Oleh: Ida Ariyani, S.Sos.I.
Guru Keahlian Fotografi dan Videografi SMP Alam Nurul Furqon, Mahasiwa Pascasarjana Komunikasi Penyiaran Islam UIN Walisongo Semarang, Sekretaris Jendral Kohati Badko Jateng-D.I.Yogyakarta Periode 2019-2021
Having an ability to sell ideas atau pandai menjual ide merupakan salah satu kunci kesuksesan menurut Thomas J. Standley, Ph.D., seorang penulis “Millionaire Mind”. Stanley melakukan riset pada 1001 responden yang terdiri dari 733 respondennya adalah seorang miliuner di Amerika. Pada penelitian itu, ada 100 faktor yang memungkinkan seseorang untuk sukses. Namun sepuluh teratas dari hasil penelitiannya tidak menyangkut tentang IQ yang dimiliki seseorang atau sekolah favorit mana yang ditempati seseorang. Sepuluh faktor kesuksesan itu meliputi being honest with all people, well-disciplined, getting along with people, having a supportive spouse, working harder than most people, loving business, having strong leadership qualities, having a very competitive spirit, being very well organized, dan having an ability to sell ideas
Gagasan Stanley sesuai dengan pengamatan Ilmuan Politik Dr. Mohammad Nasih, M.S.I., pendiri Pondok Pesantren sekaligus SMP Alam Nurul Furqon atau lebih dikenal dengan Planet Nufo. Ide tersebut disesuaikan dengan realita yang dialaminya. Setiap anak didik di pesantren yang terletak di Desa Mlagen Kecamatan Pamotan Kabupaten Rembang didoktrin untuk memegang teguh sepuluh syarat kesuksesan, di antaranya jujur, disiplin keras, pandai bergaul, bekerja keras dan cerdas, mencintai pekerjaan, memiliki kemampuan memimpin, (bekerjasama, bersinergi, dan berkompetisi), hidup teratur, pandai menjual ide, dan memiliki pasangan yang mendukung.
Seluruh faktor kesuksesan itu benar-benar diupayakan agar diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu contohnya adalah setiap hari ada latihan khutbah agar santri-murid di Planet Nufo pandai dalam menyampaikan ide gagasan mereka di depan banyak orang. Kegitan itu dilakukan setiap hari setalah agenda shalat dhuha berjama’ah. Shalat dhuha merupakan pengganti bel masuk KBM dan khutbah adalah pengganti apel pagi. Setiap santri-murid baik SMP maupun SLTA berkesempatan untuk menjadi petugas. Setiap hari ada tiga anak yang bertugas. Masing-masing mendapatkan bagian sebagi muraqi, khatib, dan moderator.
Santri-murid yang bertugas akan langsung berada di tempat masing-masing setelah shalat dhuha yaitu sekitar pukul 07.30 WIB. Muraqi menyampaikan kalimat tarqiyyah sebagai tanda bahwa khatib akan segera naik ke mimbar. Setelah itu, khatib naik ke mimbar dan menyampaikan pesan untuk para jama’ah selama minimal tujuh menit. Moderator akan membuka sesi kritik dan saran, serta sesi diskusi bila waktu belum menunjukkan pukul 08.00 WIB. Santri-murid yang berjama’ah akan memberikan komentar, bila petugas tidak sesuai dengan standart yang telah diajarkan oleh guru. Mereka juga akan bertanya tentang materi yang mereka anggap membingungkan.
“Apakah semua santri-murid di Planet Nufo sudah mahir berbicara di depan forum?”
Belum semua, namun sebagian besar yang sudah mulai bisa menguasai forum dan menyampaikan ide dengan baik. Sebagian di antara mereka masih ada yang grogi, tidak berinteraksi dengan audiens, keringat dingin, arah pandangan selalu ke bawah, dan berbagai kejadian lucu lainnya. Rata-rata jawaban santri-murid yang mengalami hal-hal itu adalah anak-anak yang dulunya tidak pernah berbicara di depan umum. Oleh sebab itu, guru-guru di Planet Nufo selalu melakukan evaluasi dan memberikan tips agar mereka bisa berbicara di depan umum dan menyampaikan ide dengan baik. Selain penguasaan materi, kemampuan untuk berkomunikasi non-verbal juga menjadi solusi.
