Pesantren-Sekolah Alam Nurul Furqon, Mlagen, Pamotan, Rembang, atau yang dikenal dengan sebutan Planet NUFO didisain oleh pendirinya, al-Ustadz Dr. Mohammad Nasih, M.Si., al-Hafidh dengan berbagai keunikan. Berbagai keunikan di dalamnya membuat pesantren yang terletak di kabupaten paling timur Jawa Tengah ini tidak bisa dimasukkan ke dalam golongan kategoris yang sudah ada saat ini. Biasanya, sebuah pesantren, karena indikator-indikator yang ada di dalamnya, dikategorikan sebagai salaf dan khalaf (modern).

Disebut sebagai salaf, kalau fokus kepada kajian kitab kuning dengan cara-cara tradisionil dengan kepemimpinan seorang kiai sebagai “penguasa” tertinggi. Punya kekuasaan “mutlak”. Disebut modern kalau di dalamnya juga dipelajari bahasa Inggris dengan sekaligus mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. Model kepemimpinan yang ada di dalamnya juga relatif kolektif kolegial dan bisa terjadi pergantian karena berdasarkan menejemen kepemimpinan modern yang bisa berganti secara periodik dan berkala sesuai dengan kebutuhan.

Ada enam indikator yang membuat Planet NUFO disebut sebagai pesantren super modern. Untuk mengulik apa indikator-indikator super modern itu, planetnufo.com melakukan wawancara eksklusif langsung dengan pendirinya, yang juga adalah pengajar ilmu politik di FISIP UMJ dan guru utama di Rumah Perkaderan Monasmuda Institute Semarang yang akrab disapa oleh para santrinya dengan Abah Nasih atau Abana.

Planetnufo.com: “Abah Nasih, sebenarnya pesantren kita ini salaf atau modern?”

Abana: “Saya malah tidak berpikir soal salaf atau khalaf itu. Saya hanya berpikir bahwa diperlukan pesantren dan sekolah alternatif yang menjawab persoalan dasar umat Islam. Waktu itu yang saya pikirkan adalah ekonomi karena saya ini pelaku bisnis, dan juga politik karena saya adalah dosen ilmu politik dan juga aktivis mahasiswa, ormas, sampai partai politik.”

Planetnufo.com: “Ada masalah apa dalam ekonomi dan politik itu, Bah?”

Abana: “Masalahnya cukup berat. Menurut saya ya. Orang boleh berbeda pandangan dalam hal ini. Dalam hal ekonomi, umat ini kalah. Singkat dan kasarnya, Islam memerintahkan kita kaya, tetapi faktanya kita ini miskin. Hanya ada beberapa gelintir orang saja yang menguasai kekayaan terbesar negeri yang didiami oleh 80-an persen muslim ini. Dan saat saya kuliah S2 Ilmu Politik UI, saya membaca buku-buku Anthony Giddens yang memprediksi bahwa di masa depan, 90 persen kekayaan dunia akan dikuasai oleh 10 persen penduduknya, sebaliknya 10 persen kekayaan dunia akan dikuasai oleh 90 persen penduduknya. Terutama dalam konteks Indonesia, yang dikatakan oleh Anthony Giddens itu sudah mendekati kenyataan.”

Planetnufo.com: “Lalu apa hubungannya dengan pesantren?”

Abana: “Soal paradigma yang berimplikasi pada aksi. Paradigma teologis yang dibangun di mayoritas pesantren cenderung, catat ya cenderung, fatalistik atau jabariyah. Bandulnya lebih berat ke sana. Doktrin takdir mencengkeram kuat dan meluas kepada wilayah yang mestinya ikhtiari. Kaya miskin seolah sudah ditentukan dari sononya. Padahal kita punya ruang ikhtiar. Faktanya ada negara-negara yang di dalamnya penduduknya dinamis, kemudian mencapai kemajuan ekonomi. Mereka menciptakan teknologi baru yang bisa membantu pekerjaan-pekerjaan mereka, sehingga pekerjaan yang sangat berat pun bisa mereka kerjakan dengan mudah sehingga mereka jadi lebih sejahtera. Singkatnya, sains dan teknologi itu mereka kembangkan untuk mengakselerasi capaian kemajuan mereka. Sementara kita tidak melakukan itu. Itulah yang menjadi salah satu faktor pemicu dan pemacu saya mendirikan Pesantren-Sekolah Alam Planet NUFO ini. Paradigmanya harus progresif. Konsep takdir dan ikhtiar harus kita pahami secara tepat, dengan batasan yang tepat. Kalau salah, sikap dan cara hidup kita akan salah juga.”

