Pesantren-Sekolah Alam Nurul Furqon, Mlagen, Pamotan, Rembang, Jateng, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Planet NUFO seolah tak pernah lelah melakukan inovasi. Para pendiri, guru, ustadz/ah, dan para mentor selalu berusaha membuat cara-cara baru untuk meningkatkan kualitas santri-murid di Planet NUFO, baik dalam aspek ilmu pengetahuan maupun ketrampilan hidup. Planet NUFO menyambut sangat antusias perubahan seleksi masuk perguruan tinggi yang akan dimulai tahun 2023 dengan menggunakan test skolastik. Ini selaras dengan visi Planet NUFO untuk melahirkan santri-murid yang memiliki daya nalar kuat dan kritis. Ini sudah dimulai sejak awal Planet NUFO berdiri dengan memastikan santri-murid terlebih dahulu menguasai makna al-Qur’an sebelum menghafalkannya.
Lebih spesifik lagi, ada surat-surat tertentu yang dijadikan dan kemudian juga disebut sebagai surat-surat modal untuk bisa memahami makna ayat-ayat al-Qur’an secara keseluruhan. Metode ini pertama kali diperkenalkan oleh Pendiri dan Pengasuh Planet NUFO, Ustadz Dr. Mohammad Nasih, M.Si. yang juga pengajar di Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ. Berikut wawancara eksklusif planetnufo.com dengan ayah lima anak yang akrab disapa dengan Abah Nasih atau Abana:
Planetnufo.com: “Apa yang dimaksud kurikulum skolastik?”
Abana: “Ini adalah kurikulum untuk membuat santri-murid memiliki kemampuan kognitif yang mencakup penalaran umum, pemahaman bacaan dan tulisan, pengetahuan dan pemahaman umum, serta pengetahuan kuantitatif. Kemampuan ini sangat penting untuk bisa membuat santri-murid menjadi pribadi-pribadi yang sukses, karena mampu melakukan analisis secara akurat. Kurikulum ini akan mengondisikan santri-murid memiliki kemampuan beberapa kemampuan, yaitu: penalaran umum yang meliputi: kesesuaian pernyataan, penalaran analitis, dan penarikan simpulan logis. Lalu mampu memahami bacaan atau tulisan dengan memahami isi bacaan dan penalaran tentangnya. Kalau sudah memiliki kemampuan ini, santri-murid akan mudah diajak untuk menganalisis problematika kontekstual. Matematika dalam konteks ini, minimal dasar-dasarnya, juga sangat penting.
Planetnufo.com: “Apa latar belakang membuat kurikulum skolastik ini?”
Baladena: “Sebenarnya, kami sudah menerapkan kurikulum ini. Terutama saya dalam mengajar teks, selalu detil kata ganti nya, mereka, dll itu merujuk ke mana. Kalau ada jika, harus dipastikan ada maka-nya. Itu kan diajarkan juga dalam matematika. Jika saya makan, maka saya kenyang. Itu yang paling logis. Jika ada kalimat “jika saya makan, maka dia kencing di kamar mandi”, itu pasti ada masalah. Nah, kalau ditanya latar belakang, saya akan berterus terang saja bahwa ini karena secara formal pemerintah akan menggunakan test skolastik untuk ujian masuk perguruan tinggi. Tetapi, sesungguhnya saya memiliki pengalaman tersendiri dalam konteks ini. Saya ini telah menjalani segala model pendidikan. Alhamdulillah. Pernah sekolah di desa pelosok sampai di ibukota negara. Pernah di pesantren, pernah di perguruan tinggi “sekuler”. SD dan SMP swasta, dan setelah itu sampai S3 perguruan tinggi negeri. Nah, saya tidak pernah tidak lulus ujian masuk. Dan nilai saya di atas rata-rata lo. Test terakhir adalah test untuk sertifikasi dosen. Dan saya tidak pernah melakukan persiapan khusus untuk menjalani test itu. Mau test ya santai saja. Jalani saja. Saya kerjakan sesuai dengan yang sudah pernah saya baca dan kemudian mengandalkan penalaran saja. Nah, dalam mengerjakan tugas-tugas itu, saya banyak tertolong oleh kebiasaan saya membaca teks Arab secara detil. Di pesantren, kalau ngajinya benar ya, sebenarnya ini sudah diajarkan. Hanya saja, seringkali yang ngajar juga tidak jelas, tidak detil. Tapi kalau benar-benar detil dan benar, ini canggih sekali.”
Planetnufo.com: “Lalu bagaimana praktek konkret kurikulum skolastik ini?”
Abana: “Saya sekali lagi menggunakan surat Yusuf sebagai surat modal. Di dalam surat ini, kita bisa menemukan pelajaran yang lengkap, tidak hanya literasi tetapi juga numerasi. Ingat mimpi Nabi Yusuf? Melihat 11 bintang, bulan, dan matahari. Iya kan. Lalu dalam ayat-ayat selanjutnya akan kita temukan kalimat-kalimat yang memberikan pelajaran logika matematika. Nah, kalau anak-anak sejak belia sudah kita biasakan dengan bacaan ini, nalarnya akan hidup.”
Planetnufo.com: “Kenapa lagi-lagi pilihannya adalah surat Yusuf?”
