Planetnufo.com: Kritik Anda sangat menohok batas-batas kenyamanan tradisi. Namun, bukankah sebagian masyarakat merasa bahwa narasi metafisika tersebut justru memperkuat keimanan mereka terhadap kekuasaan Allah yang melampaui logika manusia? Bagaimana Anda membantah argumen tersebut secara empiris?
Dr. Mohammad Nasih, M.Si.:
Iman kepada yang gaib (al-ghaib) adalah rukun iman, itu mutlak. Kita percaya adanya malaikat, surga, neraka, dan takdir. Tetapi, menjadikan takhayul domestik sebagai kompas kehidupan berbangsa dan bernegara adalah kenaifan yang fatal. Bukti paling otentik dan tidak terbantahkan bahwa narasi mistisisme utopis ini gagal adalah ketika dihadapkan pada realitas objektif benturan peradaban hari ini. Para penganut kultus individu ini, dengan segala klaim karamah dan kesaktiannya, sama sekali tidak berdaya dan kalah telak oleh kedahsyatan sains dan teknologi modern yang dikembangkan oleh bangsa-bangsa Barat atau bangsa lain yang rasional.
Ketika terjadi konflik atau penindasan terhadap umat Islam, di mana manifestasi fisik dari cerita-cerita kesaktian terbang atau kebal peluru itu? Tidak ada! Mengapa? Karena Allah Swt. telah menetapkan Sunnatullah (hukum alam) di alam semesta ini. Siapa yang menanam, dia yang memanen. Siapa yang menguasai hukum fisika, matematika, kimia, dan teknologi militer, dialah yang akan mendominasi secara geopolitik. Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum yang hanya duduk berzikir mengharapkan keajaiban mistis tanpa mau mempelajari hukum-hukum alam yang diciptakan-Nya sendiri. Kegandrungan umat pada dongeng takhayul telah mengebiri fungsi akal yang merupakan anugerah terbesar Allah untuk memimpin bumi (khalifatullah fil ardh).
Planetnufo.com: Anda sering membandingkan kondisi geopolitik Timur Tengah saat ini, secara spesifik antara apa yang terjadi di Palestina dan kekuatan militer Iran, sebagai basis argumentasi rasionalitas teologis ini. Bisa Anda jelaskan analisis politik-keagamaan Anda mengenai hal tersebut?
Dr. Mohammad Nasih, M.Si.:
Ini adalah studi kasus yang sangat klir dan harus menjadi pelajaran pahit sekaligus berharga bagi seluruh umat Islam sedunia. Mari kita lihat Palestina. Kita semua menangis, terluka, dan mengutuk kekejaman zionis Israel di Gaza dan Tepi Barat. Mengapa Palestina dengan mudah dihancurkan, dibombardir, dan dijajah sedemikian rupa selama puluhan tahun? Jawabannya objektif secara militer: karena ketimpangan penguasaan sains dan teknologi pertahanan. Anda tidak bisa melawan jet tempur F-35, drone pengintai canggih, dan sistem kecerdasan buatan (AI) militer hanya dengan narasi pasrah atau mengandalkan cerita burung ababil akan datang mendadak tanpa ada ikhtiar material yang sepadan. Tentu, rakyat Palestina memiliki keberanian dan iman yang luar biasa, namun ketertinggalan teknologi struktural membuat mereka berada dalam posisi defensif yang sangat rentan.
Sekarang, mari kita bandingkan secara diametral dengan Iran. Mengapa Amerika Serikat, Israel, dan seluruh sekutu Barat-nya berpikir seribu kali sebelum berani melakukan invasi militer terbuka ke Teheran? Mengapa Iran mampu meluncurkan ratusan rudal balistik dan drone canggih yang mampu menembus sistem pertahanan Iron Dome? Jawabannya bukan karena mereka memiliki kiai yang bisa terbang atau habib yang bisa mengubah air jadi bensin. Jawabannya adalah karena Iran memiliki pemahaman keagamaan yang benar dan iman yang kuat yang dimanifestasikan dalam bentuk penguasaan sains dan teknologi tingkat tinggi!
Iran pasca-revolusi menyadari bahwa kedaulatan politik hanya bisa tegak jika ditopang oleh kemandirian sains. Mereka membangun reaktor nuklir, mengembangkan laboratorium fisika antariksa, memproduksi industri manufaktur militer secara mandiri, dan mendidik anak-anak muda mereka menjadi ilmuwan-ilmuwan kelas dunia. Mereka memadukan spiritualitas Islam yang revolusioner dengan rasionalitas ilmiah modern. Mereka paham bahwa melawan penindasan global (istikbar al-alami) membutuhkan instrumen yang setara. Ini membuktikan bahwa teologi Islam yang benar adalah teologi yang mendorong lahirnya riset ilmiah dan kekuatan teknologi, bukan teologi komat-kamit yang melahirkan kepasifan sosial.