Notice: Constant WP_USE_THEMES already defined in /home/u1651158/public_html/wp-content/plugins/wp-core-tools/wp-core-tools.php on line 2
Tak Pernah Buat Proposal Bantuan, Planet Nufo Ingin Santri Mandiri - PlanetNufo.com

Sampai usia tiga tahun, Pesantren dan Sekolah Alam Planet NUFO (Nurul Furqon) Mlagen, Pamotan, Rembang, tetap konsisten untuk tidak mengajukan proposan bantuan dana kepada pihak mana pun. Rupanya, itu dilakukan untuk membangun karakter para santri yang ada di dalamnya. Bagaimana mungkin lembaga pendidikan mampu melahirkan SDM yang memiliki karakter kuat dalam menjaga harga diri (‘iffah) kalau mereka hidup dan terbiasa dalam lingkungan yang untuk memenuhi kebutuhannya harus meminta bantuan kepada pihak lain. Bukan berarti bahwa Planet NUFO tidak mendapat bantuan dan membuka pintu kepada pihak lain. Planet NUFO juga mendapatkan bantuan dari berbagai pihak yang bersimpati, tetapi itu dilakukan dengan sukarela. Biasanya mereka memberikan bantuan untuk hal-hal yang bersifat spesifik atau mengikhlaskan bantuan itu akan digunakan untuk apa pun yang diperlukan.

Prinsip yang selalu diajarkan oleh pengasuh Planet NUFO, Dr. Mohammad Nasih adalah “Kita harus mampu membiayai sendiri idealism kita. Jika ada orang lain yang ikut berkontribusi, itu berfungsi hanya untuk mengakselerasi. Jangan sampai logika kita mati, karena kita tidak memiliki logistic yang cukup”. Berikut ini wawancara baladena.id dengan pengasuh Planet NUFO yang juga adalah pengajar di FISIP UMJ dan Pascasarjana Ilmu Politik UI, yang akrab disapa oleh para santri Abah Nasih atau Abana.

Baladena: “Abah Nasih, saya lihat Planet NUFO ini sangat akseleratif. Setiap kali saya ke sini, pasti saya melihat perubahan yang sangat signifikan. Bukan hanya fasilitas, tetapi juga jumlah santri yang sekarang ini sudah sampai ratusan. Apa kuncinya bisa bergerak cepat ini?”

Abana: “Alhamdulillah. Itu semua karena pertolongan Allah. Kami melakukan usaha sekuat tenaga. Guru-guru di sini penuh dedikasi, sehingga suasana belajar mengajar menjadi sangat menyenangkan. Karena itu, sangat jarang ada santri yang tidak betah tinggal di sini. Keluarga mereka kemudian bercerita kepada saudaranya, teman-temannya, dan juga kolega-koleganya, sehingga “iklan gratis” ini sangat efektif untuk mengantarkan mereka yang walaupun jauh dari berbagai penjuru nusantara datang ke Planet NUFO. Ada yang dari Padang, Bangka Belitung, Jakarta, Bekasi, beberapa kabupaten di Jatim, bahkan Sulawesi dan NTT. Bisa dikatakan ini menjadi pesantren bertaraf nasional. Karena itulah, kami mengambil kebijakan untuk menggunakan bahasa sehari-hari wajib menggunakan Bahasa Indonesia. Walaupun pesantren ini ada di Jawa Tengah, tetapi dilarang menggunakan Bahasa Jawa. Dengan menggunakan Bahasa Indonesia, mereka menjadi riang sejak awal.”

Baladena: “Nah, jumlah santri yang terus meningkat ini kan juga bisa menjadi beban yang besar. Apalagi tidak semua santri membayar. Bagaimana permasalahan ini bisa diatasi?”

Abana: “Di antara alasan keberadaan Planet NUFO adalah untuk mewujudkan lembaga pendidikan yang mendidik semua kalangan, tidak pandang kaya atau tidak kaya. Ini adalah wujud keprihatinan disebabkan makin kuatnya kecenderungan menjadikan lembaga pendidikan sebagai lahan bisnis. Bahwa kami mengajarkan para santri bisnis, itu iya. Bahkan menjadi di antara program utama kami. Tapi jangan sampai lembaga pendidikan ini menjadi lahan bisnis yang menyebabkan anak-anak dari kalangan tak mampu tidak bisa masuk. Konsekuensinya adalah masalah pendanaan. Sejak awal, walaupun kami bukan orang-orang yang berlimpah harta seperti para crazy rich, tapi kami punya usaha-usaha yang menghasilkan cash flow yang cukup untuk menggerakkan aktivitas belajar mengajar. Hampir semua guru di sini memiliki bisnis-bisnis yang membuat mereka bisa bertahan dan bahkan melanjutkan studi pascasarjana. Dan inilah yang membuat kami tidak perlu mengajukan bantuan pendanaan kepada piham mana pun atau siapa pun. Namun, bukan berarti tidak ada yang membantu kami. Selalu ada pihak yang membantu kami, sehingga perjalanan kami menjadi semakin akseleratif. Jadi, ibaratnya, kalua dengan kekuatan pendanaan kami sendiri, kami bisa melaju dengan kecepatan 75-80 KM/jam, dengan kontribusi orang-orang beriman itu, kami bisa melaju lebih dari 100 KM/jam. Dari sinilah, kami, terutama saya, makin yakin, bahwa keberakahan Allah itu nyata. Pertolongan Allah kepada siapa pun yang mau berjuang di jalanNya dengan sabar itu bukan cerita bohong. Kami merasakannya. Soal bantuan dari pihak-pihak lain, kami bahkan tidak meminta dengan mulut, atau bahasa tubuh sekalipun. Teman-teman saya kan banyak. Ada pejabat ada pengusaha nasional. Kalau saya mau mengajukan proposal bantuan dana untuk pembangunan ini itu, pasti mereka mau. Bahkan banyak yang menawarkan. Tapi ya itu tadi, dengan proposal. Masalahnya adalah saya khawatir itu akan berpengaruh negative terhadap karakter para santri. Itu yang saya tidak mau. Lebih baik tidak mendirikan lembaga pendidikan, kalau ujung-ujungnya kembali menghasilkan manusia dengan mental peminta-minta.

Baladena: “Wah, kalau begini ini, bagaimana membuat perencanaan pembangunan?”

Abana: “Perencanaan yang kami buat saja secara normal. Bahkan kami sudah merencanakan untuk memiliki tanah seluas 100 hektar, agar lembaga pendidikan ini bisa melakukan aktivitas sinergis antara pendidikan dengan kewirausahaan. Dan usaha-usaha yang dilakukan di dalamnya juga terintegrasi. Tidak mungkin bisa membangun usaha terintegrasi, kalau lahannya tidak cukup. Untuk peternakan sapi dan domba yang diintegrasikan dengan kebun sayur-mayur misalnya. Tentu diperlukan kandang yang cukup dan perkebunan yang luas, karena harus mencukupi kebutuhan santri yang makin banyak, dan juga harus bisa dijual ke luar agar hasilnya bisa digunakan untuk menopang pembiayaan pesantren. Dengan cara ini, santri tidak menjadi beban, bahkan menjadi aset yang sangat berharga. Bukan aset untuk “dijual” dengan cara meminta sumbangan, tetapi memberdayakan mereka untuk bisa bekerja sesuai dengan passion masing-masing. Dengan praktek wirausaha ini, para santri akan menghabiskan jatah kegagalan hidup mereka, dan nanti tinggal menuai kesuksesan. In syaa’a Allah. (AHA)