Dr. Mohammad Nasih, M.Si. awalnya lebih dikenal sebagai aktivis HMI yang memiliki fokus lebih kepada kaderisasi dan ilmuwan politik. Karena fokusnya dalam kaderisasi dan basis keilmuan juga pengalaman di bidang politik, dia mendirikan Rumah Perkaderan dan Tahfidh al-Qur’an Monasmuda Institute Semarang yang sesungguhnya bisa disebut sebagai pesantren plus dengan tujuan utama melahirkan pemimpin di masa depan. Sebab, aktivitas di dalamnya adalah kajian keislaman, ditambah dengan pelatihan kepemimpinan dan kewirausahaan. Tiga kualitas insan cita di rumah perkaderannya adalah: ilmu, harta, dan kuasa.
Selain mengajar di beberapa perguruan tinggi di Jakarta, rumah perkaderannya itu menjadi tempatnya untuk mengasah diri dan mengasuh sekaligus mengasihi pemuda-pemudi lulusan SMU yang punya tekad kuat untuk meningkatkan kualitas diri dengan tidak hanya kuliah, tetapi juga ber-HMI.

Pergumulan dan pengamlamannya dalam dunia mengajar dan mendidik orang-orang yang sudah dewasa, membuatnya terpanggil untuk mendirikan lembaga pendidikan yang membina anak-anak belia dengan mendirikan Planet NUFO di desa kelahirannya, Mlagen, Pamotan, Rembang. Walaupun lokasinya di pelosok desa, tetapi yang masuk ke Planet NUFO berasal dari berbagai penjuru nusantara. Bahkan ada yang berasal dari luar negeri. Lembaga untuk anak-anak belia ini lebih disebabkan latar belakang mengajari dan mendidik agama kepada yang sudah dewasa ternyata “lebih sulit”. Namun, ternyata mengelola anak-anak belia, juga bukan tanpa masalah. Karena itu, perjalanan dalam menjalani keduanya mendatangkan suka dan duka.

Bagaimana detilnya? Planetnufo.com telah melakukan wawancara dengan doktor Ilmu Politik jebolan UI (2010) yang akrab disapa dengan Abah Nasih atau Abana oleh anak-anak dan para santrinya.

Planetnufo.com: “Abah Nasih, apa sebenarnya yang melatarbelakangi ketertarikan untuk juga mengajar anak-anak usia sekolah kelas menengah ini? Bisa diceritakan sekilas saja?”

Abana: “Sejak tahun 1998 atau 1999, saya menjadi instruktur perkaderan di HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) Cabang Semarang. Kalau menjadi pembicara di forum-forum latihan, bahkan sampai sekarang. Tahun 2008, saya mengajar di Pascasarjana Ilmu Politik UI. Program S2. Lalu saya mengajar di FISIP UMJ, S1 dan S2. Selain itu, sering mengisi kajian-kajian keislaman di berbagai forum, baik di lembaga resmi maupun undangan masyarakat umum. Oh ya, tahun 2008 saya syuting pertama kali di TV, kalau tidak salah Berita Satu, lalu yang paling rutin adalah MNC Muslim, program Belajar Islam. Sering juga ada kajian-kajian khusus untuk senior-senior aktivis. Mereka ingin mendalami Islam. Namun, ternyata problem umum mereka, membaca al-Qur’an saja tidak lancar. Catatan saya, rata-rata kesalahan dalam membaca surat al-Fatihah saja 8 kali. Padahal ini adalah surat yang dibaca dalam sehari semalam minimal 17 kali. Pengalaman-pengalaman dari forum-forum itulah yang kemudian membuat saya terdorong untuk membuat Rumah Perkaderan Monasmuda Institute dan sewindu kemudian lembaga pendidikan untuk mendidik anak-anak umat ini sejak dini, Planet NUFO.”

Planetnufo.com: “Sudah ada Monasmuda Institute di Semarang, kenapa bikin Planet NUFO?”

