Santri adalah istilah umum yang sering kita dengar di Indonesia. Santri, tentu saja sangat berkaitan dengan agama islam. Lantas, apa yang dimaksud dengan santri? Menurut wikipedia, santri secara umum adalah sebutan bagi seseorang yang mengikuti pendidikan agama islam di pesntren. Santri menetap di sebuah tempat yang bernama pesantren. Selain itu, menurut bahasa sanskerta, santri berasal dari kata “shastri” yang memiliki akar kata yang sama dengan kata sastra yang berarti kitab suci, agama dan pengetahuan.
Pada umumnya, pesantren-pesantren tradisional di Indonesia menerapkan sistem feodal. Sistem feodal sangat mengharuskan para santri untuk lebih menghormati atasan yang biasa kita sebut sebagai kyai dan bu nyai atau ustadz dan ustadzah. Sistem feodal sangat berdampak pada sikap sopan santun santri. Dengan sistem ini, santri menjadi lebih takut dan hormat. Mereka akan patuh pada setiap perkataan kyai nya. Akan tetapi, disisi lain, sistem feodal juga menimbulkan beberapa dampak negatif. Salah satunya adalah, dengan berjalannya sistem ini, santri menjadi orang yang takut untuk berhadapan dengan dunia luar.
Para santri sudah terlanjur dibuat takut oleh sistem ini. Memang, pada awalnya sistem ini dibuat agar para santri lebih menghormati guru. Namun, hal ini akan berdampak kepada hal yang lain. Santri akan takut dengan orang-orang di lingkungan sekitarnya. Terutama jika mereka bertemu dengan orang baru karena mereka tidak terbiasa bersosialisasi. Pernahkah kalian mendengar tentang istilah “adab di atas ilmu”. Pernahkah kalian berpikir tentang bagaimana istilah ini terbentuk? Jika dilihat, kata-kata ini memang tampak lebih mengagungkan adab dibanding ilmu. Namun, coba pikirkan, apakah mungkin seseorang yang tidak memiliki ilmu akan beradab. Contoh kecilnya adalah seorang bayi yang baru bisa berjalan. Apakah bayi seusia itu sudah memiliki adab? Apakah jika bayi tersebut tiba-tiba menggigit tangan kita atau menjambak rambut kita secara tiba-tiba kita bisa mengatakan bayi tersebut tidak beradab? Bayi tersebut belum memiliki adab karena belum pernah menerima ilmu sebelumnya.
Salah satu tokoh cendekiawan muslim Indonesia, KH. Ahmad Bahauddin Nursalim atau kerap disapa dengan Gus Baha pernah menyampaikan tentang adab dan ilmu. Hal ini disampaikan Gus Baha dalam video yang diunggah di akun youtube Santri Gayeng pada selasa 3 mei 2022.Dalam ceramah tersebut, beliau berkata bahwa “Bapak saya dulu jarang mengajarkan adab. Yang diajarkan itu ilmu. Menurut bapak ilmu itu segala-galanya, baru nomor dua adab.” Selain itu, Gus Baha juga menyampaikan bahwa dalam suatu kalimat thayyibah yang sering kita ucapkan, Allah SWT bersabda “Fa’lam annahu laa ilaaha illallah”. Kata beliau, tidak masalah jika orang membaca kalimat itu dengan tidak sedikit, tidak sopan, akan tetapi ilmunya permanen. Daripada sopan, tapi tidak paham apa-apa.
Dalam konteks kalimat thayyibah tersebut juga dikatakan “Maka ketahuilah!” Lantas, apa hubungannya hal ini dengan sistem Feodalisme? Sekali lagi, sistem Feodalisme lebih banyak menata adab anak dibandingkan menata ilmu. Sementara itu, sesuai dengan pernyataan Gus Baha tadi, Ilmu itu harus lebih di dahulukan daripada adab. Pernyataan Gus Baha bertentangan dengan sistem feodalisme yang masih banyak diterapkan saat ini. Tak ada salahnya bagi kita untuk mencoba hal baru. Sistem egaliter akan lebih banyak menata ilmu. Dengan sistem egaliter, santri akan lebih mudah menerima ilmu karena mereka dibiarkan untuk bereksplorasi sesuai dengan minat dan bakat mereka.
Di salah satu kota kecil di Jawa tengah, tepatnya di Kabupaten Rembang, terdapat salah satu pesantren yang sudah menerapkan sistem ini. Planet NUFO namanya. Pesantren ini baru berdiri kurang lebih empat tahun. Namun, jika mengikuti lomba-lomba, sekolah ini sudah mampu menyaingi sekolah-sekolah favorit yang sudah berdiri jauh lebih lama daripada Planet NUFO. Saat ini, sekolah mereka yaitu SMP Alam Nurul Furqon pun sudah mendapat predikat terakreditasi A.
Ini adalah suatu capaian yang sangat besar bagi sekolah yang baru mengikuti akreditasi secara perdana. Karena, tak semua sekolah bisa mendapat predikat terakreditasi A secara langsung.Berikut adalah bukti tentang keberhasilan sistem egaliter dalam membina ilmu santri. Namun, sekali lagi tak ada yang lebih buruk dan tak ada juga yang lebih baik. Semua sistem memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Jika untuk menjaga adab, maka lebih baik sistem feodalisme dan jika untuk mengembangkan pengetahuan serta keberanian anak, maka lebih baik sistem egaliter. Tergantung pada diri masing-masing lebih ingin mementingkan yang mana.
Oleh: Rosaida Artha Kusumanova, Bidang Organisasi dan Pemberdayaan Umat Pimpinan Komisariat IPPNU Nurul Furqon