“Mohon perhatian bel tanda masuk telah berbunyi, kepada seluruh siswa untuk segera masuk ke kelas masing-masing, bapak dan ibu guru akan segera memasuki kelas, selamat belajar dan semoga mendapatkan ilmu yang bermanfaat, terima kasih,” bunyi pengumuman di sekolah.

Suara bel tanda masuk sekolah pun telah berbunyi, sedangkan Devan baru sampai di depan gerbang sekolah. Sebab hobinya yang sering tidur malam atau begadang, Devan sering telat masuk sekolah, padahal orang tuanya selalu mengingatkannya untuk tidur lebih awal. Kecuali kalau Devan mempunyai tugas yang harus dikerjakan seperti, PR dari guru. Namun, apa yang dikatakan oleh orang tuanya tidak pernah Devan dengarkan apalagi lakukan. Hingga orang tua Devan pasrah dengan-Nya. Mendoakan Devan setiap hari agar bisa menjadi yang lebih baik dari sekarang adalah doa yang tak pernah terlupakan dari orang tuanya.

“Pak, bukain dong gerbangnya, gua mau masuk nih,” kata Devan dengan membentak Satpam.

“DEVAN!! MANA SOPAN SANTUNMU? Kamu itu minta tolong, harusnya kamu meminta baik-baik, bukan malah ngomong dengan nada yang tinggi. Pantaskah seperti itu?” jelas Satpam yang ada di sekolah.

“IYA IYAAAA, BURUANNN BUKAIN GERBANGNYA!! AELAH KELAMAAN,” katanya dengan nada yang santai namun terpaksa.

Melihat perlakuan Devan, Pak Arip pun hanya bisa berkata istighfar dalam hati sambil meng elus elus dadanya. Sesampai Devan dalam kelas, Devan terkena marah oleh wali kelasnya. Bu Nita sempat bertanya kepada Devan mengapa dia bisa sering telat, tetapi Devan selalu melontarkan alasan yang sama seperti jawaban dari pertanyaan di hari sebelumnya.

“Devan, mengapa kamu bisa telat lagi? Padahal  Bu Nita sudah memberitahu ibumu soal kamu yang sering telat masuk sekolah. Apakah ibumu belum memberitahukanmu?” tegur Bu Nita terhadap Devan.

“Sudah, Bu.” Jawabnya sambil menunduk.

“Lantas, mengapa kamu masih sering telat masuk sekolah?” tanya Bu Nita.

“Tadi malam gua eh saya habis begadang, Bu. Jadi, saya bangun kesiangan,” jawab Devan.

“Lagi lagi itu alasanmu, Bu Nita sudah sering menegaskan kamu agar tidak telat masuk sekolah. Bahkan setiap hari Bu Nita menasihatimu. Apa kurang cukup, Devan? Hari ini Bu Nita masih memberikan maaf, tetapi besok jika kamu sampai telat masuk sekolah lagi. Kamu mending belajar di luar kelas saja. Sampai sini paham, Devan?” penegasan Bu Nita.

“Iya, Bu,” kata Devan.

Setelah menegur Devan di depan kelas, Bu Nita lanjut memulai pelajaran dengan menanyakan PR di hari Sabtu.

“Apakah ada yang belum mengerjakan PR?” tanya Bu Nita.

Semua pun terdiam, padahal tidak ada satu orang pun yang mengetahui bahwa Devan tidak mengerjakan PR yang diberikan kepada Bu Nita Sabtu lalu. Dengan rasa kurang percaya, akhirnya Bu Nita pun berkeliling untuk mengecek satu persatu tugas yang telah diberikan.

Rasa takut pun semakin muncul, ketika Bu Nita mulai melewati bangku yang diduduki oleh Devan.

“Devan, mana tugasmu Ibu mau lihat?” tanya Bu Nita dengan halus.

“Hmm, buku saya ketinggalan di rumah, Bu,” kata Devan.

“Yang bener aja kamu, ibu akan pastikan ke ibumu ya,” jawab Bu Nita.

“JANGAN!! Ya udah deh, iya saya ngaku deh kalo gitu,” kata Ajeng.

“DEVAN!! Kerjakan PR mu diluar kelas dan salin PR mu itu lima kali. Paham?” Kata Bu Nita.

“Ga Adil dong, Bu. Kenapa yang lain tidak diminta untuk mengerjakan di luar kelas?” Kata Devan dengan keras.

