Mempelajari ilmu pengetahuan secara utuh dan mendalam memerlukan dasar-dasar yang kuat. Ibarat membangun rumah, fondasi yang kuat harus dibuat terlebih dahulu. Tembok yang dibangun tanpa fondasi akan roboh. Diulangi beribu kali sekalipun, akan tetap kembali roboh. Usaha yang telah dilakukan akan sia-sia. Kegagalan yang berulang-ulang, pada akhirnya akan menyebabkan kebosanan, bahkan keputusasaan.
Sebaliknya, jika fondasi yang kokoh sudah dibuat, maka tembok yang kuat pun bisa dibangun. Rumah akan berdiri dengan gagah. Rumah juga bisa terus dilengkapi dan diperindah dengan berbagai pernak-pernik di temboknya, diberi lampu gantung yang indah, bahkan lalu ditambah dengan taman bunga yang cantik, dan kolam ikan yang estetik. Pemiliknya akan makin semangat untuk terus meningkatkan kualitas rumah agar menjadi semakin nyaman untuk ditinggali.
Demikianlah belajar, terlebih mempelajari al-Qur’an. Untuk kitab Allah ini, ada ibarat lain yang juga sangat relevan. Wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ini ibarat samudera tiada tepi. Di dalamnya terdapat segala jenis ikan yang harus ditangkap untuk bisa dinikmati. Untuk melakukannya, tak mungkin tanpa alat. Usaha menangkap dengan tangan kosong, walau hanya untuk seekor ikan kecil saja, bisa menyebabkan kelelahan dan pulang dengan tangan hampa. Karena itu, sebelum pergi ke lautan, alat tangkap harus disiapkan. Makin lengkap alat yang disiapkan, makin banyak jenis ikan yang akan bisa diangkut pulang. Seperti itu pulalah, sebelum belajar al-Qur’an, ilmu alat harus dikuatkan. Makin kuat alat yang dimiliki oleh pembelajar, maka makin banyak ilmu yang akan berhasil didapatkan.
Karena itulah, santri-murid di Monasmuda Institute dan Planet NUFO diberi rute yang paling efektif dan efisien agar lebih cepat “sampai tujuan”. Semua harus memulai dengan membangun basis keilmuan yang kuat. Tujuannya adalah agar mereka bisa membangun bangunan keilmuan yang kokoh, lalu secara mandiri bisa melengkapi bangunan yang kokoh itu dengan beragam disiplin keilmuan baru yang bisa membuat Islam tidak hanya relevan untuk solusi kehidupan yang makin complicated, tetapi bahkan terasa sangat menarik.
Berikut ini wawancara eksklusif planetnufo.com dengan Dr. Mohammad Nasih, M.Si. al-Hafidh atau yang akrab disapa oleh para santrinya dengan Abah Nasih atau Abana:
Planetnufo.com: “Bagaimana sebenarnya belajar yang benar, agar santri bisa menguasai al-Qur’an secara komprehensif?”
Abana: “Belajar yang benar harus memulai dengan, di antaranya, ilmu alat yang kuat. Ilmu alatnya harus dipastikan beres. Gambarannya sederhana saja. Kalau mau membaca buku, maka harus bisa mengeja. Kalau mau berhitung, harus mengenal angka. Jika mau lebih serius lagi, membaca referensi yang lebih serius, harus memperkuat diri dengan logika. Kalau mau sekedar bisa berbincang dalam kehidupan sehari-hari, bisa dikatakan cukup hanya dengan bisa merangkai kata dan berlogika sederhana. Kalau hitungan, cukup penambahan, pengurangan, pengalian, dan pembagian. Tapi kalau mau menjadi ilmuan, logika harus tajam dilengkapi dengan matematika yang canggih. Harus terbiasa dengan sin, cos, tangen, merambah ke integral differensial, dan seterusnya. Sekarang ini terkenal dengan literasi dan numerasi. Harus kuat.”
Planetnufo.com: “Jadi, kalau mau memahami al-Qur’an?”