Abana: “Monasmuda Institute itu hasilnya signifikan. Mampu mengubah paradigma. Namun, setelah saya lakukan evaluasi, sebenarnya itu sudah terlambat. Usia sangat strategis dalam belajar untuk menguasai ilmu alat itu usia sekolah menengah. SMP kelas III sampai kelas II-III SMU. Kalau ini bisa dimanfaatkan dengan baik, maka selanjutnya akan lebih mudah menjadi SDM andalan dengan kualifikasi lengkap. Jadi insan cita-lah istilah kerennya. Namun, jika tidak dimanfaatkan secara optimal, paling banter ya SDM berkualitas dalam satu aspek saja. Ibarat orang jalan ya pincang. Jika menguasai pemahaman keislaman, tidak memiliki profesi. Sebaliknya, jika punya profesi, tidak begitu ngerti agama. Padahal keduanya saya bayangkan sebagai dua kaki yang memungkinkan kita berjalan normal.”

Planetnufo.com: “Jadi, SDM yang ideal itu bagaimana?”

Abana: “SDM ideal itu menguasai sumber ajaran Islam dengan baik dan memiliki soft skill konkret untuk menjalani kehidupan yang material ini. Jangan hanya pinter berdalil tapi tidak punya duit. Sebab, duit itu juga penting untuk menjalani kehidupan di dunia ini. Bukan pula sebaliknya, memiliki soft skill yang baik, tetapi tidak memahami rambu-rambu Allah dan RasulNya. Jika dua itu dimiliki, maka yang lain tinggal menyusul. Istilah yang juga sering saya gunakan adalah SDM yang ingin saya lahirkan di masa depan adalah yang menguasai ilmu-ilmu fardlu ‘ain yang sumbernya adalah al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad, dan sekaligus juga ilmu-ilmu fardlu kifayah, yaitu wajib karena ada harus memenuhi angka tertentu untuk bisa dikatakan cukup, misalnya: kedokteran, engginering, IT, dll.. Kalau masih terlalu sedikit, tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarakat, maka belum kifayah. Maka agenda saya dalam mendidik kaum belia ini juga saya tekankan dengan istilah reintegrasi sains dan teknologi ke dalam Islam. Dan ini hanya mungkin jika dimulai dari usia belia. Paling telat usia SMP harus sudah digarap dengan serius.”

Planetnufo.com: “Kenapa harus usia sebelia ini? Memang masalahnya apa ya kalau sudah tidak belia lagi?”

Abana: “Ada perbedaan antara belajar sumber-sumber ajaran Islam dan prakteknya dengan yang biasanya disebut sains dna teknologi. Kalau belajar Islam, harus menguasai al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad. Sunnah Nabi bisa kita akses melalui kitab-kitab hadits dan sirah nabawiyah. “Masalahnya”, keduanya menggunakan bahasa Arab. Jadi “masalah” karena bahasa ibu kita bukan bahasa Arab. Sedangkan membacanya harus menggunakan standar tertentu yang disebut dengan tajwid. Lalu hatus menguasai maknanya. Tak hanya itu, mesti mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Bisa dikatakan bahwa hanya mereka yang sudah mempelajarinya sejak dinilah yang mampu untuk menguasai dengan baik. Tadi sudah saya jelaskan, ngajari yang sudah kadung senior itu, untuk bisa membaca dengan benar saja sangat sulit. Lidahnya sudah terlanjur terkonstruksi, dan sulit untuk ditekuk-tekuk lagi. Istilah psikologinya “mengajari orang dewasa, membutuhkan waktu sesuai dengan umurnya, kecuali dengan perlakukan yang sangat revolusioner”. Sementara mereka yang sudah senior itu, pada umumnya tidak punya waktu lagi untuk fokus. Urusannya sudah kebanyakan. Mereka sudah terikat sana sini. Tidak bebas lagi seperti anak-anak belia tentu saja.”

Planetnufo.com: “Jadi banyak suka dukanya ya kalau begitu. Apa saja suka-duka yang muncul dalam mengelola pesantren?”

Abana: “Pesantren yang mana ini? Sebab, antara pesantren mahasiswa dengan yang belia itu sangat berbeda.”

Planetnufo.com: “Dua-duanya, Bah. Biar jelas. Dimulai dari pesantren mahasiswa dulu.”

