Sebagian orang yang tidak mengenal dengan baik Pesantren-Sekolah Alam Nurul Furqon, Mlagen, Pamotan, Rembang, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Planet NUFO, mungkin akan berpandangan keliru. Misalnya, karena hanya lewat di depannya yang nampak adalah banyak mobil parkir berjajar di halaman atau di pinggir jalan, maka kesan yang bisa muncul adalah yang belajar di dalamnya adalah hanya anak-anak orang berada saja. Yang benar adalah Planet NUFO menerima anak-anak dari kelas ekonomi apa pun, keluarga dari ormas dan orpol apa pun, bahkan dengan bakat minat apa pun.
Semua santri-murid diperlakukan secara sama, diberikan baik fasilitas tempat tidur, makan, juga hak dan kewajiban mereka dalam menjalani aktivitas di pesantren dan sekolah secara sama. Dalam berorganisasi misalnya, prinsipnya adalah sistem merit dengan hak suara menggunakan mekanisme one juz one vote. Penentu jumlah suara yang dimiliki adalah jumlah juz hafalan al-Qur’an, bukan besaran mereka membayar biaya pendidikan.
Bagaimana sesungguhnya pengelolaan Planet NUFO yang memberikan kesempatan semua anak untuk belajar di dalamnya? Berikut ini wawancara planetnufo.com dengan Pengasuh Harian Planet NUFO, Ustadz Su’udut Tashdiq, S.HI., L.L.M., yang juga Wakil Rais Syuriyah PCI NU Tiongkok periode 2021-2023 yang akrab disapa dengan Ustadz Su’ud.
Planetnufo.com: “Ustadz Su’ud, sepertinya Planet NUFO makin ramai ya? Saya lihat waktu upacara mengawali masa belajar tahun ini, halaman sudah penuh sesak. Padahal pada saat awal berdiri hanya belasan orang saja.”
UST: “Benar. Alhamdulillah. Kami sangat bersyukur, karena makin banyak yang memberikan kepercayaan kepada kami untuk mendidik anak-anak ini. Bahkan ada di antaranya yang dari luar negeri. Ada satu dari Taiwan, dan sebentar lagi akan datang lagi satu atau dua. Sekarang sedang mengurus visanya.”
Planetnufo.com: “Nah ini dia. Kalau dari luar negeri berarti biayanya kan besar. Sebenarnya santri-murid di Planet NUFO ini apakah memang seluruhnya dari keluarga ekonomi kelas menengah atas?”
UST: “Siapa yang bilang begitu? Kami tidak pernah melakukan diskriminasi. Dari aspek apa pun, kami tidak pernah menolak. Termasuk dari kelas sosial-ekonomi apa pun. Bahkan kami sedang berpikir keras bagaimana caranya agar anak-anak yang memiliki keistimewaan, juga bisa menikmati pendidikan di Planet NUFO ini. Sebab, kami sudah mendapatkan cukup banyak pelajaran dalam lebih dari tiga tahun mengurus Planet NUFO ini, bahwa cukup banyak anak yang tidak diangggap, dipandang sebelah mata, ternyata memiliki potensi-potensi yang luar biasa. Kami sekarang memiliki dua kelompok band, namanya BENEFIT dan BEN’SIN’, itu karena kami bukan menyeleksi, hanya mengenali bakat dan minat mereka. Ternyata anak-anak yang mungkin kalau kami hanya menekankan aspek akademik, akan tidak masuk di sini. Tapi karena kami memberikan kesempatan kepada semua anak dengan kelebihan dan kekurangan mereka, maka kami justru mendapatkan banyak hal. Mereka bisa disinergikan. Anak dengan satu kemampuan dipadukan dengan anak dengan kemampuan yang lain, sehingga bisa membentuk sebuah kelompok musik yang saling melengkapi’.
Planetnufo.com: “Jadi, soal biaya tadi sebenarnya bagaimana?”
UST: “Wah kayaknya penasaran ini. Sejak awal berdiri, kami sudah bertekad untuk menjadikan Planet NUFO ini sebagai lembaga pendidikan yang different and the best dan bukan untuk berbisnis. Pendiri Planet NUFO kan Abah Nasih, yang kita tahu bahkan siapa saja yang mau serius menghafalkan al-Qur’an dikasih beasiswa. Saya salah satu yang mendapatkan beasiswa kuliah di UIN Walisongo dan sampai lulus S1 tinggal di Monash, sekarang Monasmuda Institute Semarang.”
Planetnufo.com: “Tapi masuk Planet NUFO bayar kan?”
UST: “Ada yang bayar, ada yang mendapatkan keringanan sampai Rp. 0. Para orang tua atau wali calon santri-murid bisa mendaftarkan sesuai dengan kemampuan dan mental masing-masing. Kami hanya memberikan pilihan-pilihan dan itu sebenarnya juga ada tujuannya. Intinya pilihan untuk membayar dengan biaya besar ada, tetapi juga ada untuk mereka yang tidak mau atau tidak mampu dengan biaya besar.”
Planetnufo.com: “Maksudnya bagaimana ini?”