Planetnufo.com: “Jadi, soal paradigma dan aksi tadi, apa yang berbeda di Planet NUFO ini?”

Abana: “Soal paradigma, kami tidak menganggap bahwa semuanya adalah takdir. Ada wilayah-wilayah yang ikhtiari, dan wilayah itu luas sekali. Takdir itu kita jadi laki-laki atau perempuan, kita akan mati, dan kita lahir di mana dari orang tua siapa. Tapi kita kaya atau miskin saat mati, itu sebagiannya adalah ikhtiari. Bukan kita kaya atau miskin itu takdir. Kalau kita lahir dari orang tua yang kaya atau miskin, itu takdir. Tapi kita mati dalam keadaan kaya atau miskin, itu ada wilayah ikhtiarinya. Dan dalam konteks ini, kami berpandangan bahwa wilayah ikhtiarinya lebih luas. Iktiar secara umum diartikan usaha. Sebenarnya, kata itu berasal dari bahasa Arab khair, terbaik. Orang kalau mau dapat yang terbaik ya usaha. Tidak cukup hanya berdoa. Begitu kira-kira maksudnya. Nah, untuk melakukan usaha yang optimal, maka diperlukan bantuan teknologi. Pengembangan teknologi itu didahului dengan pengembangan sains. Jadilah sains dan teknologi sangat diperlukan. Kerja-kerja di Planet NUFO ini dilakukan secara saintifik. Pelihara domba dan hewan lainnya di sini, dipandu oleh ahli-ahli dari IPB, Bogor dan Fakultas Kedokteran Hewan Unair. Kalau tidak berbasis sains, ya akan gagal. Kalau tidak menggunakan teknologi, kita akan sangat menderita dan hasilnya minim. Untuk urusan pekerjaan-pekerjaan yang berulang, berbahaya, dan sangat berat, harus menggunakan robot. Menanam tanaman juga sedikit demi sedikit menggunakan sains dan teknologi. Yang paling sederhana pakai traktor dan hidroponik.”

Planetnufo.com: “Jadi, kembali ke pertanyaan awal, jadinya kalau tidak salaf tidak modern, apa dong?”

Abana: “Ya harus dibuat kategori baru. Super modern kali. Hahaha. Tapi ya tidak apa-apa kan super modern. Biar tambah optimis. Karena kami juga punya jargon differen and the best, berbeda dan terbaik. Itu kan berarti unik. Kalau unik ya memang berbeda dengan yang lain, dengan nilai yang terbaik. Visi yang jauh ke depan kan harus begitu. Kalau hanya untuk sama dengan yang lain, ya tidak perlu ada. Gabung saja dengan yang sudah ada. Kita layak ada kalau memang punya, setidaknya visi, untuk bisa menghadirkan manfaat yang lebih besar, yang lebih baik dibandingkan yang sudah ada.”
Planetnufo.com: “Kalau super modern, berarti harus ada kriteria-kriteria baru yang melampaui salaf dan modern ya, Bah. Apa saja itu?”
Abana: “Pertama, dari aspek bahasa, sebagai pesantren, bahasa Arab itu pasti. Kemudian, karena kami ini mengakomodasi kurikulum nasional, hanya metode pengajarannya saja yang beda, di dalamnya ada bahasa Inggris. Dan karena kami punya ustadz/ah suami-istri lulusan S2 dari Tiongkok, maka di sini kami kembangkan juga pembelajaran bahasa Mandarin. Kami buatkan cluster-cluster: Arab, Inggris, dan Mandarin. Ini menyesuaikan bakat dan minat para-santri murid di sini. Alhamdulillah di Planet NUFO juga ada dua santri dari Taiwan. Mereka kami jadikan sebagai pemicu yang lain untuk mempelajari bahasa Mandarin.”

Planetnufo.com: “Yang kedua?”

