Pesantren & Sekolah Alam NURUL FURQON atau yang sering disebut Planet NUFO adalah sebuah lembaga pendidikan berparadigma holistik. Tidak ada dikotomi antara ilmu dunia dan akhirat. Semua ilmu dipandang bersumber dari Allah yang harus dikuasai oleh setiap muslim. Karena itu, segala aktivitas di dalamnya didesain untuk menghidupkan segala ilmu, yang oleh kalangan dikotomis, disebut sebagai ilmu dunia dan ilmu agama (akhirat). Planet NUFO serius ingin menghidupan ilmu-ilmu agama dan secara bersamaan juga ilmu dunia (ihyâ’u ulûm al-dîn wa al-dunyâ).
Lembaga pendidikan ini didirikan oleh dua sahabat yang sudah melebihi saudara Dr. Mohammad Nasih (Abah Nasih) dan Alm. Arief Budiman (Gus Arif) di sebelah timur Desa Mlagen, Kecamatan Pamotan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Lokasinya sengaja dipilih di pedesaan karena berbagai bertimbangan, baik ideologis, pragmatis, dan juga historis.
Ide untuk mendirikan SMP Planet NUFO dicetuskan oleh Gus Arief yang sudah mengelola SDI al-Furqon di Kota Rembang dan sering menjuarai lomba-lomba tingkat nasional. Saat itu, putri bungsunya, Aisya Sasmaya, mengikuti program Sancil (Santri Kecil) saat liburan di Pesantren-Rumah Perkaderan Monash Institute di Semarang. Dalam waktu hanya sepekan, ternyata Aisya dan juga teman-temannya bisa menguasai tashrif yang biasanya menjadi momok di pesantren dan baru dikuasai setelah mondok bertahun-tahun. Gus Arief yang juga putra kiai, merasa takjub bagaimana para sancil bisa menguasai tashrif dalam hanya tujuh hari padahal biasanya butuh waktu tujuh tahun dan mengapa pilihannnya adalah tashrif. Dr. Mohammad Nasih menjelaskan bahwa itu merupakan hasil dari berbagai risetnya untuk memperbaiki cara belajar ilmu alat (Bahasa Arab) di pesantren dan tujuannya agar anak-anak mudah menghafalkan al-Qur’an. Sebab, berdasarkan risetnya, menghafalkan al-Qur’an tanpa mengetahui arti literalnya membutuhkan usaha tujuh kali lipat bahkan lebih.
Sedangkan menghafalkan al-Qur’an dengan terlebih dahulu mengerti arti literalnya akan lebih mudah dan lebih dari itu akan melahirkan inspirasi. Hafalan al-Qur’an tanpa makna, bisa-bisa menjadi beban dalam sepanjang kehidupan, karena tidak menghasilkan inspirasi yang bisa mengobarkan semangat perjuangan. Jika hafalan cepat, diharapkan anak-anak belia akan bisa hafal 30 juz paling lambat kelas II SMU. Tahun terakhir di SMU bisa digunakan untuk mempersiapkan secara intensif para murid masuk perguruan tinggi excellent di jurusan-jurusan yang akan membuat mereka memiliki profesi: dokter, insinyur, ahli IT, advokat, akuntan, dll. Mimpinya adalah melahirkan kembali Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, dan ulama’-ulama’ muslim lainnya, yang benar berkualifikasi ulama’, bukan sekedar ahli pidato/retorika tanpa riset, atau sebaliknya saintis tapi tanpa basis etika Islam yang bersumber dari al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad.
Karena ingin puterinya bisa menghafalkan al-Qur’an, maka Gus Arief mengajak untuk mendirikan SMP dan sebisa mungkin kemudian juga SMU, agar puterinya bisa berada dalam kurikulum yang didesain sendiri untuk melampaui capaian yang diinginkan oleh kurikulum nasional yang bisa dikatakan lebih menekankan ilmu tanpa basis al-Qur’an. Keinginan Gus Arief ini langsung ditangkap oleh Abah Nasih, karena beliau juga memiliki anak-anak belia yang pasti akan membutuhkan lembaga pendidikan dengan desain holistik dan di bawah asuhan sendiri.
Namun, untuk mendirikan lembaga pendidikan dengan visi dan missi besar, tentu saja membutuhkan tim yang solid. Pada saat itu, Pesantrem-Rumah Perkaderan Monash Institute Semarang yang telah beroperasi sejak tahun 2011 telah menghasilkan para master dan bahkan beberapa sudah menempuh studi S3. Para mahasantri yang baru saja masuk program pascasarjana berbagai disiplin ilmu dikumpulkan, lalu ditawari untuk menjadi guru lembaga pendidikan yang akan didirikan. Sebanyak 14 orang mahasantri calon magister tersebut menyanggupi dan kemudian berdirilan Planet NUFO pada tahun 2019. (AH)