Pesantren-Sekolah Alam Planet NUFO, Mlagen, Pamotan, Rembang, Jateng, nampaknya tidak main-main dengan pembangunan kualitas SDM santri-muridnya. Sebagai sebuah lembaga pendidikan Islam berwawasan holistik, dan sejak awal didisain secara berbeda dengan lembaga pendidikan konvensional, Planet NUFO juga melihat santr-muridnya secara holistik pula dan karena itu menghargai seluruh keunggulan yang dimiliki oleh mereka dan memberikan fasilitas yang sesuai. Karena itu, sejak awal masuk di Planet NUFO, para santri-murid akan langsung diidentifikasi bakat dan minatnya, lalu diarahkan dan didik sesuai dengan bakat dan minat ini, sehingga mereka memiliki semangat hidup yang tinggi dalam belajar.

Pengasuh Planet NUFO mengibaratkan bakat sebagai bawaan lahir yang akan akan membuat para orang tua dan pendidik tahu bahwa santri-murid itu apabila “ikan, maka sediakanlah kolam yang akan membuatnya berenang dengan senang tanpa diperintahkan, tetapi jangan pernah tuntut ikan terbang”, “mentok, maka sediakanlah genangan air yang akan membuatnya bermain di permukaan, sesekali menyelam, dan masih bisa dilatih untuk terbang tetapi jangan pernah berharap terbang setinggi burung”, “tupai, maka sediakanlah pohon-pohon yang akan membuatnya meloncar-loncat dari satu dahan ke dahan lain dengan indah dan jangan pernah berharap dia terbang”, dan seterusnya. Orang tua harus menerima bakat dan minat anak-anak yang mereka lahirkan. Para gurulah yang akan mengoptimalkan bakat mereka dengan cara mendekatkan minat mereka dengan pengembangan bakat mereka.

Planet NUFO, dengan ketersediaan SDM pendidik dengan kompetensi dan kualitas yang bisa diandalkan, mencanangkan enam keunggulan, yaitu: tahfidh berbasis I’rab al-Qur’an (IQ), sains dan teknologi, kewirausahaan, menulis, seni musik, dan astronomi. Bagaimana perspektif tentang enam keunggulan ini? Baladena akan kembali mewawancarai Pengasuh Planet NUFO, Dr. Mohammad Nasih, M.Si. yang juga adalah pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ, Jakarta ini:

Baladena: “Planet NUFO ini makin dikenal oleh masyarakat nasional. Santrinya dari berbagai penjuru nusantara.”

Abana: “Belum. Karena masih belum ada yang dari Papua. Tapi sudah ada yang dari luar negeri, dari Taiwan. Alhamdulillah.”

Baladena: “Berarti sudah ada kompensasinya, Bah. Hehe. Nah, apa sih sebenarnya yang membuat orang datang jauh-jauh ke Planet NUFO ini?”

Abana: “Cukup banyak yang orang tuanya adalah teman-teman saya saat jadi aktivis mahasiswa, baik di Semarang maupun di Jakarta saat saya jadi pengurus PB HMI. Atau teman-teman ustadz/ah yang ada di sini. Ada yang melihat youtube atau membaca informasi tentang Planet NUFO lalu datang ke sini dan melihat langsung lingkungan Planet NUFO, lihat kandang kambing, kandang sapi, kandang puyuh, dan lain-lain, lalu merasa cocok untuk anak mereka. Ada juga yang tertarik karena Planet NUFO tidak menolak siapa pun, termasuk anak-anak dari keluarga prasejahtera. Ada beasiswa untuk mereka.”

Baladena: “Maksud saya, yang sebenarnya membuat mereka tertarik karena substansi pendidikan. Sebab, lembaga pendidikan kan diharapkan untuk membantuk membuat murid memiliki kompetensi dan kualitas tertentu. Nah, apa yang ditawarkan oleh Planet NUFO?”