“Berapa kali kamu bohong sama ibu? Bahkan dengan guru guru yang lainnya juga. Apakah selama ini kamu ga sadar apa yang selama ini kamu lakukan setiap di sekolah? Berapa kali pelanggaran sekolah juga yang kamu langgar, Devan?” tegur Bu Nita.

“Sebanyak apa si, Bu? Siswa melanggar peraturan sekolah itu menurut aku hal yang wajar. Apa memang Bu Nita dulunya tidak pernah melanggar peraturan sekolah? Iya? Ouh pantesan,” kata Devan dengan nada yang tinggi.

Mendengar perkataan Devan terhadap Bu Nita, suasana pun tiba tiba menjadi hening seketika. Perkataan yang sangat jahat telah keluar dari mulut Devan secara tidak sengaja. Tanpa mengucap apa pun, Bu Nita langsung memulai kembali mengajar mangajar. Begitupun juga Devan yang langsung meninggalkan kelas dan melakukan apa yang diperintahkan oleh Bu Nita. Sewaktu Devan mengerjakan PR nya di depan kelas, ada yang mengejeknya habis-habisan hingga membuat Devan marah dengan mengeluarkan kata-kata yang kotor. Seusai mengerjakan PR, Devan langsung pergi ke dalam kelas kembali, lalu menyetorkan PR nya kepada Bu Nita. Namun, respon Bu Nita tidak seperti biasa.

“Ini, Bu. Usahakan?” kata Devan.

“Letakkan saja di meja,” kata Bu Nita dengan cuek.

 Semenjak kejadian tadi, Bu Nita menjadi cuek dan tidak peduli lagi dengan apa pun yang dilakukan oleh Devan. Hingga Devan merasakan rindu yang muncul secara tiba tiba. Namun, Devan masih tidak terima dengan ketidakadilan Bu Nita terhadapnya.

Beberapa hari telah dilalui Devan dengan banyak pelanggaran yang diperbuat, tapi tidak ada satu pun orang yang menegurnya. Bahkan, satpam yang diperlakukan tidak sopan oleh Devan selalu bersikap bodoamat bagaimana pun perilakunya.

Semakin hari, Devan mulai merasa tidak ada yang memperhatikan lagi saat di sekolah. Karena merasa makin kesepian, akhirnya Devan mulai memulai pembicaraan kepada teman temannya juga Bu Nita.

“Hai, Guys,” sapa Devan.

Semua orang memiliki kesibukan masing-masing, sampai tidak ada yang membalas sapaan nya di kelas. Karena kecuekan mereka yang membuat Devan marah besar.

“Woi, lu pada denger kaga?” tanya Devan.

“Lu kenapa si, Van? Kerjaannya marah terus,” tanya balik dari salah satu temennya.

“Gua yang harusnya nanya ke kalian, kalian tuh pada kenapa si? Lagi diemin gua?” tanya Devan.

“Kagak, ngapain juga diemin lu, kurang kerjaan,” jawab salah satu temannya tadi.

“Terus, kenapa kalian gua sapa ga pada noleh? Hah?” tanyanya dengan nada tinggi.

“Yaaa biar lu sadar diri aja sama keluakuan lu selama ini,” jawab temannya tadi.

“Gua salah apa, Oncom?” tanya Devan.

“Tuh kan, pikir sendiri sana,” jawab temannya lagi.

“Penyakit ga jelas kok dipelihara, dasar bocah,” ledek Devan

Setelah meninggalkan kelas, Devan langsung pergi menyendiri lalu menghibur diri dengan merokok. Sambil menikmati rokoknya tiba-tiba devan kepikiran dengan apa yang dikatakan oleh temannya tadi, “Lu itu sadar ga si sama kelakuan lu selama ini?”  

“Emang gua salah apa yaa?” .

Devan mulai berpikir untuk mengingat apa yang selama ini aku lakukan kepada mereka semua, sehingga mereka semua menjauhiku. Beberapa menit kemudian, Devan mengingat sesuatu yang selama ini tak dia sadari.

“Ouh ya, nanti selulang sekolah gua mo ngajak meet up Sania aja deh,” batin Devan.

Devan pun langsung bergegas menuju ke dalam kelas kembali, karena dirinya ingin bertemu dengan shania.

“Eh, Sa. Sepulang sekolah bisa ketemu ga” tanya Devan.

“Hah ngapain lu aja ketemuan ?” jawab Sania.

“Dah lah ikut aja, nanti juga bakalan tau sendiri,” rayu Devan terhadap Sania.

“Okedeh, jangan aneh aneh lu, awas ya!” ancam Sania.

