarang. Di sini, saya rutin mengajar, mulai dari jurnalistik dengan fokus untuk bisa menulis opini di media sampai Tafsir al-Qur’an. Tafsir yang kami jadikan sebagai bahan kajian adalah Tafsir Jalalayn. Kenapa Jalalayn? Pertimbangannya sangat sederhana: harganya terjangkau oleh para mahasantri yang pada umumnya berasal dari keluarga yang belum kuat ekonomi.

Sebenarnya, saya sudah melihat bahwa cukup banyak penafsiran yang tidak relevan atau bahkan tidak tepat di dalamnya. Ini saya sikapi dengan sekaligus membangun paradigma kritis para mahasantri, yang biasanya tidak dilakukan di kalangan pesantren, karena cenderung menerima apa adanya pendapat ulama’ sebelumnya. Bahkan sikap kritis itu cenderung dianggap adab yang buruk (suu’ al-adab) kepada penulis kitab yang dianggap memiliki otoritas keilmuan jauh lebih tinggi. Misalnya, Syaikh Jalaluddin menafsirkan al-ra’d di dalam surat al-Baqarah: 19 sebagai malaikat yang diberi kuasa atas petir atau suara malaikat. Tentu saja penafsiran ini tidak akan bisa diterima oleh para pengkaji fisika modern. Sebab, petir terjadi akibat adanya beda potensial yang besar, sehingga terjadi lompatan dari potensial tinggi ke rendah atau sebaliknya. Saya mengajak para santri yang semuanya adalah mahasiswa untuk berpikir secara saintifik, karena justru kewajiban umat Islam saat ini adalah membuktikan kemu’jizatan al-Qur’an dalam aspek ini.

Namun, bukan ini permasalahan yang hendak saya bahas dalam tulisan saya kali ini. Namun, seberapa efektif metode mengajar dengan cara membacakan makna teks berbahasa Arab itu, untuk membuat mahasantri juga bisa membacanya? Awalnya saya tidak berpikir tentang ini, karena metode yang sering disebut “bandongan” ini sudah digunakan secara umum di hampir seluruh pesantren, yang di sebagiannya digabungkan dengan metode setoran atau “sorogan”. Maksud istilah yang terakhir ini adalah santri membaca teks di depan ustadz. Namun, biasanya ini terkendala oleh waktu. Apalagi jika rasio antara ustadz dengan santri sangat kecil. Dan ini adalah kendala umum di pesantren.
Ternyata metode ini saya anggap kurang efektif, karena setelah saya evaluasi, hasilnya tidak seperti yang saya harapkan. Saya mulai meraba-raba dan menarik simpulan bahwa metode pengajian massal inilah yang menyebabkan jumlah santri yang mampu membaca kitab kuning di pada umumnya pesantren sangat minim. Kalau mau menggunakan kriteria yang rigid, prosentasenya tidak sampai 2%. Padahal saya membuat rumah perkaderan ini, dengan mahasantri yang sudah diseleksi, hasilnya bisa mendekati 100%. Ini yang kemudian menyentak kesadaran saya, dan harus melakukan inovasi dalam proses belajar-mengajar yang lebih efektif.
Karena itu, saya kemudian membagi para santri ke dalam kelompok-kelompok mentoring. Saya mengelompokkan mereka sesuai dengan kemampuan mereka dan di setiap kelompok itu saya tugaskan seorang santri dengan kemampuan di atas rata-rata agar bisa bertindak sebagai mentor yang mengajari secara lebih intensif. Untuk keperluan ini, saya membuat rasio mentor:menti 1:4. Dengan demikian, seluruh santri bisa mendapatkan perhatian yang cukup. Biasanya juga saya beri latihan dengan menggunakan teks yang sudah ada terjemahannya, sehingga mereka tinggal berlatih untuk meng-i’rabnya saja.

