“Ersya, Clariss kenapa?”

            Pertanyaan itu dilontarkan oleh seorang gadis muda berusia tujuh belas tahun. Ia baru saja lulus setelah sebelumnya menempuh tiga tahun masa SMA. Setelah selesai acara gradution sekolahnya pada pukul 10.00 WIB, ia memilih untuk pergi ke taman belakang sekolah. Ia bermaksud menenangkan dirinya, meninggalkan kegaduhan yang dilakukan teman seangkatannya di lapangan sekolah.

            Tepat ketika berbelok melewati tembok putih milik sekolah yang catnya sudah mulai pudar termakan usia, ia melihat sesuatu pemandangan yang mengejutkan. Seorang teman lelakinya sedang bersimpuh di samping seorang gadis yang tidak sadarkan diri di tanah. Gadis yang sangat ia kenal, sahabatnya, Ayunindya Clarissa.   

Lelaki yang dipanggil Ersya itu terkejut. “Ra, kamu ngapain di situ? Ayo, bantu aku!” suruhnya cepat. Jelas terlihat bahwa Sang Lelaki begitu khawatir dengan kondisi Si Gadis, namun sayangnya tak bisa melakukan apa-apa.

            Si Gadis yang merasa dipanggil cepat-cepat terbangun dari keterpakuaannya. Dengan cepat dirinya membaca situasi. Ia bergegas menuju kedua orang tersebut. Ia berjongkok di depan Si Gadis, mencoba membopongnya mengingat berat badan Si Gadis yang tidak terlalu berat.

            “Ersya, sejak kapan Clariss pingsan?” tanya si gadis mencoba tenang. Jujur, ia sedikit kelelahan karena harus berjalan cepat menuju UKS dengan membopong Clariss sekaligus bertanya kepada teman laki-lakinya itu. Namun yang ada di pikirannya kini hanya, segera beri pertolongan untuk Clariss

            “Lima menit sebelum kamu datang,” ucap Ersya seraya membukakan pintu UKS untuk mereka.

            Lyra masuk lalu menaruh tubuh lemah Clariss di ranjang. Segera ia bertindak sesuatu. Syukurlah ia adalah mantan ketua PMR di SMA itu. Clariss segera mendapatkan kembali kesadarannya.

            Lyra menghembuskan napas lega, begitu pula dengan Ersya. Segera Lyra menyuruh Ersya untuk membelikan makanan sekaligus minuman untuk Clariss. Ersya tanpa protes segera beranjak pergi menuruti titah salah satu teman dekatnya itu.

            Kini, tinggal Lyra dan Clariss di ruangan itu. Lyra yang memasang wajah datar namun tak dianiaya, matanya menujukan gurat khawatir atas hal yang kerap terjadi kepada sahabat perempuannya itu. Kakinya ia gerakan tak sabaran pertanda ada sesuatu yang ingin segera ia katakan. Tentunya sebagai sahabat yang sudah bersama bertahun-tahun, Clariss menyadarinya. Sembari menggeleng lemah ia berucap, “Hhh… Lyra, sahabatku. Jika ada yang ingin kamu utarakan, maka utarakan saja.”    

            Lyra yang mendapatkan izin, segera menanyakan perihal tersebut. “Clariss, sebenarnya kamu memikirkan apa sampai-sampai kamu sering collapse kayak gini?” tanya Lyra. Ia menaruh tangannya di atas tangan Clariss.

            Clariss menundukan pandangan. Ia melihat lurus tangan berwarna tan itu. Menghela napas sebentar, mengangkat kepalanya, dan mencoba menghilangkan rasa gugupnya. “Lyra Kaitlin,  sahabatku… Sebelumnya saya memohon maaf kepada kamu jika saya mempunyai salah, tapi tolong pasang pendengaranmu baik-baik. Esok pagi, saya akan pergi keluar negeri,” ucap Clariss sambil memandang lurus wajah Lyra yang terkejut.