Abana: “Wah, jadinya kayak janji ya. Kayak janji politisi. Tapi kami memang serius untuk memprioritaskan enam keunggulan yang sudah kami pertimbangkan baik-baik. Enam itu berdasarkan pertimbangan kebutuhan mutlak dan kebutuhan komplementer. Kalau pakai bahasa fikih ada yang hukumnya wajib ‘ain dan juga wajib kifayah.”

Baladena: “Nah, perlu dijelaskan satu persatu yang enam itu, Bah!”.

Abana: “Pertama, tahfidh berbasis I’rab al-Qur’an (IQ). Kami memberikan penekanan khusus dengan IQ, karena kami memiliki riset. Ya riset kecil-kecilan dan bersifat pribadi, bisa dikatakan begitu. Berdasarkan pengalaman mengelola Rumah Perkaderan dan Tahfidh al-Qur’an Monasmuda Institute, Semarang dan juga Pesantren Putra Fatahillah di Jakarta, sejak satu dekade lalu. Dari kedua pesantren tersebut, juga dari berbagai forum yang saya menjadi pemateri di dalamnya, saya mengumpulkan data bahwa menghafalkan tanpa mengerti arti itu membutuhkan usaha tujuh kali lipat. Dan kelemahannya lagi, lebih cepat hilang. Dengan basis IQ, anak-anak akan menguasai makna al-Qur’an.”

Baladena: “Kalau di Monash Institute dan Fatahillah kan mahasiswa. Mereka bisa diberi materi ini. Tapi kalau di Planet NUFO kan level SMP juga. Apakah bisa diterapkan juga”.

Abana: “Faktanya bisa. Walaupun tentu saja tidak seperti para mahasiswa. Tapi justru karena masih belia ini, maka harus kita biasakan. Sebab, kalau sudah besar, nanti waktunya tidak cukup. Nah, kami punya strategi mengajari IQ dengan menggunakan surat Yusuf, al-Qashash, dan al-Kahfi. Kenapa surat Yusuf kami jadikan nomor satu? Surat ini mengandung ayat-ayat yang struktur bahasanya sederhana. Tidak ada perumpamaan yang rumit seperti di surat-surat lain yang akan menyebabkan anak-anak kesulitan. Surat Yusuf kan bisa dikatakan isinya hanya kisah Nabi Yusuf dan keluarganya. Tidak memerlukan asbab nuzul juga. Jadi, anak-anak juga senang. Mereka kita biasakan saja cara memaknai al-Qur’an dengan IQ. Bahkan lebih spesifik lagi dengan metode utawi iku yang dulu digunakan Kiai Saleh Darat, guru Kiai Ahmad Dahlan dan Kiai Hasyim Asy’ari. Dan berdasarkan pengakuan santri-santri dari mana saja, dari Jawa maupun luar Jawa, mereka jadi lebih mengetahui posisi kata dalam kalimat. Mereka jadi lebih paham. Karena itu saya gunakan. Dan hasilnya, cukup signifikan. Sampai saat ini, dengan santri-murid yang tidak kami seleksi, semua ikut, ada tidak kurang dari 25% yang bisa. Padahal kalau cara konvensional, tidak lebih dari 2% saja santri yang bisa menguasainya. Inilah yang akan menjadi modal untuk mendapatkan kemudahan dalam menghafaalkan al-Qur’an”.

Baladena: “Ya ya. Saya mulai bisa membayangkan. Yang kedua, Bah?”

