Pesantren-Sekolah Alam Planet NUFO, Mlagen, Pamotan, Rembang, terletak hanya beberapa puluh meter saja dari Pesantren al-Falah. Keduanya diasuh oleh kakak beradik. Planet NUFO dipimpin dan diasuh oleh Dr. Mohammad Nasih, sedangkan al-Falah dipimpin oleh Bu Nyai Laila Mufidah, S.Th.I.. Keduanya adalah putera/i kedua dan ketiga pasangan H. Mohammad Mudzakkir dan Hj. Chudzaifah Hafidhah yang telah merintis al-Falah sejah tahun 1975.
Pesantren al-Falah bermula dari sebuah mushalla yang setiap setelah shalat maghrib dan shubuh diramaikan oleh anak-anak tetangga mereka dengan aktivitas belajar baca tulis al-Qur’an. Pasangan suami istri yang juga penghafal al-Qur’an itu istiqamah mengajar al-Qur’an sampai ajal menjemput. Bahkan, aktivitas mengajar itu makin padat. Bukan hanya karena makin banyak santri yang mukim, tetapi juga aktivitas mengajar di belasan majelis ta’lim ibu-ibu berbagai desa sekitar.
Sebagai seorang yang selalu menginginkan perubahan untuk yang lebih baik, Dr. Mohammad Nasih yang juga pengajar Ilmu Politik di FISIP UMJ dan Pascasarjana Ilmu Politik yang sewindu sebelumnya telah mendirikan Rumah Perkaderan dan Tahfidh al-Qur’an untuk mahasiswa di Semarang, ingin mendirikan pesantren untuk mempersiapkan santri belia usia sekolah menengah. Dalam pandangannya, membangun karakter pada usia belia akan lebih optimal. Sebab, berdasarkan pengalamannya, usia strategis untuk melakukannya adalah usia sekolah menengah pertama dan umum. Di samping itu, pria yang akrab dipanggil Abah Nasih atau Abana oleh para santrinya itu ingin karakter kepemimpinan menjadi ciri khas santri kader. Mereka harus memiliki kemandirian intelektual dan finansial. Karena itu, di pesantren harus diajarkan wirausaha dan juga kepemimpinan.
Karena itulah, Abana kemudian menyampaikan maksudnya itu kepada Ibundanya. Awalnya, keinginan itu tidak disetujui karena sudah ada Pesantren al-Falah. Namun, setelah dijelaskan bahwa yang akan masuk ke pesantren baru ini adalah anak-anak dari seluruh Indonesia yang membutuhkan sentuhan berbeda, akhirnya Ibundanya luluh juga. Bahkan kemudian memberikan sebidang tanah di samping persis tanah yang digunakan untuk mendirikan Planet NUFO untuk pertama kalinya.
Walaupun berbeda karakter, santri-murid dari kedua pesantren ini cukup sering melakukan aktivitas bersama, mulai dari olah raga sampai makan bersama. Para santri di kedua pesantren ini diajarkan dengan penekanan khusus, bahwa perbedaan di kalangan umat sama sekali bukan alasan untuk berselisih, apalagi berkonflik. Sebaliknya, perbedaan itu sesungguhnya adalah modal untuk melakukan sinergi. Terutama di Planet NUFO, disebabkan latar belakang yang sangat beragam keluarga santri-murid, mereka difasilitasi dengan organisasi-organisasi pelajar, yaitu: IPM (Ikatan Pelajar Muhamamdiyah), IPNU (Ikatan Pelajar NU), PII (Pelajar Islam Indonesia), dan HPI (Himpunan Pelajar Islam). Dengan membiasakan hidup bersama dengan keberagaman itu, diharapkan para santri-murid tidak menjadi manusia-manusia fanatik buta, sehingga memudahkan mereka dalam bergaul untuk membangun kerjasama dan sinergi yang merupakan modal kemajuan umat dan bangsa.