Sebelumnya, dengarkan Mars Planet Nufo sebagai berikut: https://www.youtube.com/watch?v=4ukw2uHZn9s

Pesantren dan Sekolah Alam Nurul Furqon atau yang lebih dikenal dengan Planet NUFO, Mlagen, Pamotan, Rembang selalu berusaha membuat semangat belajar dan berkarya para santri-muridnya semakin kuat. Bukan hanya dengan retorika yang membakar, tetapi juga dengan lagu. Di antaranya adalah Mars Planet NUFO yang berjudul “Tanda Alam” yang diciptakan oleh Pengasuh Planet NUFO, Dr. Mohammad Nasih, atau lebih dikenal dengan sapaan Abah Nasih atau Abana. Lyricnya adalah:

TANDA ALAM
Kami tunas-tunas muda
Harapan umat dan bangsa
Belajar bersama
Bekerja berjuang
Sepenuh tenaga

Menyatu dengan alam raya
Untuk melihat, mendengar
Merasa keagungan Allah Ta’ala\
Yang Maha Kuasa

Satukanlah langkah kita
Wujudkan kejayaan umat mulia (2x)
Dengan ilmu, dengan harta, dengan kuasa

Kuasai sains dan teknologi
Tanda kebenaran firman Ilahi (2x)
Membaca, merenung, dan meneliti

Yaa Allah yaa Rabbii tolong kami ini
Yaa Allah yaa Rabbii ridlai tekad kami

Bukan hanya kalimatnya yang sangat indah, tetapi juga memiliki makna yang juga menguatkan, mendorong, dan menggerakkan. Berikut ini, wawancara langsung dengan Abana.

Planetnufo.com: “Abah Nasih, kami ingin tahu, apa yang menginspirasi Abah sehingga lahir Mars Planet NUFO?”

Abana: “Yang pertama, sebagai sebuah lembaga pendidikan dengan target kaderisasi anak belia muslim, Planet NUFO harus memiliki sebuah lagu yang sering dinyanyikan oleh para santri-muridnya dan dari nyanyian itu mereka memahami dengan baik visi dan missi Planet NUFO. Kalau mereka mengucapkannya sendiri, tentu akan lebih meresap ke dalam hati. Tentu saja tidak cukup hanya dengan diucapkan atau dinyanyikan, tetapi harus dengan penghayatan, sehingga mengetahui makna yang sesungguhnya.”

Planetnufo.com: “Nah ini dia, Bah. Apa makna sesungguhnya dalam kalimat-kalimat yang ada dalam mars itu? Kalau disampaikan sendiri oleh pengarangnya, tentu akan lebih pas apa yang diinginkan.”

Abana: “Mars itu saya beri judul “TANDA ALAM”. Bahasa Arab tanda adalah ayat atau alam. Maka muncul kata alamat. Alamat itu asalnya juga Bahasa Arab yang artinya adalah tanda. Jadi alam semesta ini adalah tanda-tanda dari Allah agar kita memahami bahwa al-Qur’an adalah kompilasi ayat-ayatNya. Dengan mempelajari sampai paham ayat-ayat yang ada di alam semesta, kita akan tahu bahwa al-Qur’an benar-benar adalah ayat-ayat Allah. Dengan judul ini, saya berharap, para santri-murid di sini tidak hanya belajar teks al-Qur’an saja, tetapi juga belajar tentang fenomena alam semesta. Sebab, dengan memahaminya secara baik, maka mereka akan memiliki pemahaman dan kesadaran bahwa al-Qur’an adalah firman Allah. Kebenarannya menjadi tak diragukan lagi. Jelas sekali. Sebab, yang informasi yang disampaikan oleh al-Qur’an semakin banyak yang terkonfirmasi dalam fenomena alam semesta. Sekarang ini, sudah lebih dari 80 persen isyarat ilmiah dalam al-Qur’an sudah terbukti kebenarannya.”

Planetnufo.com: “Luas biasa. Sekarang lyricnya perlu diuraikan dan dijelaskan satu per satu, Bah”.

