Pesantren-Sekolah Alam Nurul Furqon atau yang dikenal dengan Planet NUFO Mlagen, Pamotan, Rembang, sejatinya merupakan sebuah pesantren dengan perpaduan salaf-modern. Disebut salaf, karena di dalamnya dikaji juga kitab-kitab karya ulama’ salaf. Disebut modern karena juga mengembangkan paradigma kritis dengan orientasi pengembangan sains dan teknologi. Jika ada sesuatu yang berasal dari masa lalu tetapi relevan, apalagi berfungsi sebagai fundamen, maka akan dipegang teguh. Namun, jika memang tidak lagi relevan, maka menggantinya dengan yang baru dan relevan bukan sesuatu yang tabu.
Dalam tata pergaulan hidup sehari-hari di lingkungan pesantren, Planet NUFO juga menerapkan ajaran akhlak yang agak berbeda dengan tradisi pesantren pada umumnya. Di antara yang paling nampak adalah pergaulan antara santri-murid dengan para ustadz/ah, bahkan dengan pengasuh terbilang egaliter. Juga tidak ada panggilan-panggilan yang menjadi identifikasi dari mana seseorang berasal. Karena itu, di Planet NUFO tidak dikenal panggilan “gus” atau “ning” untuk putra puteri pengasuh sekalipun. Semua dipanggil dengan panggilan yang sama. Apa pertimbangannya?
Simak wawancara baladena dengan Ustadz Abdul Rozaq, S.H., Kepala SMP Alam Planet NUFO berikut ini:
Planetnufo.com: “Ustadz Rozaq, saya melihat pergaulan di Planet NUFO ini sangat berbeda dengan pergaulan di pesantren pada umumnya, juga di sebagian sekolah Islam yang pernah saya kunjungi. Misalnya di sini pergaulan antara santriwan dan santriwati biasa saja. Tidak ada sekat sama sekali”.
UAR: “Iya. Ini sudah melalui berkali-kali diskusi panjang sejak akan membuka pesantren dan sekolah ini. Pilihannya kan dua kutub yang dianggap ekstrem. Mau dipisah atau tidak dipisah. Tapi, dengan pertimbangan kami punya guru yang sangat banyak, yang rasio guru:murid 1:4, kami kemudian memilih untuk tidak ada sekat. Dan agar semua aman, maka pergaulan harus didesain dengan baik, mulai dari pembangunan paradigma santri-murid, sampai format lingkungan yang ada di sini, dan tak lupa juga pengawasan melekat para ustadz/ah serta para mentor.”
Planetnufo.com: “Jadi kenapa memilih tidak ada sekat begini?”
UAR: “Planet NUFO ini sesungguhnya bukan lembaga pendidikan yang tiba-tiba ada. Ini sesungguhnya adalah kelanjutan cita-cita kaderisasi kaum muda muslim. Pengasuh kami, Dr. Mohammad Nasih atau Abah Nasih, sudah mendirikan Rumah Perkaderan dan Tahfidh al-Qur’an Monasmuda Institute Semarang, juga pesantren di Jakarta, sejak tahun 2011 dan 2012. Dari sini, Abana memiliki pengalaman tersendiri. Dan saya sebagai santri angkatan 2014 di Semarang, juga mengalami. Para santri-murid di sini kan pada akhirnya nanti akan kuliah juga. Dan di kampus, tak ada sekat antara laki-laki dan perempuan. Karena itu, justru kami harus mempersiapkan anak-anak yang siap dengan segala model pergaulan. Nah, berdasarkan pengalaman di Semarang di Semarang dan Jakarta itu, kami melihat bahwa santri-santri yang saat mondok dipisah ternyata banyak yang tidak bisa bergaul dalam lingkungan baru yang bebas. Nah, kami tidak mau santri-murid di sini nanti mengalami cultural shock. Kami mempersiapkannya di sini. Kami membuat kode etik dalam bersikap yang kami beri nama COC (Code Of Conduct) Sanja Planet Nufo. Di dalamnya, kami berikan dasar filosofis dan teknis bersikap yang sesuai dengan ajaran agama dan kultur pendidikan yang modern. Dan alhamdulillah sampai saat ini, semua berjalan dengan lancar. Anak-anak berteman melebihi saudara. Pengasuh kami tak bosan mengingatkan bahwa pelecehan fisik, bahkan verbal sekalipun merupakan dosa yang akan mendapatkan sanksi berat. Rupanya ini membekas betul dalam pikiran dan sikap hidup mereka dalam pergaulan sehari-hari.”