Namun, karena kemampuan para santri memang berbeda-beda, tetap saja cara ini tidak optimal. Teori kecerdasan dari Howard Gardner, yang salah satunya adalah kecerdasan linguistic, membuat saya harus menerima kenyataan bahwa memang tidak sedikit santri yang tidak bisa langsung bisa memahami teks. Mereka membutuhkan pengulangan, bahkan untuk memahami teks yang sesungguhnya sederhana sekalipun. Padahal sebagian ayat al-Qur’an menggunakan gaya bahasa ungkapan dan rangkaiannya didesain puitis yang kadang membuat kata-katanya ditukar posisinya (al-Zukhruf: 31).

Bahkan walaupun kemudian saya temukan cara baru dengan memilihkan surat-surat di dalam al-Qur’an yang menggunakan struktur kalimat yang sederhana dan kisahnya berurutan, yaitu surat Yusuf dan al-Qashash, tetapi tetap saja ada yang membutuhkan pengulangan. Sedangkan untuk mengulang-ulang mengajari mereka yang tidak menonjol dalam kecerdasan linguistik itu, tentu saja akan buang-buang waktu. Karena itulah, saya mulai membuat rekaman sebagai dua surat tersebut, agar setiap santri bisa mendengarkannya kapan pun ia memiliki kesempatan. Dengan cara ini, tidak ada santri yang memiliki alasan untuk tidak bisa karena tidak ada yang mengajar pada saat dia memiliki kesempatan. Sebab, rekaman itu saya minta untuk diputar seharian full.

Selain itu, untuk santri pemula yang ada di Planet NUFO, karena usia mereka masih belia, saya meminta mereka membuat kamus pribadi. Setiap kata yang sebelumnya tidak diketahui artinya, harus dicatat dalam buku khusus untuk kamus pribadi ini. Dengan asumsi mereka benar-benar pemula dan memulai dari nol, maka jika setiap hari mereka menghafalkan 10 kosa kata saja, mereka akan relatif menguasai makna seluruh kata dalam al-Qur’an hanya dalam 10 bulan saja. Dan inilah yang membuat saya terinspirasi untuk membuat program menghafalkan al-Qur’an 10 bulan. Sebab, al-Qur’an memang terdiri atas 77.439 kata. Namun, sesungguhnya jumlah yang sangat banyak itu sesungguhnya berasal dari hanya kira-kira 2728 kata dasar saja (Catatan: Saya baru sekali menghitung, sehingga masih ada peluang salah). Jika benar-benar istiqamah menghafal minimal 10 kata per hari, maka dalam waktu 10 bulan, mestinya sudah ada 3000 kata yang bisa direkam di dalam kepala, sudah melampaui jumlah kata dasar di dalam al-Qur’an. Dengan cara ini, kemampuan santri untuk bisa mengartikan al-Qur’an menjadi murni karena bakat dengan kecerdasan dan semangat mereka untuk belajar secara optimal.

Inovasi ini sangat diperlukan untuk membuat santri bisa belajar dengan optimal dengan mendapatkan sentuhan personal. Sebab, dengan kecerdasan yang sama, tetapi dengan sentuhan yang berbeda, tentu saja hasilnya akan berbeda. Dan inilah yang menyebabkan anak-anak kiai memiliki kemampuan lebih dibandingkan dengan santri biasa. Bukan karena anak kiai mendapatkan ilmu ladunni. Namun karena santri biasa tidak mendapatkan sentuhan secara privat. Sedangkan anak kiai mendapatkan sentuhan privat dari orang tuanya ditambah lagi dengan tuntutan untuk mengajar untuk melanjutkan eksistensi pesantren. Belum lagi, anak kiai memiliki kesempatan untuk mengajar yang sesungguhnya merupakan latihan untuk mengasah retorika dan dengan itu juga dipaksa untuk berpikir. Kesempatan ini tidak didapatkan oleh santri biasa. Karena itu, saya berharap, inovasi ini bisa menjadi jalan untuk memberikan peluang yang sama kepada anak siapa pun untuk bisa menguasai khazanah intelektual Islam, baik mereka anak kiai atau bukan kiai. Wallahu a’lam bi al-shawab.