Abana: “Ini sudah sering saya jelaskan. Tetapi bolehlah saya jelaskan lagi, karena ini punya konteks yang agak berbeda. Tapi pada dasarnya, surat ini saya pilih karena kalimat-kalimatnya sederhana. Membicarakan tentang peristiwa yang mudah dicerna oleh anak kecil sekalipun, dan yang lebih menarik adalah bentuk cerita. Alurnya mudah ditangkap dan diingat oleh anak-anak. Kalimat-kalimat yang sederhana itu, akan memudahkan anak-anak belajar membuat kalimat yang baik dan logis juga. Dimulai dari menceritakan ulang saja, mereka sudah akan dapat pelajaran untuk membuat kalimat. Dan yang diceritakan itu bermanfaat. Sebab, yang mereka ceritakan adalah kisah yang terbaik. Kisah di dalam al-Qur’an kan kisah terbaik, kata Allah. Jadi pelajarannya banyak. Coba kita hitung. Anak-anak jadi tahu kisah terbaik, satu. Mereka jadi terbiasa dengan kalimat logis dan mereka bisa belajar juga untuk membuat kalimat dengan pola yang sama, dua. Mereka jadi mudah menghafalkan ayat, itu manfaat ketiga. Dan yang keempat, di masa yang akan datang, saat logika mereka makin tajam, daya nalar mereka sempurna, maka mereka akan mudah menangkap ibrah yang ada di dalamnya dan menyadari bahwa di dalam al-Qur’an ada panduan dan solusi bagi seluruh dinamika kehidupan umat manusia. Jangankan ujian masuk perguruan tinggi, ujian dalam segala aspek kehidupan pun akan bisa mereka selesaikan. Yang terjadi selama ini, karena mereka tidak memiliki kemampuan skolastik yang baik, maka mereka hanya mampu menyelesaikan soal-soal ujian di sekolah, tetapi tidak mampu menyelesaikan persoalan hidup mereka sendiri.”
Planetnufo.com: “Wah, kalau begini, mestinya perlu guru-guru yang canggih dong, Bah?”
Abana: “Pasti itu. Tapi, di era teknologi canggih sekarang ini kita bisa menutupi kekurangan jika masih ada. Seperti yang saya lakukan. Saya membuat rekaman dengan penjelasan yang sangat detil. Para santri-murid langsung mendengarkan di bawah mentoring oleh para guru/ustadz/ah/mentor. Saya juga meminta kepada para mentor untuk merekam bacaan mereka, untuk memastikan bahwa mereka yang mengajar dan membina sudah menguasai dengan baik. Kalau mereka yang menjadi mentor saja tidak beres, justru akan membuat santri-murid yang sedang belajar dasar-dasarnya akan bingung. Belajar ilmu dasar harus langsung benar. Kalau salah, ya justru akan membingungkan dan logika anak menjadi rusak.”
Planetnufo.com: “Tapi ujian masuk perguruan tinggi kan ada bahasa Inggrisnya juga, Bah?”
Abana: “Bahasa Inggris itu jauh lebih mudah dibandingkan bahasa Arab. Prinsip berbahasa itu kan sama, membiasakan. Nah, yang terpenting mengetahui grammernya kalau mau ujian dengan nilai yang baik. Kalau santri-murid menguasai bahasa Arab, saya jamin akan mudah belajar bahasa Inggris. Perubahan bentuk dalam bahasa Inggris itu hanya empat: go-going-went-gone, ditambah dengan tambahan karena jamak s dan es, lalu untuk superlatif, dan apa lagi? Anggap saja jadi dua puluh. Kalau dalam bahasa Arab, satu kata bisa berubah bentuk menjadi 200-an kata. Itulah sebab, tidak banyak sesungguhnya santri yang sukses dalam menguasai kitab kuning dalam arti yang sesungguhnya. Saya sering katakana juga, jumlahnya tidak lebih dari 2 persen saja. Karena sudah terbiasa belajar ini, santri akan mudah belajar bahasa Inggris. Bahasa dalam arti yang benar ya. Bukan sekedar ngomong saja. Kalau sekedar ngomong, orang gila di Inggris kan bicara bahasa Inggris. TKI di Arab Saudi juga ngomong bahasa Arab. Tapi tidak ada di antara mereka yang pulang kampung lalu jadi ulama’.”
Planetnufo.com: “Sebenarnya target apa yang membuat Abah seperti terus melakukan usaha yang sangat serius untuk mengembangkan cara-cara baru?”
Abana: “Saya ini bikin pesantren dan sekolah sementara sudah ada sekolah di kampung saya, didirikan oleh bapak saya bahkan. Bapak-ibu saya sudah merintis pesantren al-Falah yang sekarang diteruskan adik saya. Jaraknya hanya 50 meter saja dari Planet NUFO. Kalau saya membuat sesuatu yang hasilnya sama saja dengan yang sudah ada, ngapain saya repot-repot bolak-balik Jakarta-Semarang-Rembang? Mending di rumah saja menikmati hidup kan. Dan lembaga pendidikan ini saya buat untuk mendidik anak-anak saya. Dan lebih dari semua itu, yang saya buat ini adalah pertaruhan nama saya. Saya ingin mereka benar-benar mendalam belajar ilmu sampai fasih lisan dan tulisan, lalu memiliki usaha yang terbaik sehingga memiliki harta yang cukup untuk berjuang, juga memiliki skill kepemimpinan yang andal sehingga bisa jadi pemimpin masa depan. Kalau saya berhasil, mungkin ini yang bisa disebut membangun nama baik. Semoga nama saya nanti disebut oleh anak-anak ideologis saya dalam doa-doa mereka yang dengan itu saya mendapatkan rahmat dan ridla Allah Swt..”