Abana: “Kedua, dari aspek intensitas pembinaan, kami sering menyebutnya dengan pembinaan super intensif. Para santri-murid di sini kami buatkan sistem belajar yang membuat mereka benar-benar aktif, bukan hanya sebagai pendengar. Saya belajar dari kasus anak-anak dokter yang kemudian jadi dokter, anak insinyur jadi insinyur, anak ustadz jadi ustadz, anak kiai jadi kiai, dan seterusnya. Ini karena saya ini juga anak ustadz dan ustadzah, dan bapak mertua saya dokter yang tiga dari empat anaknya jadi dokter spesialis. Itu sebenarnya kan biasa. Hanya saja, kalau anak kiai jadi kiai kok dianggap karena ladunni. Ini tidak benar. Itu sama dengan yang lain. Mereka bisa sukses di bidangnya itu, karena memang belajar dan bekerja jauh lebih keras. Saya pernah menghitung, mereka yang sukses di bidangnya masing-masing, baik dokter, insinyur, advokat, ustadz, dll, telah belajar dan bekerja sampai 150 kali lipat lebih keras dibandingkan orang pada umumnya. Kalau ladunni, anak kiai tanpa kuliah di Fakultas Kedokteran tiba-tiba jadi doket, atau tidak kuliah di Fakultas Teknik tiba-tiba bisa mengajar membangun konstruksi canggih, atau bikin senjata paling canggih untuk memenangkan peperangan. Kalau sekarang ya mengalahkan Ukraina yang didukung oleh Amerika. Jadi, ladunni saya anggap sebagai mitos. Yang diperlukan adalah intensitas belajar santri yang harus ditingkatkan secara drastis. Karena itu, di Planet NUFO ini, sejak awal saya sediakan guru dalam jumlah besar. Bahkan melebihi jumlah santri-murid angkatan pertama. Konsepnya, rasio guru:murid 1:4. Lalu kami bentuk sistem mentoring. Sekarang ini, yang sudah menguasai materi, menjadi mentor.”

Planetnufo.com: “Setuju, Bah. Konkretnya bagaimana itu, Bah?”

Abana: “Konkretnya saya jarang sekali memberikan kajian bandongan. Yang sering itu paling ya membangun paradigma dan memberikan motivasi setiap selesai shalat fardlu. Paling maksimal 15 menit. Kalau untuk memahami teks Arab, saya membuatkan rekaman khusus sesuai dengan kebutuhan santri pemula sampai santri level advance. Yang saya pilih pun surat Yusuf. Sebab, surat Yusuf berisi ayat-ayat yang susunan kata dan kalimatnya sederhana, dan isinya mudah dipahami oleh anak-anak sekalipun. Sebab, isinya adalah kisah perjalanan hidup Nabi Yusuf sejak kecil, dimasukkan ke dalam sumur, jadi budak, dipenjara, lalu menjadi raja. Tentu saja ada lingkungan keluarga, teman-temannya, dan kerajaan. Tapi semua itu mudah dipahami. Isinya bukan sesuatu yang abstrak yang anak-anak akan mengalami kesulitan untuk memahami. Dengan begitu, siapa pun bisa belajar dengan langsung mempraktekkan menerjemahkan. Alhamdulillah, hasilnya signifikan. Dengan cara ini, 40% santri-murid angkatan pertama bisa memaknai teks Arab, lengkap dengan i’rabnya. Standard yang digunakan untuk memaknai al-Qur’an ya kitab I’rab al-Qur’an. Dalam konteks ini, teknologi menjadi sangat penting. Kami bervisi pengembangan sains dan teknologi, karena teknologi canggih memang membantu kehidupan kami, termasuk dalam urusan belajar ini. Bayangkan kalau saya, ustadz/ah di sini, harus mengulang-ulang materi. Bisa lelah, bosan, dan putus asa. Tetapi kalau kami sudah memiliki rekaman bahan ajar, maka santri-murid tinggal menyimak, lalu kami tinggal memastikan mereka mampu untuk mengartikan teks. Kegiatan para guru lebih banyak melakukan validasi setelah para santri-murid dijelaskan dan diberi bahan ajar dengan panduan yang melekat. Hemat waktu dan tenaga. Santri-murid bisa belajar kapan saja di mana saja. Sesuai dengan mood mereka juga.”

Planetnufo.com: “Sekarang ketiga, Bah.”

Abana: “Yang ketiga adalah kewirausahaan. Kami ingin agar santri-murid di sini tidak hanya berilmu alias pintar, tetapi juga berharta. Di sini, bahkan prinsipnya ditulis dan ditempel di bagian depan “Logika tanpa logistik akan macet”. Punya ilmu tidak punya harta, bisa kurang optimal. Bahkan bisa gawat. Idealisme tidak akan bertahan tanpa dukungan materi yang cukup. Di antara pelajaran di sini adalah semua santri-murid harus punya kemandirian intelektual. Ini akan mengantarkan mereka menjadi pribadi yang punya idealisme tinggi. Idealisme tinggi ini harus dibiayai, dan pasti mahal. Karena itu, harus ada biaya yang cukup untuk membiayainya. Setidaknya, mereka harus memiliki biaya yang cukup untuk itu, agar jangan sampai berhenti di tengah jalan. Yang sering saya katakan juga adalah jangan mengandalkan bantuan orang lain. Bantuan orang lain hanya untuk mengakselerasi. Modal awal dan dasarnya harus punya sendiri. Lebih dari itu, para santri harus berdakwah dan mendidik umat. Jangan sampai dakwah dan pendidikan dijadikan sebagai lahan bisnis untuk keuntungan sendiri. Maka harus punya usaha dari sekarang. Nabi kaya dulu lo. Baru jadi utusan Allah, kemudian berdakwah dengan menghabiskan hartanya. Kalau santri miskin, lalu jadi ustadz dan jadi kaya, ini pasti umatnya yang tereksploitasi, walaupun mereka tidak sadar. Lebih kasihan lagi kalau umatnya miskin, tetapi elitenya kaya dan hidup mewah.”

