Notice: Constant WP_USE_THEMES already defined in /home/u1651158/public_html/wp-content/plugins/wp-core-tools/wp-core-tools.php on line 2
BAGIAN IV: TEOLOGI PEMBEBASAN SEBAGAI SOLUSI DAN BLUEPRINT MASA DEPAN PERADABAN ISLAM - PlanetNufo.com

Planetnufo.com: Melalui Pesantren-Sekolah Alam Planet NUFO di Rembang, bagaimana Anda mempraktikkan dekonstruksi berpikir ini dan menanamkan alternatif “Teologi Pembebasan” yang Anda maksud kepada generasi muda Muslim?

Dr. Mohammad Nasih, M.Si.:

Di Planet NUFO, kami melakukan revolusi epistemologis dalam pendidikan Islam. Kami ingin memutus mata rantai feodalisme keagamaan dan mistisisme pasif sejak dini. Santri-santri di Planet NUFO tidak diajar untuk mencium tangan guru secara berlebihan sampai membungkuk-bungkuk seolah menghamba. Kami mendidik mereka untuk menghormati ilmu dan integritas guru, bukan mengkultuskan personifikasinya. Kami membuka ruang debat ilmiah yang seluas-luasnya. Di tempat kami, tidak ada dogma yang tabu untuk dipertanyakan selama koridornya adalah pencarian kebenaran akademis berbasis Al-Qur’an dan rasionalitas.

Kami memadukan kajian tafsir kronologis Al-Qur’an yang mendalam dengan sains modern dan kewirausahaan (entrepreneurship). Santri kami harus tahu matematika, harus paham biologi perkembangan, harus mengerti teknologi digital, dan harus turun ke lapangan untuk bertani serta berbisnis secara mandiri. Kami ingin melahirkan generasi Muslim yang tangan di atas secara ekonomi, kritis secara intelektual, dan kokoh secara spiritual. Inilah wujud nyata dari Teologi Pembebasan yang kami gagas: membebaskan nalar dari belenggu takhayul, membebaskan fisik dari ketergantungan ekonomi pada orang lain, dan membebaskan jiwa dari hegemoni para perantara agama yang distortif.

Planetnufo.com: Sebagai penutup, apa pesan kunci Anda bagi generasi muda Muslim dan para pemikir Islam di Indonesia agar terbebas dari jerat hegemoni Ulama’ al-Dunya ini dan mampu membawa Islam memimpin peradaban masa depan?

Dr. