Tidak semua santri-murid di Pesantren-Sekolah Alam Planet NUFO (Nurul Furqon) Mlagen, Pamotan, Rembang berasal dari keluarga berada. Sebagiannya berasal dari keluarga prasejahtera yang mendapatkan subsidi atau beasiswa. Sedangkan dalam proses pendidikan, mereka memerlukan berbagai peralatan, baik yang sudah direncanakan maupun yang tidak direncanakan, karena menyesuaikan dengan keadaan. Biaya untuk itu ternyata cukup besar. Lalu bagaimana cara Planet NUFO mengatasi persoalan ini? Simak wawancara Planetnufo.com dengan Pengasuh Planet NUFO, Dr. Mohammad Nasih, yang akrab disapa Abah Nasih atau Abana oleh para santri-muridnya.

Planetnufo.com: “Abah Nasih, apa yang berbeda dalam hal metode pendidikan dan pengajaran di Planet NUFO ini jika dibandingkan di tempat lain?”

Abana: “Di sini, para murid diajari secara semi privat bahkan seringkali privat. Sebab, di Planet NUFO ini ada banyak sekali ustadz-ustadzah. Rasionya saat ini masih 1:4 seperti saya idam-idamkan dulu. Bahkan bisa lebih jika mentor senior yang juga merupakan peserta program tahfidh dimasukkan. Karena itu, mendidik dan mengajari mereka bisa benar-benar menyesuaikan keadaan dan kemampuan mereka. Anak-anak ini kan beda-beda dalam bakat, minat, kemampuan menangkap pelajaran, dan lain-lain. Kalau semua disamakan, pasti akan banyak yang ketinggalan. Dan yang pasti, karena ini adalah sekolah alam, mereka tidak hanya belajar di alam, tetapi juga mengalami. Misalnya, semua santri di sini harus khuthbah Jum’at. Bahkan saya tidak pernah khuthbah Jum’at. Nah, proses untuk bisa membuat mereka bisa ini yang memerlukan banyak sarana, dan jatuhnya jadi mahal.”

Planetnufo.com: “Nah, ini dia. Kan tidak semua santri-murid di sini berasal dari keluarga berada. Sebagiannya bahkan dlu’afa’. Lalu bagaimana mereka bisa mendapatkan kebutuhan mereka agar tidak berbeda dengan santri-murid yang berasal dari keluarga mampu?”

Abana: “Ada banyak cara yang kami tempuh. Kalau saya, sekarang sudah tidak mau lagi memberikan fasilitas yang mereka perlukan itu secara percuma. Berdasarkan pengalaman, jika diberikan secara cuma-cuma, sebagian mereka malah tidak serius. Buku misalnya, tidak mereka rawat dan ada yang hilang. Misalnya, agar mereka memiliki buku untuk menulis kamus pribadi, saya mengumumkan, kepada siapa saja yang mau mendapatkan buku dari saya, maka harus menukarkan 10 bibit pohon kelor. Mereka membuat media tanam, lalu melakukan pembenihan sampai hidup, dan itulah yang digunakan untuk membayar buku yang mereka butuhkan. Setiap bibit saya hargai Rp. 2.000,00. Dengan cara ini, tidak ada santri-murid yang tidak punya fasilitas. Asal tidak malas saja.

Planetnufo.com: “Pohonnya itu digunakan untuk apa dan dana untuk membeli itu bersumber dari mana? Sebab, kalau jumlah santri pra sejahtera banyak, tentu saja anggarannya mesti besar juga kan?”

Abana: “Ya tentu saja. Tapi kalau santri banyak, kebutuhan sayur mayur kan juga banyak. Maka diperlukan pohon kelor yang banyak, juga pohon-pohon yang lain. Bisa papaya, singkong, dll. Tergantung kebutuhan saja pokoknya. Pepaya di sini kan juga ditanam oleh mereka sendiri. Soal uang, ya uang saya, atau uang Planet NUFO, atau pas ada teman yang berbaik hati membantu yang boleh saya gunakan untuk apa saja yang penting untuk keperluan pendidikan anak-anak yang ada di Planet NUFO. Dan alhamdulillah, semua berjalan dengan baik. Pokoknya, saya ingin mereka sadar dan berdaya. Bahkan hidup ini harus dengan perjuangan. Kalau tidak begitu, nanti mereka malah jadi generasi lemah. Kita yang salah kalau sampai itu terjadi.”

Planetnufo.com: “Lalu pohon-pohon itu kalau banyak sekali ditanam di mana?”

Abana: “Soal itu tak perlu bingung. Tanah saya luas. Hahaha. Planet NUFO ini akan punya tanah 100 hektar. In syaa’a Allah. Tanah NUFO depan sebelah barat itu hibah dari ibu saya, yang belakang itu hibah dari istri saya, yang belakang ada kandang sapi dan kebun singkon tahun itu hibah dari teman saya. Dan masih banyak warga sekitar sini yang menawarkan tanahnya untuk saya beli. Mereka berpikir duit saya tidak berseri. Beberapa hektar itu saya sewa, pertahun Rp. 8 juta per hektar. Umumnya saya sewa selama 4 tahun. Tanah-tanah itu bisa ditanami tanaman yang tidak permanen. Yang permanen ditanam di tanah yang sudah menjadi hak milik Planet NUFO atau tanah saya pribadi. Pokoknya, dibuat sederhana semuanya, agar semua jadi sejahtera. Alhamdulillah.” (AH)