PENGANTAR REDAKSI
Dunia Islam hari ini berada di persimpangan jalan yang paradoksal. Di satu sisi, gairah keagamaan tampak begitu semarak di ruang publik. Namun di sisi lain, secara geopolitik dan penguasaan sains-teknologi, mayoritas keterpurukan justru melanda negeri-negeri Muslim. Menghadapi realitas keumatan ini, intelektual Islam sekaligus pakar politik dari Universitas Muhammadiyah Jakarta yang juga merupakan Pengasuh Pesantren-Sekolah Alam Planet NUFO Rembang, Dr. Mohammad Nasih, M.Si., menawarkan sebuah gagasan radikal dan dekonstruktif. Dalam wawancara mendalam bersama planetnufo.com, pria yang akrab disapa Abah Nasih atau juga ABANA ini membedah secara tajam fenomena hegemoni keagamaan pasif yang melanggengkan kultus individu, pembodohan berbasis takhayul, hingga urgensi kontekstualisasi teologi pembebasan demi mengejar ketertinggalan peradaban dari hegemoni global. Berikut adalah petikan wawancara komprehensifnya.
BAGIAN I: ANATOMI HEGEMONI ULAMA’ AL-DUNYA DAN DEKONSTRUKSI KULTUS INDIVIDU
planetnufo.com: Abah Nasih, judul yang Anda usung sangat provokatif sekaligus menggugah: “Teologi Pembebasan: Membebaskan Nalar Umat dari Hegemoni Ulama’ al-Dunya”. Mengapa Anda merasa nalar umat Islam saat ini sedang terhegemoni, dan siapa sebenarnya yang Anda maksud sebagai ‘Ulama’ al-Dunya’ dalam konteks sosiologis kontemporer di Indonesia?
Dr. Mohammad Nasih, M.Si.:
Bismillahirrahmanirrahim. Kita harus berani jujur melihat kondisi objektif umat Islam hari ini, khususnya di Indonesia. Umat sedang mengalami stagnasi berpikir, kalau tidak mau disebut sebagai kemunduran nalar. Mengapa? Karena ada konstruksi sosial-keagamaan yang sengaja diciptakan untuk membuat umat tetap pasif, penurut, dan tidak kritis. Di sinilah peran dari apa yang secara teologis dan politis saya sebut sebagai Ulama’ al-Dunya—yaitu para pemuka agama, baik oknum kiai maupun oknum habib atau habaib, yang orientasi eksistensialnya bukan lagi menegakkan kebenaran substantif Al-Qur’an dan mencerdaskan umat, melainkan menjaga status quo, menumpuk pengaruh material, serta melanggengkan kekuasaan simbolik mereka atas basis massa.
Mereka memanfaatkan ketidaktahuan masyarakat untuk membangun hegemoni. Dalam teori hegemoni Antonio Gramsci, kekuasaan tidak langgeng melalui kekerasan fisik, melainkan melalui penanaman ideologi yang membuat pihak yang dikuasai merasa sukarela untuk ditindas atau dibodohi. Nah, Ulama’ al-Dunya ini memproduksi kesadaran palsu keagamaan. Umat dicekoki pemahaman bahwa kepatuhan mutlak kepada figur keagamaan adalah representasi dari kepatuhan kepada Tuhan. Ini adalah pembajakan teologis yang sangat berbahaya karena merusak sendi-sendi tauhid murni yang membebaskan manusia dari penghambaan sesama manusia.
planetnufo.com: Dalam banyak kesempatan, Anda sangat kritis terhadap penggunaan istilah-istilah seperti “karamah”, “wali”, dan “ilmu ladunni”. Mengapa konsep-konsep yang sebenarnya memiliki akar dalam tradisi spiritual Islam klasik ini kini Anda pandang sebagai instrumen pembodohan?
Dr. Mohammad Nasih, M.Si.:
Kita harus membedakan antara konsep spiritual yang orisinal dengan komodifikasi konsep tersebut untuk kepentingan pragmatis. Hari ini, istilah karamah, wali, dan ilmu ladunni telah mengalami distorsi makna yang luar biasa parah. Konsep-konsep itu telah direduksi menjadi komoditas jualan untuk membangun narasi kultus individu.
Mari kita bedah satu per satu. Karamah secara bahasa artinya kemuliaan. Mengapa sekarang karamah selalu diidentikkan dengan tontonan kesaktian magis yang tidak masuk akal? Kiai ini bisa terbang, habib itu bisa tahu masa depan, atau tokoh anu tidak mempan ditembak. Ini bukan agama, ini takhayul! Ini mistisisme abad pertengahan yang sengaja dipelihara. Mengapa dipelihara? Agar umat menganggap para tokoh ini sebagai makhluk setengah dewa yang memiliki akses khusus kepada Tuhan, sehingga apa pun titah mereka—termasuk pilihan politik atau sumbangan dana—tidak boleh didebat.
Begitu pula dengan ilmu ladunni. Istilah ini sering disalahgunakan untuk melegitimasi kemalasan intelektual. Seolah-olah seseorang bisa menjadi pintar, paham syariat, atau menguasai realitas tanpa perlu belajar keras, tanpa riset, dan tanpa proses dialektika ilmiah. Cukup dengan tirakat tertentu atau karena faktor genetika kebangsawanan agama, ilmu itu langsung turun dari langit. Ini pembodohan sistematis! Efek domino dari narasi ini adalah umat mengabaikan institusi pendidikan formal, malas membaca, enggan meneliti, dan akhirnya menaruh nasib peradaban mereka pada dongeng-dongeng mistis. Umat dipaksa percaya pada kejadian luar biasa yang tidak bisa diverifikasi secara empiris, sementara tantangan zaman di depan mata menuntut kepastian rasional dan kerja keras faktual.