            Bruk…   

            Suara barang terjatuh mengejutkan mereka berdua. Kepala mereka berdua secara bersamaan menoleh ke pintu untuk mendapati Ersya yang ternyata sudah berada di sana, entah sejak kapan. Namun, melihat raut muka Ersya yang terkejut sudah cukup menjadi bukti. Lyra segera beranjak mendekati sang teman kala menyadari sekotak styrofoam berisi bubur, dan sebotol mineral yang jatuh begitu saja membuat.

            Lyra yang hendak membantu Ersya berdiri, mengulurkan tangannya. Namun sayang, tangan itu diacuhkan oleh Ersya karena kini pandangan Ersya hanya tertujun kepada Clariss seorang. Lyra yang menyadarinya segera mengambil kembali tangannya, dan beralih mengambil bubur serta botol yang jatuh tadi. Ia membiarkan Ersya berdiri sendiri, dan kembali ke sisi ranjang Clariss.

“Ah, right. Dia gak akan pernah menerima uluranku,” batin Lyra, tersenyum sambil menunduk dalam di tempatnya duduk. Hanya dirinya dan Tuhan yang mengetahui kebenaran di dalam senyuman itu.

            Ersya berjalan ke sisi ranjang Clariss, menatapnya sendu. Ia bisa memahami maksud dari penggalan kata yang baru saja didengarnya tadi. Pergi, huh?

            Clariss yang melihatnya  tersenyum, senyum yang biasa ia sunggingkan. Sebuah senyum yang memberikan ketenangan. Namun tanpa Clariss sadari sendiri ia telah meremas tangan Lyra begitu erat hingga putih, membuat Lyra hanya dapat menahan untuk tidak merasa kesakitan.

Lyra bisa merasakan atmosfer di sekitar mereka yang kini berubah. Ia menatap dua insan di hadapannya bergantian. Lihatlah tatapan mata sang lelaki yang begitu dalam, sangat berbanding terbalik jika menatapnya.

Apakah aku bisa mendapatkannya?

            Tidak, Lyra. Kamu tidak boleh berharap lebih!

Lyra menghela napas sangat pelan agar tak disadari oleh siapapun. Benar, ia masih beruntung karena lelaki yang bernama lengkap Ersya Fattan itu tidak membencinya. Biasanya jika ada seseorang yang ketahuan menyukai lelaki itu, maka nasib malang bisa menimpanya. Dijauhi dan dimusuhi adalah hal yang kerap terjadi.

Ia kembali memerhatikan tatapan mata sang sahabat dan temannya itu. Ah, ternyata dugaanku  benar. Mereka saling menyukai. Lyra memasang senyum tipis yang jika seseorang melihatnya, ia juga akan dapat merasakan kesedihan.

Setelah keheningan yang ganjil, akhirnya Ersya membuka mulut.”Kenapa kamu ingin pergi?” tanyanya. Suaranya tercekat seakan ada sesuatu yang berusaha ia tahan.

Clariss menatap tepat di mata sang sahabat lelakinya itu. “Pekerjaan, pekerjaan orang tuaku-lah yang menuntutku untuk pindah. Perusahaan ayah sudah ada dimana-mana. Ayah berencana untuk memindahkan induk perusahaan dari Jakarta ke New York,” ucapnya—berusaha—datar.

“Jadi begitu.” Ersya menggeleng-gelengkan kepalanya sembari berkata, “Baiklah, Ayunindya. Aku akan berusaha menerimanya meskipun ini sebenarnya sangat mendadak buatku.” Ia mengucapkannya sembari tersenyum. Jelas terlihat sekali bahwa senyum yang dipasangnya itu adalah senyum yang dipaksakan. Clariss tak mampu menyadarinya, Lyra-lah yang menyadarinya.

Ersya segera melangkah pergi meninggalkan ruang UKS. Clariss tentu tak bisa mencegahnya. Mata yang jernih itu sekarang penuh dengan linang air mata yang sedari tadi ditahannya. Sedang, Lyra hanya mampu melihat adegan itu. Ia tak memiliki hak apapun, bukan?