“Ga ga, Sans aja kali,” jawab Devan dengan slay.

“Okeh, kira kira jam berapa?” tanya Sania.

“Sepulang sekolah ga usah ganti seragam, kita langsung ketemu di taman sekolah, sepakat?” tawar Devan.

“Okey, setuju,” jawab Sania sambil berjabat tangan dengan Devan.

Pulang sekolah pun tiba, Devan dan Sania langsung menuju ke taman sekolah tanpa melakukan suatu hal disekolah.

“Oi, sini buruan,” ajak Devan.

“Iyaaaaa, sabar Napa,” kata Sania.

“Jadi gini, langsung to the point aja ya. Gua tadi seusai debat sama si dea langsung cabut ke belakang sekolah untuk menyendiri sambil menangkan diri. So i think about kenapa orang-orang bisa menjauh dari gua, padahal selama ini gua merasa ga ngelakuin apa-apa. Kecuali terlambat sekolah dan tidak mengerjakan PR, udah itu aja. Terus setelah gua pikir-pikir, ternyata memang Gua yang salah. Apa mungkin Bu Nita nyuekin gua karena alasan ini juga ya? Menurut lu gimana, San?” jelas Devan.

“Alhamdulillah, gua bersyukur banget, Van. Akhirnya lu bisa sadar. Jadi gini, guru itu ga mungkin menghukum muridnya tanpa alasan, guru ga mungkin memarahi muridnya tanpa ada sebab, guru juga ga mungkin membiarkan muridnya melakukan hal yang tidak baik. Mengapa Bu Nita sering memarahimu? Ya karena Bu Nita sayang sama lu,Van. Bukan bukan malah sebaliknya, Lu kira Bu Nita ga bertindak adil sama lu dan lain lain,” jelas Sania.

“So, kenapa Bu Nita udah ga marahin gua lagi, San? Apa Bu Nita udah ga sayang lagi sama gua?” tanya Devan dengan serius.

“Ya sebab, Bu Nita udah cape sama kelakuan Lu, Van. Lu juga dibilangin ga pernah sadar. Giliran ga ada yang peduli aja baru bisa sadar. Van Van, sana coba lu minta maaf sama Bu Nita! Mumpung besok juga ada peringatan Hari Guru Nasional,” kata Sania.

“Wahh, kebetulan tuh. Enaknya gua kasih apa ya Bu Nita? Sekalian tanda maaf gua ke Bu Nita. Request dong, San. Please, bantu gua gih buat kasih surprise ke Bu Nita,” kata Devan.

“Iyadeh, gua pasti bakal bantu kok,” jawab Sania.

“Siap, jadi, apa nih yang harus gua lakuin?” tanya Devan.

“Lu kasih bucket bunga, bikin surat spesial juga buat Bu Nita. Insya ‘Allah, Bu Nita udah seneng kok sama pemberiamu,” saran Sania.

“Gasss, ga pake lama,” kata Devan.

Saat itu juga Devan langsung membeli buket bunga untuk Bonita besok.

Esok harinya, semua murid diminta untuk berkumpul di tengah lapangan untuk melaksanakan upacara Hari Guru Nasional. Seusai upacara, Devan langsung menghampiri Bu Nita untuk memberikan surprise kepada beliau.

“Suprise, Selamat Hari Guru Bu Nita. Maaf ya, selama ini aku banyak salah sama guru-guru termasuk Bu Nita. Devan janji akan menjadi murid yang baik dan janji ga akan ngulangin lagi kesalahan yang sama,” kata Devan dengan penuh penyesalan.

“Terima kasih ya, Devan. Ibu suka buketnya, tanpa buket ini, kamu berubah menjadi murid yang baik aja, itu udah menjadi hadiah terbaik Bu Nita, Van. Jadi, Bu Nita mohon jangan jadi murid yang nakal lagi ya, Bu Nita akan selalu mendoakan kamu yang baik, Devan. Bu Nita sayang Devan selalu,” kata Bu Nita.

“ Devan juga bakal sayang terus dan ingat pesan dari Bu Nita selalu,” kata Devan.

Bagi dunia, engkau mungkin hanya seorang guru, tetapi bagi muridmu, kau adalah pahlawan tanpa tanda jasa, Guru.

Oleh: Nurul TazkiaKetua Umum PD PII (Pelajar Islam Indonesia) Kabupaten Rembang, Santri-Murid Kelas XII MA Darul Huda Planet Nufo Mlagen