Abana: “Pertama kali harus menguasai bahasa Arab. Ini mutlak. Tak bisa ditawar. Sebab, al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab. Dan jika tidak berbahasa Arab, bukan al-Qur’an lagi namanya. Namanya terjemahan. Dan terjemahan bukanlah al-Qur’an per definisi. Bagi murid non-Arab, ya kita-kita ini, memang harus belajar lebih keras. Sebab, bahasa ibu kita bukan bahasa Arab. Biasanya, yang terjadi di lingkungan kita, belajar membaca dulu. Baru diikuti dengan belajar ilmu alat untuk bisa memahami bahasa Arab. Sebenarnya antara belajar membaca dan menguasai ilmu alat, bisa diintegrasikan. Belajarnya bisa bersama-sama. Di antara bentuk mengintegrasikan keduanya adalah belajar tashrif. Dimulai dengan dlamir munfashil. Tashrifnya yang lughawi didahulukan. Saya sudah membuktikan, kasusnya anak-anak saya maupun sancil-sancil (red: santri kecil) di Monasmuda Institute maupun di Planet NUFO. Mereka mudah menghafal tashrif sebelum mereka bisa membaca. Dan mereka menganggapnya sebagai nyanyian. Bahkan mereka senang. Tashrif ini kan pola saja sebenarnya. Kalau anak-anak sudah menguasai pola dasarnya, maka dikasih kata apa saja akan bisa. Sekali lagi, inilah yang harus dikuasai, sebelum anak-anak diajak untuk belajar bahasa Arab al-Qur’an. Nahwunya nanti sambil jalan dengan mempraktekkan setiap hari. Jika terbiasa, dengan kecerdasan linguistik standard, maka akan cepat bisa. Tentu sesuai dengan intensitas belajar hariannya. Seperti anak-anak bisa bicara itu setelah berapa tahun? Butuh tidak hanya bulanan, tapi bahkan tahunan. Tidak bisa instan. Apalagi kalau kualitas anak juga biasa-biasa saja. Jangan terpengaruh oleh iklan cepat bisa ini dan itu. Orang tua harus sabar. Agar para guru yang mengajari juga tidak merasa didikte. Tapi kalau anak remaja, dengan intensitas belajar yang lebih tinggi, memang bisa relatif lebih cepat.”
Planetnufo.com: “Setelah itu bagaimana?”
Abana: “Kalau di Monasmuda Institute dan Planet NUFO, santri, kalau sudah remaja dan dewasa diwajibkan untuk mulai berlatih dengan menjadikan surat Yusuf sebagai bahan latihan utama. Kalau masih kecil, hanya diarahkan saja dulu. Mereka wajib memahami artinya, lalu secara bersamaan juga menghafalkannya. Saya sampaikan, menghafal tanpa arti butuh usaha tujuh kali lipat. Karena itu, keduanya mesti diintegrasikan. Memahami untuk menghafal dan menghafal untuk memahami.”
Planetnufo.com: “Kenapa pilihannya surat Yusuf? Kenapa bukan yang lain? Surat-surat pendek di juz 30 misalnya?”
Abana: “Ini berdasarkan riset saya selama kira-kira satu dekade mengajar dan menerima setoran santri penghafal al-Qur’an. Awalnya, mereka yang mau menghafal, langsung saya suruh menghafal. Hasilnya, sangat minimalis. Capaian rata-rata hanya 13 juz. Paling tiggi 23 juz. Kasus ini membuat saya mencari penyebabnya. Ketemulah penyebabnya, yaitu: menghafal tanpa arti butuh usaha tujuh kali lipat. Kalau begini, setalah saya kalkulasi dan rekalkulasi, tidak akan bisa hafal 30 juz. Ini pada umumnya ya. Menghitungnya mudah. Untuk hafal dengan lancar 30 juz, penghafal perlu muraja’ah minimal 6 juz per hari. Kalau perjuz perlu 30 menit, maka perlu 3 jam per hari. Kalau usahanya harus 7 kali lipat, maka perlu 21 jam. Waktunya tudak cukup. Sehari semalam hanya 24 jam. Karena itu, saya berikan jalan baru. Setiap penghafal, harus menguasai dulu artinya. Tapi mempelajari arti ayat-ayat di juz 1 kan tidak mudah. Coba baca al-Baqarah: 19 saja, misalnya. Itu berat, karena untuk bisa menangkap maksudnya, perlu dukungan disiplin sains. Mau juz 30? Apakah dikira juz 30 lebih mudah dipahami? Kata-kata di dalam juz 30 banyak yang asing. Dan banyak kata yang dibuang yang bisa membuat tidak mudah untuk memahaminya. Apalagi pembicaraan tentang akhirat. Tidak mudah mengimajinasikannya.”
Planetnufo.com: “Kalau surat Yusuf lebih mudah dipahami? Kenapa bisa begitu?”