Lyra melirik Clariss. Ah, genangan air mata itu … sekali lagi aku melihatnya.  Ia menggeser tubuhnya untuk lebih dekat dengan Clariss lantas merengkuhnya di dada.

Tubuh Clariss gemetar. Hhh … seharusnya aku tak menangis. Seharusnya aku bahagia tak akan menjadi beban lagi untuk mereka. Namun,  mengapa, mengapa rasanya sesak sekali? Memikirkan itu membuat tangis Clariss semakin kencang dan bahunya bergetar begitu hebat.

Yang bisa dilakukan Lyra hanya membisikan kata-kata penenang dan menepuk-nepuk halus bahu sahabatnya itu. Ia menghela napas panjang. Menyaksikan ini, haruskah aku menyerah atas perasaan ku sendiri? Aku tak sanggup lagi melihat mereka seperti ini.

Waktu terasa berjalan lambat bagi mereka. Setelah agak tenang, Clariss melepaskan rengkuhan itu. Menarik diri, ia mengangkat kepalanya lantas menatap dalam manik cokelat milik sahabat perempuannya itu. Sangat dalam hingga Lyra pikir ia akan tenggelam di dalamnya. Tangan Clariss terangkat, mengelus rembut puncak kepala Lyra yang di samarkan oleh rambut hitam legam panjang  yang di kepang satu.

Lyra membiarkan hal yang dilakukan oleh Clariss. Ia bahkan menikmatinya. Matanya tertutup, memutuskan ikatan tadi.

Clariss mengangkat tangannya lantas ia turunkan tangan itu ke atas pahanya. “Lyra, bisakah aku meminta tolong padamu?”

“Akan aku usahakan jika masih dalam kuasaku, apa itu?”

            Clariss menarik napas panjang. “Kumohon tolong padamu untuk merahasiakan ini dari Ersya. Aku sebenarnya pergi bukan karena pekerjaan orang tuaku, tapi karena ingin melakukan kemoterapi di sana,” ucapnya sembari menutup mata. Jujur, dirinya masih takut dengan raut wajah yang akan dibuat oleh Lyra.

            Lyra yang mendengarnya terkejut. Ia meremas tangannya erat, menghela napas berat mencoba menguatkan dirinya sendiri mendengar fakta itu. “Ah, jadi seperti itu. Oke, Ayunindya. Aku akan menjaganya. You keep my word,” ucapnya dengan suara bergetar. Ia mati-matian mencoba menahan dirinya sendiri untuk tidak menangis. 

 Clariss berinisiatif merengkuh tubuh Lyra. Melihat sahabatnya yang biasanya telihat kuat kini malah terlihat rapuh, membuatnya tidak bisa tidak bersedih. Apakah Lyra begitu menyayangiku sampai membuatnya seperti ini?

Tangis Lyra pecah di dalam peluk Clariss. Ia tidak membalas pelukan itu melainkan untuk meremas jari-jemari tangannya sendiri hingga memutih. Untuk saat ini, ia tak bisa mengendalikan dirinya sendiri.

***

             Seorang lelaki menutup mulutnya. Ia tak menduga fakta itu sebelumnya. Menghela napas kasar, menyugar rambut model curtain-nya itu.  Lelaki itu adalah Ersya.

Ya, Ersya sebenarnya tidak benar-benar pergi. Ia bersembunyi di balik dinding, mendengar jelas pembicaraan mereka berdua. Meremas dadanya erat, berharap sesak yang masih belum pergi, namun kini semakin amat itu segera menghilang.

            Matanya menatap nanar ke depan.  Rissa, jika kamu sungguh pergi, apa lagi yang bisa kulakukan? Tak ingin semakin menambah sesak karena mendengar isak tangis sekaligus fakta itu, ia beranjak pergi dari sana. Ia akan berusaha untuk melupakan semua ini dan menjalani kehidupan seperti biasanya. Tanpa Rissa-nya.

Oleh: Putri Mahira S., Sekretaris Lembaga Pers Siswa (LPS) SMP Alam Planet Nufo, Siswa Kelas VIII SMP Alam Nurul Furqon Mlagen Rembang,