Pada zaman sekarang, banyak hal yang dulu dianggap tidak mungkin menjadi mungkin. Yang dianggap susah, menjadi mudah. Menghafalkan al-Qur’an adalah di antara yang kini menjadi semakin mudah. Di antara faktor yang membuatnya semakin mudah adalah berbagai fasilitas untuk memulai proses tersedia dengan jenis yang makin beragam. Demikian pula saat harus melakukan penjagaan hafalan, juga makin banyak sarana yang memudahkan dan terjangkau harganya.
Apa saja yang harus dilakukan, dan peralatan apa saja yang diperlukan untuk memulai proses menghafal al-Qur’an dan terus menjaganya? Planetnufo.com melakukan wawancara eksklusif dengan Pengasuh Pesantren-Sekolah Alam Nurul Furqon atau lebih dikenal dengan Planet NUFO dan Guru Utama di Rumah Perkaderan dan Tahfidh al-Qur’an Monasmuda Institute, Mlagen, Pamotan, Rembang, Dr. Mohammad Nasih, M.Si yang juga dosen Ilmu Politik FISIP UMJ Jakarta dan penemu metode menghafalkan al-Qur’an ABAH (Artikan BAru Hafalkan!). Berikut petikan wawancaranya:
Planetnufo.com: “Sebenarnya menghafalkan al-Qur’an itu mudah atau susah?”
Abana: “Mudah atau susah tentu saja sangat ‘tergantung’. Jadinya ya relatif. Orang yang sungguh-sungguh, walaupun mungkin awalnya akan menemukan tantangan dan hambatan yang menyusahkan, tetapnya dirasakan atau dianggap susah, jika dia bertahan tanpa kenal menyerah, pada saatnya akan sampai kepada fase kemudahan. Fainna ma’a al-usri yusran, setelah kesulitan ada kemudahan. Ini bahkan diulang dua kali oleh al-Qur’an di surat al-Insyirah. Sebaliknya, orang yang sebenarnya jika mau, akan mudah menghafalkan al-Qur’an, faktanya tidak hafal-hafal juga. Dan yang begitu, tidak sedikit. Berarti, mudah yang jadi susah kan? Tapi pada prinsipnya, menghafalkan al-Qur’an itu dimudahkan oleh Allah. Ayat tentang itu diulang-ulang di surat al-Qamar: 17, 22, 32, dan 40. Lumayan, empat kali pengulangan. Lebih dari jumlah minimal disebut jama’ dalam bahasa Arab. Selain itu, janji Allah kepada orang yang sungguh-sungguh adalah menunjukkan jalan, sehingga yang susah menjadi mudah. Lihat surat al-Rum ayat terakhir. Maka saya sering bilang bahwa “semua orang”–dalam tanda kutip ya—bisa menghafalkan al-Qur’an, kecuali yang tidak mau. Apalagi, kini sarana yang bisa digunakan untuk menunjang menghafalkan al-Qur’an dan mempertahankan atau bahkan meningkatkan kualitasnya makin banyak dan makin terjangkau. Jadi, kini mestinya lebih mudah, bahkan makin mudah, dan akan terus makin mudah. Pasti itu. In syaa’a Allah.”
Planetnufo.com: “Gambaran susah dan mudahnya bagaimana, Bah?”
Abana: “Saya bicara teknis menghafal dulu ya. Saya menemukan data bahwa tingkat kesulitan menghafalkan al-Qur’an tanpa terlebih dahulu mengetahui arti literalnya bisa sampai tujuh kali lipat. Tentang ini, saya sudah uji di mana-mana. Jadi valid-lah data saya ini. Dan hafalan tanpa basis arti, lebih cepat hilang. Jadi, susah hafal, mudah lupa. Ini kan jadi masalah. Saya pernah mengalami keduanya. Kelas VI MI, seingat saya, guru saya membuat semacam sayembara, yang hafal surat Yasin akan diberi buku tebal bersampul batik. Saya terpaksa harus berusaha menghafalkannya, mungkin lebih karena malu karena bapak saya tokoh di desa. Bapak saya ini sarjana pertama di desa saya, kepala desa, hafal al-Qur’an, kepala madrasah diniyah, dan juga kepala MTs. Kalau sampai kalah kan malu sebenarnya. Tetapi, faktanya, saya hanya hafal tak lebih dari separuhnya saja. Mungkin ditambah dengan belum sungguh-sungguh ya waktu itu. Motivasi belum kuat.”
