Dr. Mohammad Nasih, M.Si. adalah seorang doktor ilmu politik lulusan UI (2010), hafidh al-Qur’an, aktivis sosial-politik-pendidikan, dosen, ustadz, dan juga pengusaha. Lahir dalam keluarga bertradisi NU di desa pelosok Mlagen, Pamotan, Rembang, pada 01 April 1979 tak menghalanginya untuk berpikir merdeka dan melangkah maju. Bapaknya, Mohammad Mudzakkir, adalah kepala desa Mlagen sampai akhir hayatnya (1994), yang semasa mudanya menghafalkan al-Qur’an dengan menjadi murid Kiai Arwani, Kudus dan menjadi sarjana muda pendidikan Islam di IAIN Semarang filial Kudus. Ibunya, Chudzaifah, juga seorang hafidhah, termasuk murid terkasih Kiai Ma’shoem dan Nyai Nuriyah, Pengasuh Pesantren al-Hidayat, Lasem. Bahkan sejak masuk di Pesantren al-Hidayah, Mbah Ma’shoem memanggilnya Hafidhah, karena harapa beliau yang sangat besar. Kedua orang tuanya memberikan lingkungan santri yang sangat kuat dengan menjadikan rumah mereka sebagai tempat belajar mengaji anak-anak di kampungnya sejak tahun 1975 dan kini menjadi Pondok Pesantren al-Falah dengan ratusan santri dari berbagai daerah, bahkan dari luar Pulau Jawa.
Bapaknya memberikan banyak pengaruh dalam dirinya, karena di samping mengajarinya secara privat dan semi privat di rumah bersama dengan para santri yang mengaji setelah maghrib di rumahnya, juga di madrasah diniyah di desanya karena beliau bukan hanya pengajar fikih dan tafsir (Jalalayn), bahkan juga kepala madrasah. Dalam kehidupan sehari-hari, bapaknya menjadi panutan praktis dalam kepemimpinan dan berwirausaha di bidang pertanian, khususnya tebu. Sayang, bapaknya meninggal saat ia baru saja masuk sekolah menengah di MAN dan mondok di Pondok Pesantren An-Nur, Lasem. Namun, kepergian bapaknya ia jadikan sebagai pelecut yang motivasinya dengan sangat kuat untuk menuntaskan hafalan al-Qur’an sebelum naik kelas III.
Menjadi aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sejak akhir tahun 1997 tak lama setelah menyandang status sebagai mahasiswa Jurusan Pendidikan Fisika di IKIP Negeri (sekarang UNNES) Semarang. Ia makin aktif setelah menjadi Ketua Umum HMI Komisariat Fakultas Ushuluddin IAIN Semarang (1999-2000). Sejak awal kuliah, ia menulis di berbagai media massa, baik lokal maupun nasional, di antaranya: Wawasan, Suara Merdeka, Solopos, Sinar Harapan, Koran Tempo, Kompas, Jawa Pos, dan The Jakarta Post. Dari honor menulis di berbagai koran itulah, ia membiayai aktivitasnya sebagai aktivis mahasiswa. Setelah lulus dengan IPK tertinggi 3,9 di IAIN Semarang, ia langsung hijrah ke Jakarta untuk belajar ilmu politik di UI sampai menjadi doktor dengan konsentrasi pemikiran politik Islam.
Sembari menempuh studi, ia melanjutkan kariernya sebagai aktivis HMI dengan masuk PB HMI dan pernah juga menjadi pengurus PP. Pemuda Muhammadiyah atas ajakan Ketua Umum Abdul Mu’ti (Prof. Dr.) saat itu. Disertasinya berjudul “Dinamika antara Islam dan Nasionalisme di Turki dan Indonesia (2000-2008)” di bawah bimbingan Ibu Chusnul Mar’yah, Ph.D., dan Prof. Dr. Burhan D. Magenda. Tahun 2006 terpilih menjadi salah satu presidium Pengurus Pusat Masika ICMI (Ikatan Cenderkiawan Muslim se-Indonesia). Pernah juga menjadi Wakil Sekretaris Dewan Pakar ICMI Pusat periode 2015-2020.