Planetnufo.com: “Masuk akal, Bah. Keempat?”

Abana: “Keempat adalah kepemimpinan. Kualitas kepemimpinan di sini sangat kami tekankan. Jalannya adalah memberikan ruang seluas-luasnya kepada berbagai organisasi untuk para santri-murid. Bukan saja organisasi intra pesantren atau sekolah, tetapi juga ekstra. Maka di sini ada banyak organisasi, mulai dari OSIS, kepengurusan pesantren, IPM (Ikatan Pelajar Muhammadiyah), IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama’), PII (Pelajar Islam Indonesia), dan HPI (Himpunan Pelajar Islam). Pemilunya juga unik. Di antara keunikannya adalah menggunakan prinsip one juz one vote for one persone (OJOVOP). Jadi yang hafal 30 juz ya punya 30 suara, bahkan bisa lebih karena punya kualifikasi lain yang bernilai satu suara. Pengalaman organisasi inilah yang saya harapkan membuat mereka memiliki kapasitas kepemimpinan andal di masa depan. Buah ilmu bisa diperjuangkan secara kultural, dan lebih efisien lain kalau secara struktural. Pakai kekuasaan. Sekali lagi, saya ini dosen ilmu politik. Politisi. Ngerti how the political system works.”

Planetnufo.com: “Masih ada yang lain, Bah?”

Abana: “Kalau masih kurang, masih ada lagi, yaitu menulis. Ini juga karena saya adalah penulis. Dan alhamdulillah telah melahirkan cukup banyak penulis di pesantren Monasmuda Institute Semarang yang saya andalkan untuk mengajari para santri-murid di sini menulis. Bahkan beberapa di antaranya sudah menerbitkan buku. Ada cluster menulis di sini. Di sini ditekankan dua kefasihan. Tidak hanya fasih lisan, tetapi juga tulisan. Ini karena ada orang yang suka membaca dan mendengar. Ada orang yang lebih suka mendengar. Tapi ada juga orang yang lebih suka membaca. Semuanya harus kita jadikan sebagai objek dakwah kita secara optimal. Caranya ya harus ada konten yang isinya para santri berceramah dengan materi yang berkualitas. Tapi juga harus punya tulisan-tulisan yang bagus dan menarik dibaca.”

Planetnufo.com: “Habis, Bah?”

Abana: “Di sini ada program tahfidh al-Qur’an. Dan menghafalkannya pakai metode khusus yang dihasilkan setelah melakukan riset bertahun-tahun. Intinya, menghafal al-Qur’an harus dilakukan setelah mengetahui artinya. Kalau tidak, tidak akan bisa full 30 juz mutqin. Paling banyak 23 juz dan rata-rata 13 juz. Dari hasil riset ini, menghafal dan kemampuan membaca kitab kuning diintegrasikan. Biasanya kan yang belajar kitab ya kitab saja. Yang menghafal ya menghafal saja. Di sini saya tekankan cara belajar yang benar, yaitu: catat yang penting, hafalkan yang paling penting. Nah al-Qur’an ini sumber utama ajaran Islam, di samping hadits. Jadi paling penting. Maka harus dihafalkan kalau mau jadi ulama’. Menghafalkannya harus dengan arti. Jadi, semuanya terintegrasi. Dan sistem pembelajaran di sini terintegrasi seperti ini. Konsep mengintegrasikan semuanya inilah yang lagi-lagi bisa menjadi indikator super modern. Karena terintegrasi, sesuatu yang oleh kebanyakan orang dianggap rumit, kemudian menjadi sangat sederhana dan bahkan seharusnya. Inilah yang harus kita kembangkan terus. Dengan model pendidikan ini, kami punya lingkungan yang sebelumnya kami sebut Qur’anic Habit Camp, kini bisa kami sebut juga dengan Qur’anic Habit Super Camp”.