Planetnufo.com: “Jadi, kapan mulai menghafalkan al-Qur’an secara sungguh-sungguh?”
Abana: “Setelah saya mampu mengartikan al-Qur’an. Saat itu saya mondok dan banyak ngaji tafsir. Ada Jalalayn, Munir, dan Tanwir al-Miqbas. Di rumah sebenarnya sudan ngaji dengan bapak juga. Tapi intensitasnya masih terbilang rendah. Di pondok ini saya mulai fokus, karena tak lama setelah saya mondok, kelas I MAN Lasem, bapak saya meninggal. Motivasi saya tersengat karena ingin mewujudkan tantangan bapak, saya harus hafal al-Qur’an. Jadi campur jadi satu. Inilah yang benar-benar membuat saya lupa tidur dan istirahat. Kalau makan tetap ingat. Tapi, saat itu ada berbagai kesulitan, karena terjemahan al-Qur’an belum seperti sekarang, ada terjemah per-kata dengan berbagai macam bentuknya itu. Karena saya sudah mulai bisa membaca teks kitab gundul, saya sudah bisa menggunakan alat bantu al-Qur’an terjemah. Tapi kadang juga kesulitan memahami maksud sebuah ayat. Misalnya, al-Baqarah: 6 itu itu memunculkan kebingungan pertama saya. Kalau sama saja diberi peringatan maupun tidak diberi peringatan, kenapa di ayat lain kita disuruh berdakwah?”
Planetnufo.com: “Kesulitan di sini konkretnya apa?”
Abana: “Anggap saja dulu ada santri yang tidak punya al-Qur’an terjemahan. Dan kalau al-Qur’an terjemah saja tidak punya, pasti tidak punya kamus. Padahal, untuk bisa mudah menghafalkan al-Qur’an, syarat nyaris mutlaknya adalah mengerti artinya. Coba saja hafalkan kalimat yang terdiri atas 6-10 kata saja. Nanti kan seperti yang saya bilang. Butuh minimal tujuh kali pengulangan. Nah, ketiadaan fasilitas itu membuat menghafalkan al-Qur’an menjadi susah kan? Beda dengan sekarang. Al-Qur’an, terjemahnya, dan kamusnya sekalian, semuanya tersedia di HP kita. Mengaksesnya ya semudah menggerakkan jari jempol. Mudah sekali.”
Planetnufo.com: “Lalu, kemudahan yang terjadi sekarang di masa depan bagaimana itu bentuknya?”
Abana: “Kalau dulu, ke mana-mana harus mengantongi al-Qur’an, agar jika ada waktu senggang bisa kita baca. Maka harus punya al-Qur’an berukuran mini agar mudah dimasukkan ke dalam kantong. Tapi pada saat membacanya, karena walaupun sudah hafal, saat muraja’ah kadang ada yang terlupa, tentu kan harus membukanya. Kalau di tempat umum, misalnya di halte, saat naik kereta, bus, atau tempat umum lainnya, kadang muncul perasaan tidak enak. Dikira orang sok alim, sok saleh, dll.. Padahal mungkin orang lain tidak berpikir begitu ya. Atau kita sendiri khawatir jadi riya’ dan sum’ah. Ini jadi hambatan tersendiri. Kalau tidak punya kepercayaan diri tinggi, tidak bisa melakukannya. Nah, sekarang, dengan HP itu, orang di sekeliling kita tidak tahu kita baca apa? Sebab, antara kita baca pesan WA dengan baca al-Qur’an dan tafsirnya tidak ada bedanya. Soal suara kan bisa dipelankan. Paling hanya komat-kamit dikit. Dan masih bisa baca dalam hati.”