Planetnufo.com: “Pergaulan yang egaliter juga saya lihat di sini. Tadi saya dengar guru bahkan menyebut murid dengan teman-teman. Bagaimana bisa begitu?”
UAR: “Kami ingin menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan menghidupkan nalar berfikir. Tidak ada rasa segan santri-murid kepada guru atau ustadz/ah untuk menanyakan apa pun yang mereka belum ketahui atau mereka memerlukan wawasan atau opini lain. Mungkin banyak lembaga pendidikan Islam lain membangun paradigma bahwa bertanya itu tidak sopan. Namun, di sini justru terbalik, tidak bertanya kalau tidak tahu itu dhalim. Diam itu bau. Hahahaha. Bahkan cara belajar-mengajarnya pun kami rekonstruksi. Kalau biasanya guru atau pengasuh yang banyak bicara dan aktif, di sini tidak begitu. Santri-muridlah yang membaca di depan, dan harus menyiapkan pertanyaan yang akan dibahas bersama-sama dan kemudian mendapatkan perspektif dari guru atau pengasuh. Para santri-murid di sini memiliki kesempatan yang sama untuk mengajukan diri untuk setoran hafalan, setoran kemampuan membaca teks Arab, dan mengajukan pendapat. Istilah modern model pembelajaran ini adalah Student Center. Kami semua menyaksikan betul perkembangan siswa yang luar biasa dengan penerapan sistem ini.”
Planetnufo.com: “Wah istimewa sekali kalau begitu. Semua punya kesempatan yang sama ini sepertinya bisa melahirkan semangat kuat untuk mendapatkan progress yang cepat”.
UAR: “Tepat sekali. Bahkan, pengasuh wanti-wanti betul agar tidak ada yang memanggil putra-putri beliau dengan “gus” dan “ning”. Dulu, di Monasmuda Institute Semarang, ada beberapa santri yang memanggil “gus” ke putra pertamanya. Namun, Abah Nasih melarangnya dan meminta dipanggil “mas” saja. Alasannya ada. Tapi tidak perlu dulu kita bahas di sini. Dan semua santri menggunakan panggilan yang sama, dengan “mas” untuk yang sebaya atau lebih muda, dan yang lebih tua dipanggil “bang”. Yang perempuan dipanggil “mbak” atau “dik”. Di sini tidak ada “kang” seperti di pondok-pondok pada umumnya. Maksud kami agar semuanya, baik putra-putri pengasuh maupun santri yang bukan anak tokoh sekalipun memiliki semangat yang sama untuk meraih kemajuan dan kesuksesan dalam belajar dan berusaha.”
Planetnufo.com: “Kalau pengasuh bagaimana. Bisa nggak dapat bocoran tentang pergaulan keseharian Abah Nasih?”
UAR: “Apalagi Abah Nasih. Beliau itu kan “amphibi”, hidup di mana saja. Kalau beliau bersikap dan berlaku feudal ya akan malu sendiri. Walaupun saat kecil hidup dalam keluarga yang kental pesantren tradisional, tapi kemudian menjadi aktivis HMI, bergaul dengan banyak kalangan yang rasional, kuliah dan mengajar di perguruan tinggi nasional. Justru budaya egaliter ini adalah pesan penting beliau. Dan Abah Nasih sendiri kan bisa dipanggil dengan panggilan yang berbeda-beda, tergantung tempat, situasi, dan kondisi. Oleh para santri angkatan 2011 dipanggil “pak”. Sebab, waktu itu belum punya anak yang memanggilnya “abah”. Setelah punya anak, Mas Hokma itu, dan Mas Hokma memanggilnya “abah”, para santri ikut memanggilnya “abah”. Padahal di HMI, beliau dipanggil “abang”. Jadi terjadi perubahan dari “abang” ke “abah”. Dan ini bisa kita saksikan kalau mahasantri Monasmuda Institute jadi moderator atau pembawa acara di acara-acara atau pelatihan-pelatihan HMI. Mereka yang biasanya menyapa “abah”, tapi di forum ini menyapa dengan “abang”. Itu ya biasa saja. *** (AH)