Notice: Constant WP_USE_THEMES already defined in /home/u1651158/public_html/wp-content/plugins/wp-core-tools/wp-core-tools.php on line 2
BAGIAN III: MEREKONSTRUKSI MANHAJ NUBUWWAH: KESEIMBANGAN ANTARA DOA DAN STRATEGI MATERIL - PlanetNufo.com

Planetnufo.com: Sebagian kalangan mungkin akan menuduh pemikiran Anda ini terlalu bercorak materialistik atau sekuler karena mereduksi nilai-nilai spiritual dan doa. Bagaimana Anda mendudukkan posisi doa dan ikhtiar fisik dalam kacamata sirah nabawiyah (sejarah Nabi Muhammad Swt.)?

Dr. Mohammad Nasih, M.Si.:

Tuduhan sekuler atau materialistik itu muncul dari kedangkalan membaca sejarah Nabi secara utuh. Saya justru ingin mengajak umat untuk kembali ke Manhaj Nubuwwah yang murni, yang bersih dari kontaminasi mistisisme menyimpang. Apakah Nabi Muhammad Swt. dalam memperjuangkan Islam hanya duduk di Masjid Nabawi, menadahkan tangan, lalu pasukan musuh kalah dengan sendirinya? Sama sekali tidak!

Mari kita buka lembaran Perang Badar, Perang Uhud, atau Perang Khandaq. Nabi Muhammad Swt. adalah seorang komandan militer tertinggi yang sangat jenius, rasional, dan taktis. Dalam Perang Badar, sebelum pertempuran dimulai, Nabi melakukan survei geopolitik dan hidrologi untuk menguasai sumber-sumber air. Dalam Perang Khandaq, Nabi tidak meminta malaikat menurunkan gempa bumi secara instan, melainkan menerima usulan rasional-teknologis dari Salman Al-Farisi untuk menggali parit raksasa—sebuah strategi militer luar biasa yang belum pernah dikenal di jazirah Arab saat itu. Nabi membangun kekuatan pasukan dengan manajemen modern, membagi divisi-divisi tempur, dan menuntut loyalitas serta disiplin yang tak tergoyahkan dari para sahabat.

Nabi menggunakan baju besi berlapis dalam pertempuran, bahkan terkadang dua lapis. Beliau terluka, giginya patah dalam Perang Uhud. Ini adalah pesan teologis yang sangat kuat dari Tuhan bahwa di dunia ini, hukum sebab-akibat berlaku bagi siapa saja, termasuk bagi Kekasih Allah sekalipun. Doa bagi Nabi adalah pilar spiritual sebagai bentuk kepasrahan, penyerahan diri, dan tawakkal setelah seluruh ikhtiar akal dan fisik dilakukan secara maksimal 100 persen. Doa bukan substitusi atau pengganti dari kemalasan ikhtiar. Doa tetap, wajib sebagai pengikat hati dengan Al-Khaliq, tetapi membangun kekuatan militer, kekuatan ekonomi, kekuatan pangan, dan kekuatan sains yang adaptif terhadap perkembangan zaman adalah perintah eksplisit dari Al-Qur’an: “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi…” (QS. Al-Anfal: 60). Kata quwwah (kekuatan) di ayat tersebut bermakna dinamis, menyesuaikan dengan alat dan teknologi zaman yang sedang berlangsung.

Planetnufo.com: Sebagai akademisi Ilmu Politik, bagaimana Anda melihat implikasi politik dari bertahannya kultur mistisisme dan kultus individu ini terhadap kualitas demokrasi dan kepemimpinan nasional di Indonesia?

Dr. Mohammad Nasih, M.Si.:

Dampaknya sangat destruktif bagi iklim politik nasional. Kultur kultus individu keagamaan berbanding lurus dengan suburnya feodalisme politik. Ketika umat terbiasa tunduk secara buta kepada figur keagamaan karena dianggap memiliki legitimasi langit (seperti status wali atau darah suci), maka nalar kritik mereka sebagai warga negara otomatis mati. Mereka tidak lagi memilih pemimpin berdasarkan kapasitas, rekam jejak, integritas, atau program kerja rasional, melainkan berdasarkan dhawuh atau instruksi dari sang patron agama yang telah menghegemoni nalar mereka.

Fenomena ini dieksploitasi oleh para elite politik pragmatis. Terjadilah transaksi politik jubah: politisi mendekati Ulama’ al-Dunya ini untuk membeli pengaruh massa, sementara sang ulama mendapatkan konsesi ekonomi atau proteksi kekuasaan. Ini adalah simbiosis mutualisme yang korup dan membunuh meritokrasi. Akibatnya, kita kesulitan melahirkan kepemimpinan profetik—pemimpin yang cerdas, berintegritas, dan visioner—karena ruang publik kita disesaki oleh manipulasi simbol-simbol keagamaan bernuansa takhayul politik. Selama umat masih bisa dibodohi dengan cerita-cerita karamah palsu kiai atau habib, selama itu pula suara mereka dalam pemilu hanya akan menjadi komoditas murahan yang diperdagangkan oleh para makelar politik berbaju agama.