Abana: “Sains dan teknologi. Ini karena obsesi kami sejak awal adalah reintegrasi sains dan teknologi ke dalam Islam. Sudah sejak 1000 tahun, umat Islam melakukan dikotomi ilmu: ilmu agama dan ilmu dunia. Seolah ilmu dunia ini tidak penting jadinya. Padahal tidak ada dikotomi begitu. Sebab, ayat qawliyah atau firman maupun ayat kawniyah atau alam semesta, sama-sama berasal dari Allah. Keduanya ibarat baut dengan murnya. Al-Qur’an bisa kita pahami sebagai firman Allah, di antaranya, dan apalagi pada zaman sekarang ini, dengan sains dan teknologi. Sebab, saintek bisa membuat apa yang dinyatakan oleh al-Qur’an benar-benar benar. Sebab, kalau al-Qur’an bukan dari Allah, tidak mungkin mampu menjelaskan tentang alam semesta yang besar ini, atau sebagiannya kecil dan dekat dengan kita, tetapi berukuran mikroskopik, atau tak terlihat. Dan saintek semua yang tadinya tidak diketahui itu, kemudian diketahui. Dan dari sinilah menjadi nyata bahwa al-Qur’an adalah benar. Nah, ayat al-Qur’an dengan fenomena alam semesta ini menjadi klop. Seperti mur dengan baut tadi. Iya kan?”.

Baladena: “Mantap sekali. Baru kali ini saya mendapatkan analog baut dan mur ini. Luar biasa ini. Lalu yang ketiga, Bah?”

Abana: “Yang ketiga adalah kewirausahaan. Santri punya kewajiban untuk mengajarkan ilmu pengetahuan mereka dan tidak boleh berharap imbalan atau bayaran. Kalau ada yang memberi boleh diterima sebagai hadiah, tetapi tidak boleh tamak, menginginkan bayaran dari aktivitas mengajar. Itulah yang dilakukan oleh para nabi dan rasul. Tidak meminta upah dari tabligh mereka. Agar bisa begitu, tentu saja harus memiliki usaha yang hasilnya bisa digunakan untuk menopang kehidupan mereka, termasuk kebutuhan dakwah Islam. Karena itulah, di Planet NUFO ini kami sediakan berbagai amal usaha yang bisa digunakan oleh para santri untuk latihan. Mereka bisa langsung aksi, atau bisa magang dulu. Ada domba, puyuh, sapi, ayam, berkebun, berdagang, memberikan jasa laundry dan lain-lain. Mereka tinggal memilih sesuai dengan bakat minat mereka. Ini bertujuan agar santri tidak hanya mandiri secara intelektual, tapi juga mandiri secara finansial.”

Baladena: “Mantap sekali ini. Kualitas manusia yang mengarah parapurna ini.”

Abana: “Kan memang harus begitu. Karena yang kita contoh adalah Rasulullah. Beliau itu pengusaha, orang kaya raya, dan ketika mendapatkan wahyu kemudian mengajarkannya secara gratis. Tanpa bayaran. Kalau santri kan harus jadi ulama’. Ulama’ itu mewarisi para nabi. Para nabi mewariskan ilmu. Nah, warisan itu tak boleh dijual. Sama seperti ibu saya, sangat sensitif soal harta warisan. Kalau ada sedikit saja orang menyinggul soal tanah warisan dari bapak saya, beliau pasti langsung konfirmasi kepada saya apakah benar mau dijual. Padahal saya tidak pernah mau jual. Saya tidak membayangkan betapa marahnya kalau saya benar-benar menjual tanah warisan saya. Baru dengar orang mau beli saja, karena tanah saya kan diminati banyak orang, ibu sudah sensi begitu. Untuk menetralisir itu, saya beli tanah. Saya tunjukkan bahwa saya bahkan beli. Nah, kita mesti bisa menunjukkan bahwa kita tidak menjual ilmu. Bagaimana caranya? Ada. Beri beasiswa kepada yang membutuhkan.”

Baladena: “Yang berikutnya apa, Bah?”