Ketika seseorang akan berbicara, maka bukan hanya kemampuan verbal yang penting. Kemampuan untuk berkomunikasi non-verbal sangat berpengaruh agar nuansa forum lebih hidup dan pesan yang akan disampaikan benar-benar dapat diterima bahkan dirasakan oleh orang yang dituju. Ada dua instrumen dalam komunikasi non-verbal yang perlu diperhatikan, yaitu kinescics dan paralanguage. Istilah umum untuk kinesics adalah aktivitas tubah atau bahasa tubuh seseorang ketika berbicara. Adapun paralanguage adalah pesan auditori yang diciptakan saat berbicara. Kedua instrument ini memiliki bagian-bagian kecil yang dapat membawa seseorang menjadi lebih mempengaruhi orang lain ketika berbicara.
Bagian kinesics meliputi kontak mata, ekspresi, emosi, isyarat, dan hiptics. Pertama kontak mata. Banyak motivator yang menyarankan untuk melihat ubun-ubun audiens atau menganggap semua orang yang di depannya adalah botol atau benda mati. Ini adalah anggapan yang kurang tepat. Pada umumnya orang akan memperhatikan sesuatu yang melibatkan dia, baru sesuatu yang membuatnya tertarik. Kontak mata akan membuat seseorang merasa diajak berinteraksi, sehingga mereka akan memperhatikan. Apabila mereka tertarik, audiens akan lebih memperhatikan. Apabila audiens tidak tertarik, minimal mereka akan menghargai eksistensi orang yang mengajak mereka berbicara. Perhatian dan apresiasi dari audiens inilah yang akan menambah kepercayaan diri bagi orang yang berbicara.
Bagian kedua dari kinesics adalah ekspresi atau lebih dikenal dengan mimik wajah. Ekspresi teramat penting untuk menarik perhatian orang yang diajak berbicara. Ekpresi juga bisa menghidupkan suasana forum. Namun ekspresi ini harus melihat situasi dan kondisi. Bila berkomunikasi di acara formal, maka ekspresi komunikator atau orang yang berbicara tidak boleh berlebihan atau terlalu ekspresif agar nuansa formal tetap terjaga. Bagian ketiga yaitu emosi. Emosi ini berhubungan dengan ekspresi dan intonasi. Sebab emosi berada dalam diri seseorang yang dikeluarkan dalam wujud ekspresi, intonasi, dan bahkan sampai gerakan yang berlebihan. Emosi tidak melulu tentang marah, namun bisa bahagia, haru, sedih, terkejut, bingung, dan bentuk lain yang sesuai dengan isi hati. Emosi ini harus diciptakan oleh seorang komunikator untuk membangun suasana dan mengajak audiens larut dalam suasana itu.
Selanjutnya adalah isyarat dan heptics atau sikap badan. Isyarat ini berupa kode yang dimengerti oleh orang yang diberikan kode. Isyarat ini bisa berupa diam, dan sikap badan. Contoh seseorang yang hanya meletakkan jari telunjuknya di bibir, maka orang yang awalnya berbicara akan diam. Isyarat untuk audiens haruslah isyarat umum. Bila ingin memberikan isyarat khusus, maka sebaiknya disampaikan pada audiens terlebih dahulu. Selanjutnya adalah sikap badan. Sikap badan ini menunjukkan karakter diri. Audiens akan menilai karakter seseorang dari cara bersikap. Orang yang tidak bisa diam akan cenderung dinilai pecicilan dan justru akan merusak konsentrasi audiens. Maka seorang komunikator harus pandai dalam bersikap.
Paralanguage pada umumnya akan mempengaruhi perasaan audiens. Bagi komunikator, paralanguage adalah pendukung kinesics. Bagian-bagian dari paralanguage yaitu pola titi nada atau vocal pitch atau tinggi rendahnya nada, volume berupa keras atau lembutnya suara, kecepatan seseorang dalam melafalkan kata-kata, dan kualitas suara atau bunyi suara seseorang. Semua bagian dari paralanguage ini dapat dilatih dengan mudah, kecuali kualitas suara. Butuh waktu dan ketelatenan dalam memperbaiki kualitas suara, kecuali orang yang mewarisi sifat genetic bersuara emas. Kesempatan orang tersebut untuk menarik perharian audiens akan semakin besar.