UST: “Pendidikan itu sesungguhnya adalah investasi yang sangat besar. Kalau anak dididik dengan baik dan tepat, maka dia akan menjadi SDM yang berkualitas tinggi. Dan untuk menghasilkan SDM demikian, pasti membutuhkan biaya yang besar. Mestinya yang mengurusi ini kan negara. Namun, karena negara kita kan belum mampu. Maka diperlukan lembaga-lembaga masyarakat, swasta yang memiliki kepedulian untuk itu. Kami salah satu di antaranya. Namun, yang daftar di sini kan juga tidak sedikit. Maka kami memberikan pilihan-pilihan. Kami memulai dengan hitungan riil untuk memperoleh pelajaran yang berkualitas. Misalnya, mendapatkan bimbingan guru yang berkualitas dengan intensitas pendidikan yang bagus, tempat yang representatif, dan lingkungan yang mendukung. Tentu saja, kalau ini dihitung, akan muncul angka yang besar. Inilah biaya asli yang mestinya dibayar oleh orang tua. Namun, kan tidak semuanya mampu dan mau. Sementara kami ini adalah orang-orang yang ingin melakukan kaderisasi. Itu sudah kami buktikan saat kami menjadi mahasiswa, di HMI. Kami mengkader para mahasiswa kan tidak dibayar. Prinsip kami di sini ya sama. Tapi ya itu tadi, kalau kami harus membiayai semuanya sendiri, terus terang belum mampu. Tapi, pengasuh kami selalu mengajak agar suatu saat nanti, Planet NUFO bisa mendidik semua anak, secara gratis. Sementara ini, para orang tua diberi pilihan-pilihan sesuai dengan kemampuan dan kemauan.”
Planetnufo.com: “Maksud sesuai dengan kemampuan dan kemauan itu bagaimana? Apakah kalau mampu tapi hanya mau membayar jauh di bawah kemampuannya juga boleh?”
UST: “Betul. Tepat. Lihat saja, setiap ada pendaftar baru, mereka akan dipersilahkan untuk mengisi pilihan-pilihan. Dan itu bebas. Kami ini kan tidak tahu, orang yang datang ke sini ini sebenarnya kaya atau tidak kaya. Kalau yang dijadikan ukuran adalah kendaraan yang digunakan saat datang, sekarang ini kan banyak rental mobil. Pinjaman juga bisa. Maka itu tak bisa kita jadikan sebagai ukuran. Orang kaya juga tidak pasti mau mengeluarkan uangnya, bahkan walaupun untuk dirinya sendiri. Untuk dirinya sendiri pun pelit, bahasa kasarnya. Pokoknya maunya gratisan. Padahal anak kan tidak tahu menahu tentang masalah itu. Yang kami inginkan adalah semua anak harus mendapatkan pendidikan yang terbaik. Dan kami bisa memberikan itu. In syaa’a Allah. Jadi sesungguhnya ini soal mental juga. Kalau kita hitung detil, angka tertinggi yang ada dalam pilihan-pilihan itu pun jadi kecil nilainya.”
Planetnufo.com: “Memang fasilitas yang didapatkan apa saja?”
UST: “Yang paling istimewa di sini adalah kualitas dan kuantitas guru atau ustadz/ah. Hampir semuanya berpendidikan pascasarjana dan aktivis yang levelnya adalah pengkader di organisasi kemahasiswaan. HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) terus terang saja. Mereka itu sudah teruji menjadi instruktur-instruktur dalam training-training atau perkaderan HMI. Mereka itu sudah berpengalaman untuk mengelola pelatihan dalam skala regional bahkan nasional. Namun, oleh Abah Nasih, kami diajak untuk melakukan kaderisasi sejak dini. Agar hasilnya lebih baik. Ya ini tempatnya. Makanya di sini juga banyak organisasi, ada PII, IPM, IPNU-IPPNU, HPI, dll. Itu semua untuk mengasah kemampuan kepemimpinan mereka. Kecerdasan emosional juga bisa ditingkatkan melalui ini. Jadi bukan hanya kecerdasan intelektual. Rasio guru:murid di sini juga 1 banding 4 sampai 5. Mana ada lembaga pendidikan yang begini? Di Finlandia saja masih 1 banding belasan. Sedangkan sudah sejak awal kami mendesain ini 1 banding 4. Abah Nasih itu datang ke sini sepekan bisa dua kali, dan menginap di sini untuk mengecek satu per satu untuk memastikan bahwa santri-murid di sini menguasai materi dasar, sesuai dengan harapannya. Jadi anak-anak ini diajar langsung oleh dosen yang biasanya mengajar di pascasarjana. Ditambah dengan latihan dan praktik wirausaha. Tak hanya itu, kami sering sekali mendatangkan dosen dan profesor dari berbagai perguruan tinggi, seperti IPB University Bogor, Unair Surabaya, Polines Semarang, dll., untuk bersinergi dengan kami. Semua itu kalau diuangkan kan jadi mahal sekali. Tapi kan tidak. Maka kami membagi pembiayaannya dengan orang tua yang mampu dan mau. Mereka bisa memilih, sesuai dengan kemampuan dan kemauan mereka, sekali lagi. Orang tua kaya mau gratis ya boleh. Syaratnya membawa surat keterangan tidak mampu dari RT. Iya serius ini. Dan kami pasti tidak akan mengecek.”