Tahun 2008 ia diminta untuk menjadi anggota tim pengajar mata kuliah Pemikiran Politik Islam, Partai Politik dan Sistem Perwakilan, dan Negara, Politik, dan Perempuan di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI. Namun, karena ingin melakukan praktik politik di PAN, ia memilih untuk menjadi dosen di FISIP UMJ. Bersama AM Fatwa yang saat itu menjadi Wakil Ketua MPR RI, mendirikan STEBANK (Sekolah Tinggi Ekonomi dan Perbankan) Islam Mr. Sjafruddin Prawiranegara (2012) dan menjadi Wakil Direktur Bidang Akademik sampai kini menjadi Wakil Direktur Bidang Kemahasiswaan dan menjadi pengasuh Pesantren Mahasiswa Putra Fatahillah. Pernah juga mengajar di FISIP UIN Jakarta atas ajakan Prof. Dr. Bachtiar Effendy, senior dan penguji ahli saat ujian tesis di UI, yang saat itu menjadi dekan.
Menikah dengan aktivis Kohati, seorang dokter spesialis anak, dr. Oky Rahma Prihandani, Sp.A., M.Si.Med. yang tak lain adalah puteri seniornya di HMI dan dosennya di Fakultas Ushuluddin, Prof. Dr. Sri Suhandjati, dan dikaruniai lima orang anak: Atana HOKMA Denena (2011), Atena HEKMAta Mellatena (2012), Atana MOLKA Baladena (2016), Atana DAWLA Boldanena (2018), dan Atana KuNUZA Beladena (2021). Karena istrinya menetap di Semarang, maka ia pergi pulang Jakarta-Semarang dan mendirikan Rumah Perkaderan dan Tahfidh al-Qur’an Monasmuda Institute (2011) yang mendidik para lulusan SMU yang diberi beasiswa berupa tempat tinggal dan biaya kuliah di UIN Walisongo Semarang. Dibantu oleh para mahasantri di Monasmuda Institute ini, ia mendirikan PAUD Islam Mellatena (2013) untuk memberikan pendidikan bagi anak pertamanya dengan kurikulum sesuai dengan keinginannya.
Sejak tahun 2008, ia juga aktif syuting program Belajar Islam di MNC Muslim Channel 97, dan sering diundang sebagai analis politik di beberapa stasiun TV: JakTV, MNC, dan TVOne. Namun, sejak tahun 2018, ia memutuskan untuk lebih fokus mengurus rumah perkaderan dan tahun 2019 bersama Alm. Arief Budiman, Ketua KAHMI Rembang, mendirikan Pesantren-Sekolah Alam Nurul Furqon di desa kelahirannya yang lebih dikenal dengan Planet NUFO.
Di Planet NUFO, dia membangun kurikulum yang dia sebut sebagai kurikulum peradaban nubuwwah. Para murid tidak hanya belajar al-Qur’an, hadits, dan kitab kuning, tetapi juga digembleng untuk menjadi pengusaha dengan mendorong seluruh santri-murid di dalamnya untuk berbudidaya domba-kambing. Hampir seluruh guru di Planet NUFO adalah mahasantri di Monasmuda Institute yang sedang menempuh studi pascasarjana. Dengan pengalaman mengajar di pesantren, kampus, organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan, ia berusaha menjadikan Planet NUFO menjadi lembaga pendidikan Islam dengan tingkat keberhasilan dalam menguasai khazanah intelektual Islam klasik lebih tinggi. Dari dua lembaga pendidikan Islam yang diperjuangkannya ini, ia berharap akan lahir para aktivis masa depan yang berilmu, berharta, berkuasa. (AH).