Abana: “Tema dalam surat Yusuf tidak berat. Ini tidak bicara soal ‘ibrahnya ya, tapi makna literalnya. Sebab, isinya kisah keluarga Nabi Yusuf; saudara-saudaranya iri kepadanya dan melakukan rekayasa lalu dimasukkan dalam sumur. Karena Yusuf hilang, bapaknya, Nabi Ya’qub sedih, dan seterusnya sampai Nabi Yusuf jadi elite politik Mesir dan keluarganya datang. Kata-kata yang digunakan sederhana, dan ada alur ceritanya. Kalau tahu artinya, jadi mudah membuat asosiasi dan merunutkan alur ceritanya itu. Ini sangat membantu dalam proses menghafalkan. Nah, surat Yusuf ini saya sebut sebagai surat modal. Sebab, kalimat-kalimatnya bisa dijadikan sebagai contoh pola kalimat di surat-surat yang lain dalam al-Qur’an, secara keseluruhan. Maksud saya, semua kalimat dalam surat Yusuf, bisa jadi rujukan untuk mengi’rab kalimat-kalimat yang ada dalam ayat-ayat dalam surat-surat yang lain. Kalimat itu kan hanya dua: ismiyyah dan fi’liyyah, kemudian ada tambahan-tambahan sifat, keadaan, dll.. Kalau pola ini sudah terpegang, maka akan beres. Dan itu semua ada di surat Yusuf. Pola mubalaghah af’il bi dan maa af’ala saja yang yang tidak ada di surat Yusuf.”
Planetnufo.com: “Jadi, kalau santri sudah bisa mengi’rab surat Yusuf, maka akan bisa membaca teks yang lain?”
Abana: “Mestinya begitu. Kalau ada kalimat di teks yang lain, tinggal dicari saja, polanya sama dengan yang mana di dalam surat Yusuf. Misalnya, saya sudah coba banyak santri untuk mengartikan dengan i’rab yang tepat al-Nahl: 71, tetapi tidak ada yang lulus. Mereka gagal mengidentifikasi pola dengan awalan maa naafy yang diikuti oleh bi. Dan di dalam al-Qur’an cukup banyak. Ini pola yang maa harus dimaknai dengan laysa seperti di dalam surat al-Tin: 7, ayat terakhir. Dan di dalam surat Yusuf sudah ada di ayat 103. Ini sekedar contoh. Kalau kalimat-kalimat umum, tentu saja banyak sekali. Intinya, dengan menguasai pola kalimat yang ada di surat Yusuf, mestinya santri akan sudah makin mudah memaknai dan memahami surat-surat yang lain.”
Planetnufo.com: “Setelah surat Yusuf selesai, apa ada surat lain yang direkomendasikan untuk diperlakukan sama? Jadi tambahan modal berikutnya.”
Abana: “Ada. Surat al-Kahfi. Isinya kan kisah juga. Memang separuhnya bukan kisah. Tapi separuhnya adalah kisah yang alurnya mudah diingat. Anggap saja seperempatnya di bagian awal adalah kisah tentang Ashhab al-Kahfi dan seperempatnya di bagian akhir adalah kisah perjalanan Nabi Musa dengan Khadlir. Dan yang paling penting lagi, di dalam surat ini ada pola yang di dalam al-Qur’an hanya di surat ini dan surat Maryam. Kalau di al-Kahfi ada pola abshir bihi wa asmi’ (al-Kahfi: 26) dan kalau di surat Maryam di balik dengan dlamir jama’ asmi’ bihim wa abshir (Maryam: 38). Sedangkan pola maa af’ala ada di surat al-Baqarah: 175 dan ‘Abasa: 17. Sementara santri rata-rata hafal juz ‘Amma. Jadi, dengan mengerti i’rab dan menghafalkan surat Yusuf, al-Kahfi, ditambah hafalan ‘Abasa sudah dihafal dari rumah atau mushalla dekat rumah, santri diharapkan sudah relatif memiliki alat untuk terus mengalami perkembangan dalam memahami al-Qur’an, sampai mati. Jadi mereka akan menjadi orang-orang yang tidak akan pernah berhenti belajar.”
Planetnufo.com: “Apakah sudah cukup dengan itu saja?”
Abana: “Ya pasti belum. Ilmu Allah ini terlalu luas dan dalam. Ini ibarat hanya pintu gerbang ilmu saja. Jadi, dengan memaknai dua-tiga surat itu, pintu gerbang ilmu sudah mulai terlihat. Kalau sudah masuk pintu gerbangnya, ya tinggal jalan memasuki kotanya. Di dalamnya, akan terlihat lagi kanal-kanal atau pintu-pintu kecil yang bisa dimasuki satu per satu, sesuai dengan bakat, minat, dan keperluan. Dan bersamaan dengan ini, santri-murid sudah siap untuk menghafalkan al-Qur’an dengan lebih cepat lagi. Mereka saya ajak untuk mengkaji kitab-kitab tafsir al-Jalalayn, Ibnu Katsir, dll. dengan paradigma kritis. Maksudnya tidak menelan mentah-mentah apa yang ada di dalamnya. Kalau nyata-nyata tidak tepat, ya kita kritik, tidak kita pakai. Nah, kalau bisa melakukan ini saat usia akhir SMP atau awal SMU, kemudian dengan persiapan yang baik, mereka bisa masuk universitas excellent yang memungkinkan menjadi muslim cendekia yang mampu membuktikan kebenaran al-Qur’an dengan jalan saintifik.” (AH)