Abana: “Kami tunas-tunas muda// Harapan umat dan bangsa // Belajar bersama// Bekerja berjuang// Sepenuh tenaga. Ini adalah kalimat yang saya maksudkan agar para santri-murid menyadari bahwa mereka tak ubahnya tunas-tunas yang sering mereka lihat dalam kehidupan keseharian, karena di kanan-kiri mereka banyak sekali berbagai jenis tumbuhan. Tunas-tunas itu akan terus tumbuh. Dan sebagaimana tunas itu, mereka juga akan tumbuh dan menjadi kader yang diharapkan oleh banyak orang, bukan hanya umat Islam, tetapi juga bangsa Indonesia yang bhinneka. Karena mereka benar-benar diharapkan oleh sangat banyak orang, mereka harus belajar dan bekerja dengan optimal. Dengan belajar bersama, mereka akan melihat segala hal secara holistik, karena masing-masing orang bisa saja melihat dari sudut pandang yang berbeda. Sudut pandang yang berbeda berpotensi besar menghasilkan pandangan yang berbeda pula, sehingga apabila digabungkan menjadi satu, maka akan menghasilkan pandangan yang utuh, lengkap, tidak parsial. Dalam bekerja juga demikian. Kebersamaan atau berjamaah memungkinkan terjadinya bukan hanya kerjasama, tetapi bahkan sinergi. Jika berhasil melakukan kerjasama, maka akan bisa dilakukan pekerjaan yang tidak mungkin dilakukan sendiri. Hasilnya bisa besar. Apalagi jika bisa dilakukan sinergi, maka hasilnya akan jauh lebih besar. Jika diibaratnya, kerjasama itu seperti 1+1=2. Namun, sinergi membuat 1+1 bisa sama dengan 1000 bahkan lebih banyak lagi. Syaratnya, mereka semua mengerjakannya dengan cerdas, dengan semangat juang yang mau mengerahkan seluruh pikiran dan tenaga. Tidak setengah-setengah. Harus total jenderal.”

Planetnufo: “Luar biasa. Belajar dan bekerja yang dimaksud di sini meliputi apa saja?”

Abana: “Belajar di sini tidak hanya berterori, tetapi juga belajar mempraktekkan. Untuk menjalankan shalat misalnya, tidak hanya diajari bagaimana cara melaksanakan shalat dengan benar dan khusyu’, tetapi juga diajari untuk istiqamah melaksanakannya secara berjamaah. Dan dari sini, kemudian dipraktekkan berjama’ah di luar shalat. Jadi harus dibiasakan berjama’ah di dalam maupun di luar shalat. Pekerjaan-pekerjaan apa pun akan bisa diselesaikan dengan cepat. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Begitu kan peribahasanya?”

Planetcom: “Dahsyat. Lalu, lyric berikutnya, Bah?”

Abana: “Menyatu dengan alam raya// Untuk melihat, mendengar// Merasa keagungan Allah Ta’ala// Yang Maha Kuasa. Lembaga pendidikan Planet NUFO ini sejak awal kami desain sebagai sekolah alam. Artinya ada dua. Pertama, langsung belajar di alam semesta. Yang kedua, mereka harus benar-benar mengalami. Mengalami kan berasal dari kata alam juga. Jadi mereka benar-benar mengalami sendiri. Misalnya, saya belum pernah menjadi khathib Jum’atan di Planet NUFO. Yang menjadi khathib selalu selain saya, bahkan para santri yang masih kelas 2 atau bahkan 1 SMP. Kan sudah baligh tuh. Rata-rata sudah 12 tahun. Kalau dilatih sudah cukup bagus, maka diberi kesempatan untuk naik mimbar. Berdasarkan pengakuan mereka, dan tentu saja kita juga bisa merasakan, pertama kali naik mimbar, nervousnya luar biasa. Bayangkan, anak belia harus khuthbah di depan ustadz bahkan pengasuhnya. Pasti berdetak kencang itu jantung. Namun, kesempatan berikutnya bisa dijalani dengan lebih baik. Dengan cara ini, mereka nanti akan terbiasa untuk menyampaikan apa pun di depan siapa pun. Tanpa grogi. Nah, bahan yang disampaikan tentu saja tidak bisa hanya copy paste saja. Pengalaman di alam semesta, karena mereka akrab dengan alam raya, akan bisa dijadikan sebagai bahan ketika mereka di atas mimbar. Sebab, dengan menyatu dengan alam raya, mereka bisa melihat cakrawala yang tanpa batas, seluruh panca inderanya benar-benar berfungsi secara optimal, sehingga bisa merasakan bahwa semuanya ini pastilah adalah pencipta dan pemilik yang maha besar. Tiada lain, tentu saja adalah Allah Swt.. Makin banyak fenomena alam yang disaksikan dan dipahami, akan makin besar kekaguman pada keagungan Allah Swt., yang diharapkan bisa menambah iman dan takwa mereka kepadaNya.”