Planetnufo.com: “Selain HP yang bisa dibawa ke mana saja dan dibaca di mana saja, apalagi?”
Abana: “Masih HP juga. Dan ini sudah ada sebelum ada HP android. Untuk muraja’ah bisa menggunakan audio. Suaranya langsung di telinga kita karena memakai earphone. Kalau zaman dulu kan harus memutar kaset yang tentu saja harganya sangat mahal. Hanya orang-orang tertentu saja yang punya. Saya punya kaset yang berisi rekaman al-Qur’an pun setelah bapak saya pulang haji. Hahaha. Kemudian menjadi lebih mudah dengan adanya VCD dan DVD. Kemudian ada flash disk. Tapi semuanya itu kan butuh perangkat, tape atau komputer yang harganya mahal dan tidak bisa dibawa ke mana-mana. Kalau HP dengan segala isinya itu, pasti akan menempel di tubuh kita di mana pun dan kapan pun. Pokoknya HP ini lebih melekat dibanding istri atau suami kita. Kita bisa berpisah dari pasangan kita, tapi kita tidak bisa berpisah dari HP kita kan? Hahaha. Kalau barang lain kita bisa lupa dalam jangka waktu yang lama. Tapi kalau HP? 10 menit tidak kita pencet, kita sudah ingat langsung mencarinya. Dan sekali lagi, segala fasilitas yang ada di dalamnya, makin memudahkan kita untuk membaca al-Qur’an, mencari artinya, mengetahui tafsirnya, dll yang berkaitan dengan al-Qur’an.”
Planetnufo.com: “Ada lagi kemudahan yang bisa kita optimalkan?”
Abana: “Dengan sarana rekaman, kita bisa mendengar al-Qur’an dalam keadaan lelah sekalipun. Bisa diputar ulang sesuai dengana keinginan kita. Kalau dulu kita melakukan perjalanan dan harus membuang waktu, sekarang tidak lagi. Kita mengendarai mobil, apalagi kalau sekedar duduk dalam perjalanan, bisa kita manfaatkan dengan mendengarkan murattal dengan tujuan menjaga hafalan. Dengan begitu, hafalan akan menjadi lebih kuat melekat dalam ingatan.”
Planetnufo.com: “Apa pesan untuk pembaca agar memiliki semangat untuk menghafalkan al-Qur’an?”
Abana: “Menghafalkan al-Qur’an itu di antara tujuh kewajiban kita. Saya sering tekankan ini. Ada tujuh kewajiban kita kepada al-Qur’an: membaca, mengartikan, menghafalkan, merenungkan, mengerjakan, mengajarkan, dan menghafalkannya. Pastikan ya, kuasai arti literal, baru menghafalkannya. Menghafalkannya anggap saja sebagai wajib kifayah. Setidaknya, kita mesti menjadi salah orang yang memiliki keutamaan ini. Apalagi kalau kita termasuk orang yang memiliki banyak kesempatan, karena memiliki pekerjaan yang tidak keras dan ada saat-saat yang sangat memungkinkan untuk menghafal. Aktivitas membaca yang disebut secara pasti menghasilkan pahala per hurufnya adalah membaca al-Qur’an. Dengan menghafalkannya, kesempatan untuk mendapatkan pahala menjadi lebih banyak. Dan lebih dari itu, dengan menghafal disertai dengan minimal makna literalnya dulu, kita bisa merenungkan untuk menarik petunjuknya. Itu penting, karena menjadi panduan untuk menjalani kehidupan kita agar selalu berada di dalam koridor yang ditetapkan Allah. Kalau tersesat, kita bisa segera ingat dan kembali ke jalan yang benar. In syaa’a Allah”. ***