Abana: “Kalau pesantren mahasiswa ya Monasmuda Institute. Kalau ini sukanya adalah mengajar anak-anak yang sudah bisa diajak berpikir. Namun, karena habitnya tidak dibangun sejak dini, sedangkan usia mereka itu adalah usia yang karakter sudah mulai terbentuk. Karena itu, harus merekonstruksi pikiran dan perilaku. Ini ibarat membabat hutan yang pohon-pohonnya sudah sangat besar. Kalau sekedar membalik pikiran, itu masih bisa dilakukan. Relatif mudah. Tetapi membalik kebiasaan sampai menjadi karakter yang tetap ini yang berdasarkan pengalaman saya selama satu dekade ini hasilnya belum optimal. Baru menghasilkan SDM-SDM dengan embel-embel gelar akademik tinggi, master sudah ratusan, sudah ada yang doktor. Namun, kualitas yang saya harapkan, bisa dikatakan belum tercapai. 60% jadi dosen. Tapi masih sangat minim, atau bisa dikatakan belum ada yang jadi pengusaha dalam arti yang sesungguhnya.”

Planetnufo.com: “Nah, kalau pesantren untuk anak-anak belia, usia sekolah menengah ini bagaimana?”

Abana: “Kalau ini kita baru menanam. Tentu saja membutuhkan waktu yang sangat lama sampai mereka menjadi SDM yang siap untuk berkarya dengan ilmu dan teknologi yang canggih. Di sini kita punya kesempatan yang luas untuk membangun paradigma dan juga membentuk kebiasaan mereka. Namun, ada juga masalahnya. Kita menghadapi anak-anak yang belum bisa kita ajak berpikir dan ekspresi perilaku mereka adalah orang tua atau lingkungan masing-masing sebelumnya. Potensi “gagal panen” juga besar, terutama jika muridnya berasal dari golongan bawah dalam ekonomi. Orang tua dari kalangan ini biasanya cenderung menginginkan anak-anak mereka setelah lulus SMP, atau paling SMU untuk langsung kerja membantu perekonomian keluarga. Kalau begini kan terputus jadinya. Kalau begini, anak pintar sekalipun, akan mengalami benturan dengan realitas dan sebagiannya akan “menyerah” kepada keadaan. Mereka akan menjadi figure “Lintang” dalam cerita “Laskar Pelangi”. Tahu kan maksud saya?. Secara teknis, tidak sedikit di antara mereka yang belum mampu mengurus diri sendiri. Masih harus mendapatkan pengawasan yang intensif. Kalau ada apa-apa, ya kami yang repot secara teknis. Kalau sudah dewasa, para mahasantri, kan tidak perlu terlalu detil begitu. Sebab, mereka adalah manusia yang akal pikirannya sudah aktif. Bahkan mereka bisa kita ajak untuk menemukan solusi.”

Planetnufo.com: “Apakah sudah menemukan solusi untuk masalah ini?”

Abana: “Solusinya sebenarnya sudah saya persiapkan sejak awal, di antaranya yaitu: mereka harus mandiri secara finansial. Harapan saya, mereka tidak lagi menggantungkan keuangan kepada orang tua. Makanya, di Planet NUFO ini, kami sediakan banyak sekali lahan usaha. Ada pelihara kambing, sapi, puyuh, ayam, budidaya jamur, dll.. Dengan memiliki usaha, setidaknya kalau orang tua mereka “angkat tangan”, mereka masih bisa melanjutkan pendidikan dengan biaya yang mereka hasilkan sendiri. Kan tidak semua santri-murid di Planet NUFO berasal dari keluarga kelas ekonomi menengah atas. Ada di antaranya yang berasal dari bawah. Dan ada juga yang saat mereka masuk orang tuanya mampu, tapi di tengah jalan, ada masalah, bahkan ada yang tiba-tiba meninggal dunia. Makanya saya meminta kepada beberapa guru untuk memastikan setiap santri-murid memiliki usaha-usaha yang digarap secara serius dan bisa berjalan dengan baik dengan penghasilan yang lancar. Minimal bisa digunakan untuk bertahan hidup. Dengan jalan ini, mereka akan bisa belajar sampai menjadi apa pun yang mereka inginkan, tanpa kendala apa pun, termasuk yang umumnya terjadi adalah kendala finansial.” (AH)