OLEH: TRI RAHAYU (Guru Mulia Pesantren dan Sekolah Alam Planet NUFO Mlagen Pamotan Rembang)

Sebenarnya tidak ada penggambaran khusus tentang bagaimana saya mengajari Mas Raka untuk menulis. Justru, saya hanya sekali “menyentuhnya”.

Aletheia Raushan Fikra Ukma, yang lebih akrab disapa Mas Raka, adalah salah satu santri-murid pindahan kelas 3 SMP. Mas Raka merupakan santri remaja (Sanja) Nufo, yang pada suatu masa, kira-kira sejak awal hingga akhir semester gasal pada tahun pelajaran 2021/2022 justru tidak begitu disenangi oleh hampir seluruh guru. Tidak disenangi bukan berarti dibenci. Namun, sosoknya memang tidak mendapat perhatian penuh ketika dewan guru sedang melakukan banyak upaya untuk menggali minat dan bakat para santri. Alasannya hanya satu, yakni dikarenakan Mas Raka tergolong anak yang jarang sekali terlihat, terutama ketika jam pembelajaran. Mas Raka lebih sering izin dengan alasan udzur sakit.

Saya, sebagai salah satu guru yang baru kembali ke Nufo seusai prosesi melahirkan cukup penasaran dengan kasus Mas Raka. Saya merasa ada kejanggalan. Sedang sakit apa Mas Raka, dan apakah iya, sakit yang dideritanya hingga menyebabkannya selalu absen tatkala kelas wajib pagi dan malam? Bagi saya, yang mengira kisahnya mirip dengan etape kehidupan saya, yakni tertantang oleh “penyakit”, kasus seperti ini sangat perlu ditelusuri.

Hingga akhirnya, pada awal semester genap, kami bertemu. Lebih tepatnya pada akhir Desember 2021 atau pada awal 2022. Kala itu saya masih mendapat amanat untuk menjadi pendamping Literasi sekaligus merangkap sebagai pengampu pada Kelas Bahasa Indonesia.

Ketika Kelas Literasi, saya berkesempatan menemani beberapa santri-murid binaan. Saat itulah pertama kali saya bertemu dengan Mas Raka. Pada waktu itu saya melakukan tes singkat untuk menggolongkan seluruh santri-murid binaan saya. Siapa saja yang layak saya tempatkan di kelas advance/memiliki kapabilitas mantap, siapa saja yang sudah memiliki motivasi bagus sehingga perlu mendapat sedikit sentuhan (kelas intermediate), maupun siapa saja yang seyogyanya masih perlu saya bina dengan intensif (kelas basic).

Saya menguji mereka untuk menulis cukup tiga paragraf saja. Selanjutnya, secara sekonyong-konyong, saya menunjuk mereka satu persatu untuk maju mempresentasikan apa yang mereka tulis. Nah, saat saya mempersilakan Mas Raka untuk presentasi, secara reflek saya memintanya untuk bergabung dengan kelompok kelas basic. Sebab, selama waktu yang saya berikan, ia belum mampu menyelesaikan tulisannya, pun Mas Raka terbata-bata kala berbicara di depan teman-temannya. Padahal, saya sudah memberi peluang kepadanya sebanyak dua kali. Pada kesempatan kedua, justru saya hanya memintanya untuk perkenalan singkat. Sayangnya, menurut saya Mas Raka belum berhasil.

“Lho, Abang kamu masuk kelas basic, Fa?” suara salah satu anak binaan saya, bertanya penuh keraguan kepada Mba Aufa, adik Mas Raka, yang justru saya golongkan pada kelompok kelas intermediate. Saya tidak mengindahkan suara tersebut.

Pertemuan kali kedua antara saya dan Mas Raka adalah ketika pembelajaran perdana kelas pemadatan di awal semester. Luar biasa dan jarang sekali terjadi pada mupel lain, Alhamdulillah, saat itu kelas saya penuh. Lima belas santri-murid kelas 9 hadir dalam kelas tanpa ada satupun yang izin, termasuk Mas Raka. Pagi itu saya memulai kelas dengan memberikan pre-test kepada kelima belas santri-murid saya untuk menganalisis tiga jenis bacaan, yaitu deskripsi, laporan, dan eksplanasi. Saya meminta mereka untuk menemukan perbedaan ketiga jenis bacaan ini. Namun, ternyata waktu yang singkat menyebabkan pertemuan perdana kami belum berjalan maksimal. Akhirnya saya meminta masing-masing anak untuk membuat tulisan dengan menggunakan salah satu jenis dari ketiga teks tersebut sesuai pembagian yang saya tentukan. Mas Raka mendapat tugas mendeskripsikan ayunan Nufo.

Pada keesokan hari, saya mengecek garapan santri-murid kelas 9. Saya terbengong, karena hari itu hanya ada tujuh buku yang terkumpul. Setelah saya cek, ternyata pada hari itu memang hanya ada sepuluh anak yang mengikuti kelas. Bahkan, Mas Raka juga absen. Beberapa menit kemudian, tiba-tiba ada salah satu santri-murid kelas 8 yang menyerahkan secarik kertas binder berukuran A4 milik Mas Raka. Saya cukup terheran. Mas Raka yang izin sakit, justru mengumpulkan tugasnya.

“Dia lemburan semalaman, Ustadzah.” celoteh Mas Ezi, yang mengaku kawan sebilik Mas Raka. “Kalau pagi, Raka memang sakit, Usth. Tapi, setiap malam, dia pasti menghabiskan waktunya untuk menulis atau membaca banyak buku.” saya belum sempat membalas pernyataan Mas Ezi di awal, tapi justru Mas Ezi membumbui ceritanya.

Saya membaca tulisan Mas Raka. “Maa syaa’a Allah, dia berbeda.” ungkap batin saya.

Bersambung…