Seseorang yang mengalami tekanan berlebihan tentu akan mengalami depresi. Maksud depresi adalah kondisi kesehatan mental yang serius yang mempengaruhi perasaan, pemikiran, dan perilaku seseorang. Orang yang memiliki depresi cenderung merasa ketakutan, putus asa, atau bahkan mereka merasa bahwa mereka tidak dihargai. Penyebab depresi sendiri antara lain ada stres dan trauma. Pengalaman stres karena kehilangan seseorang, tertekan karena sesuatu, atau bahkan pelecehan seksual dapat meningkatkan gangguan depresi. Semua manusia yang telah tuhan ciptakan emosi dalam dirinya pasti dapat merasakan depresi, begitu juga dengan santri.
Kehidupan santri dan pelajar biasa tentunya berbeda. Santri hidup dengan banyak peraturan di pondoknya, sementara pelajar biasa hidup dengan peraturan orang tua, bahkan kadang orang tua mereka tidak memberlakukan hukuman kepada anaknya. Menjadi santri tentu harus siap dengan segala tekanan yang nantinya akan menimpa mereka. Hal inilah yang menyebabkan banyak santri depresi.
Santri hidup dalam lingkungan yang sangat terstruktur di pondoknya, dimana mereka harus tunduk kepada aturan-aturan yang ketat dan jadwal harian yang ketat. Para santri tidak hanya berfokus pada pendidikan formal, tetapi juga aspek agama dan spiritual, sementara pelajar biasa memiliki kebebasan yang lebih besar dalam keputusan dan aktivitas mereka sehari-hari. Memilih untuk melanjutkan pendidikan di pondok pesantren berarti juga harus siap dengan segala kesibukan dan tantangan baru, dan hal inilah yang membuat mereka depresi. Mereka yang belum siap dengan segala kehidupan di pesantren akan merasa bahwa dirinya terlalu ditekankan. Depresi dapat muncul ketika santri merasa terisolasi dan tertekan.
Oleh karena itu, penting bagi pondok pesantren untuk menciptakan suasana yang mendukung pertumbuhan mental santri. Mengatasi depresi pada santri membutuhkan perhatian serius dari pihak pondok pesantren, orangtua, serta profesional kesehatan mental. Solusi Yang dapat membantu mencegah depresi adalah konseling. Tak hanya di sekolah biasa, di pesantren yang rawan kasus depresi sebaiknya juga memberikan fasilitas konseling untuk santrinya. Yang kedua ada kegiatan spiritual. Mendoktrin para santri untuk mengikuti kegiatan spiritual berupa dzikir, tadarus dapat meningkatkan ketenangan batin.
Yang terakhir ada kerjasama dengan profesional. Menjalin kerjasama dengan tenaga kesehatan mental profesional atau lembaga kesehatan mental setempat agar santri yang membutuhkan dapat mendapat bantuan segera.
Pondok pesantren dan orang tua memiliki peran krusial dalam menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan mental santri. Fasilitas konseling yang mudah diakses, kegiatan yang memperkuat ketenangan batin, serta kerjasama dengan profesional kesehatan mental adalah solusi yang efektif dalam mencegah dan mengatasi depresi. Selain itu, dukungan emosional dukungan orang tua dan sosialisasi positif di lingkungan pesantren juga berperan penting dalam membantu santri merasa dianggap dan didukung.
Dengan tindakan-tindakan tadi, diharapkan santri lebih kuat dan mampu mengatasi tekanan, membangun ketahanan mental, dan menghadapi tantangan hidup lebih baik. Pencegahan depresi bukan hanya tanggung jawab satu pihak saja, melainkan kerjasama antara pondok pesantren, orang tua, dan tenaga kesehatan mental untuk menciptakan lingkungan yang mendukung dan penuh pengertian bagi pertumbuhan dan kesehatan mental santri.
Oleh: Fatiha Shiwana Maulin, Aktivis Pengurus Komisariat IPPNU Planet NUFO, Rembang