Planetnufo: “Mudah dipahami, dan maknanya sungguh dalam. Selanjutnya, Bah? Ini nampaknya sudah bukan alam semesta lagi ya?”

Abana: “Satukanlah langkah kita, Wujudkan kejayaan umat mulia (2x). Dengan ilmu, dengan harta, dengan kuasa. Ya tetap alam. Semuanya kan fenomena alam. Kan berada di dalam alam semesta. Semua bagian dari semesta. Mikro kosmos kan bagian dari makro kosmos. Yang ini memang hasil pengamatan saya terhadap keadaan firqah-firqah umat Islam. Saya prihatin, perbedaan afiliasi ormas keagamaan seringkali membuat mereka tidak bisa bersama. Bahkan sering terjadi, saling menjelekkan. Padahal kalau mereka bersatu, potensinya dahsyat sekali. Mau digunakan untuk apa saja, pasti akan menghasilkan sesuatu yang besar. Dalam segala aspek, baik sosial, ekonomi, maupun politik. Kalau umat Islam bersatu, tidak akan ada yang tidak bisa diselesaikan. Cuma ya itu tadi, banyak tapi masih suka berselisih, bahkan berkonflik. Maka diperlukan upaya untuk menyatukan mereka, sehingga derap langkah mereka bisa menggetarkan. Dan keberhasilannya akan mengantarkan umat Islam kepada kejayaan yang akan membuat Islam ini benar-benar nampak mulia. Seringkali Islam tertutup oleh umatnya sendiri. Umat Islam telah berhasil membuktikan diri sebagai umat terbaik di zaman Nabi, lalu mencapai puncak peradaban pada zaman Abbasiyah, tetapi setelah itu merosot jatuh. Padahal umat lain terus berkembang dan maju. Nah, untuk meraih kejayaan itu, tiga sarananya: ilmu, harta, dan kuasa. Ilmu membuat semuanya menjadi efektif dan efisien. Harta penting, karena perjuangan memang membutuhkan harta kekayaan. Itu disebut secara tidak hanya jelas, tetapi juga sangat tegas di dalam al-Qur’an. Dan lebih bagus lagi, karena akan menjadi lengkap, jika perjuangan dilakukan dengan kekuasaan. Sebab, kekuasaan bisa digunakan untuk membuat kebijakan dan penganggaran. Yang tidak bisa dilakukan oleh individu bisa dikerjakan oleh kelompok. Dan jika berkelompok bisa melakukan yang lebih besar, kekuasaan bisa membuat yang jauh lebih besar lagi.”

Planetnufo: “Jadi orientasinya politik dong, Bah?”

Abana: “Apa salahnya berpolitik? Pandangan ini harus diluruskan. Sebab, Nabi Muhammad itu berjuang secara lengkap, tidak hanya secara kultural, tetapi juga struktural sekaligus. Nabi berjuang di Makkan tanpa kekuasaan. Namun, beliau dan para sahabatnya ditindas sampai harus berhijrah ke Habasyah. Namun, ketika Nabi hijrah ke Yatsrib dan menjadi pemimpin politik di sana, apa yang terjadi. Keberhasilannya bisa dikatakan jauh lebih besar. Sebab, di Yatsrib yang kemudian disebut sebagai Madinah, Nabi tetap melakukan yang dilakukan di Makkah, dan juga bisa melakukan yang sebelumnya tidak dilakukan. Dengan menjadi pemimpin negara, jika ada ancaman, Nabi bahkan bisa mengerahkan kekuatan bersenjata. Nabi juga membuat kebijakan politik yang membuat kehidupan masyarakat jadi kondusif. Piagam Madinah adalah di antara contohnya. Walaupun Nabi sudah bisa berdakwah secara politik, tetapi Nabi juga tetap berdakwah secara kultural. Kisah seorang Yahudi buta di pinggir pasar adalah di antara contohnya. Bahkan orang tua buta itu baru masuk Islam, setelah Rasulullah wafat.”