Abana: “Keempat adalah menulis. Menulis ini adalah kebutuhan bagi setiap ilmuan atau ulama’. Kalau ulama’ tidak menuliskan ide dan temuannya, maka peluang hilangnya akan besar. Maka santri harus memiliki kemampuan menulis. Alhamdulillah di Planet NUFO sudah cukup banyak anak-anak yang memiliki kemampuan menulis. Bahkan di antaranya ada yang memiliki kemampuan menulis luar biasa bagus. Ketik saya nama Aletheia Raushan Fikra Ukma, misalnya. Itu salah satu santri-murid Planet NUFO yang produktif menulis. Nah, yang masih belia ini biasanya hanya menuliskan pengalaman dalam bentuk cerita-cerita. Kami berusaha untuk membuat mereka memiliki ide, hasil riset, dan konsep-konsep tertentu. Kami doktrin mereka bahwa orang hebat berbicara tentang ide-ide, orang biasa berbicara tentang peristiwa-peristiwa, dan orang bodoh membicarakan orang lain. Nah, level mereka sekarang masih menuliskan peristiwa-peristiwa. Mereka harus naik pangkat untuk membahas ide-ide. Maka mereka harus membaca dan juga melakukan riset. Sekolah alam ini harus mereka manfaatkan dengan optimal untuk itu. Kemampuan menulis ini untuk melengkapi kefasihan lisan berbentuk kemampuan retorika yang baik. Jadi, mereka fasih lisan dan tulisan. Keduanya diperlukan.”

Baladena: “Luar biasa. Saya membayangkan dahsyat sekali ini”.

Abana: “Namanya ide, visi, ya harus yang dahsyat. Kan kalau yang tidak dahsyat sudah banyak. Hahaha. Semoga Allah menolong. Kalau kita ini kan hanya harus usaha. Makhluk lemah ini harus berharap pertolongan Allah agar bisa melakukan yang agak luar biasa.”

Baladena: “Lalu apa lagi?”

Abana: “Kelima adalah seni musik. Ini punya setidaknya dua tujuan. Pertama, sebagian umat Islam mengharamkan musik, dan juga banyak seni yang lain. Ini adalah pandangan tidak tepat menurut saya. Dan inilah yang juga menyebabkan umat Islam tertinggal dalam aspek seni. Surat Luqman: 6 harus dipahami dengan baik, agar substansinya tertangkap dan tahu bahwa musik bukan sesuatu yang haram. Ada beberapa hadits yang jelas sekali menunjukkan bahwa musik itu yang boleh-boleh saja. Kedua, kemampuan bermusik, memungkinkan mereka untuk membentuk grup band. Di Planet NUFO bahkan ada beberapa, di antaranya saya beri nama BENEFIT BAND. Kelompok ini kan membutuhkan kebersamaan. Dengan kebersamaan ini akan lahir sinergi. Kalau musiknya hanya gitar saja ya sudah bisa nyanyi. Tapi kalau ada piano, seruling, drumb, dan lain-lain, maka rasanya akan lebih dahsyat kan. Sebuah orkestra akan bisa terwujud kalau mereka bersama dan harmoni. Diperlukan kepemimpinan yang baik untuk itu. Mereka bersedia menerima posisinya masing-masing, tahu kapan berhenti dan kapan bermain. Musik bisa dijadikan sebagai sarana berdakwah juga. Alhamdulillah saya sudah punya beberapa karya lagu yang inspirasinya full al-Qur’an, di antaranya berjudul MENGINGATMU. Saya nyanyikan sendiri juga. Sayangnya saya tidak bisa musik. Hahaha. Tapi untungnya anak-anak bisa dan merekalah yang mengiringi lirik saya itu dengan musik yang cukup baik. Alhamdulillah.”
Baladena: “Masih ada lagi?”

Abana: “Ada. Keenam ini astronomi. Falak-lah. Di Planet NUFO ada setidaknya empat guru yang lulusan jurusan Falak. Padahal di NUFO juga ada anak-anak yang kalau ditanya mau jadi astronot. Kalau mau jadi astronot, yang setidaknya mereka harus mengerti benda-benda ruang angka. Kalau mereka nanti jadi astronot beneran, Alhamdulillah. Tapi, cita-citanya ini bisa kita manfaatkan untuk menyemangati mereka untuk menguasai ilmu falak. Ini kan ilmu yang sangat penting juga. Semoga tak lama lagi kami bisa mendirikan Planenatorium. Namanya saja Planet NUFO, kalau tidak punya Planetarium kayaknya kurang lengkap. Doakan ya.” (AH)