Planetnufo: “Wah iya ya. Di sini, nampaknya memang banyak yang salah paham, sehingga berpaham salah. Harus dilakukan perubahan paradigma kalu begitu ya, Bah?”

Abana: “Tentu saja. Bukan hanya soal itu, tetapi juga tentang pesan berikutnya dalam mars ini, yaitu: Kuasai sains dan teknologi// Tanda kebenaran firman Ilahi (2x)// Membaca, merenung, dan meneliti. Saya ingin agar kita menyadari bahwa antara Islam dan saintek itu tidak bertentangan. Bahkan saintek itu bagian dari Islam. Hanya saja, umat Islam meniru peradaban barat yang melakukan sekularisasi dalam arti pemisahan antara geraja dengan politik juga permusuhannya terhadap para ilmuan yang menemukan sesuatu yang baru yang dianggap tidak sesuai dengan doktrin gereja. Di dalam Islam, justru sebaliknya. Tidak ada ayat yang bertentangan dengan sains. Sebab, alam semesta, sekali lagi adalah bukti kebernaran firman Allah di dalam al-Qur’an. Karena itu, yang harus dilakukan adalah reintegrasi saintek ke dalam Islam. Catat ya, reintegrasi, bukan integrase lo ya. Kalau integrasi itu memang antara keduanya berbeda, lalu dihubungkan dan disatukan. Nah, saintek itu bagian dari ajaran Islam. Tapi dalam fase sejarah tertentu, saintek dianggap sebagai bukan bagian dari agama, sebagaimana gereja memandangnya demikian. Karena itu, saintek harus dikembalikna lagi sebagai bagian dari Islam. Karena itulah, saya menegaskan istilahnya: REINTEGRASI. Lalu, ilmu dan harta itu sesungguhnya berkait erat. Dengan ilmu, teknologi bisa dikembangkan. Sains dan teknologi ini adalah sarana bagi manusia untuk membuat urusan manusia menjadi lebih mudah. Yang dulu tidak bisa dikerjakan bisa dikerjakan, bahkan jauh lebih cepat. Sains dan teknologi saya lihat secara positif, bahkan bisa membebaskan manusia dari perbudakan dalam konteks melakukan kerja-kerja yang tidak memerlukan pemikiran mendalam. Dan sains dan teknologi, yang di dalamnya bahkan ada kecerdasan artifisial, banyak pekerjaan bisa dikerjakan menjadi lebih efisien dan akurat. Ini jangan melulu dianggap sebagai penyebab pengangguran. Harus dilihat sebaliknya, bisa membuat manusia memiliki waktu luang untuk membaca, merenung, dan melanjutkan riset. Dengan demikian, manusia akan makin meningkat lagi dalam peradaban. Kerja-kerja teknis diselesaikan oleh mesin.”

Planetnufo.com: “Makin jelas ini arahnya. Dan kami sudah membayangkan apa yang Abah Nasih inginkan dan akan diusahakan di Planet NUFO ini. Lalu yang terakhir, Bah?”

Abana: “Yaa Allah yaa Rabbii tolong kami ini// Yaa Allah yaa Rabbii ridlai tekad kami. Ini adalah ungkapan kepasrahan. Sebab, kita ini hanyalah makhluk yang kuecil sekali. Kita ini juga sangat lemah. Kita bisa melakukan yang kita lakukan, itu karena pertolongan Allah. Kalau Allah tidak menolong, ya tidak bisa berbuat apa-apa. Namun, kalau Allah sudah menolong, yang kecil pun bisa mengalahkan yang besar. Ingat Daud mengalahkan Jalut. Ingat dalam perang Badar, Nabi dan para sahabat yang hanya ratusan orang saja, mengalahkan 1000 orang lebih. Kalau bukan karena pertolongan Allah, itu tidak mungkin. Nah, pertolongan ini pulalah yang ingin saya dapatkan. Dan pasangannya adalah ridla Allah. Ridla itu artinya senang atau suka. Saya ingin agar semua yang kami lakukan ini hanya untuk mendapatkan ridla Allah. Dengan ridla Allah semoga kami bisa melihat Allah dengan wajah yang berseri-seri di akhirat nanti.” (AH)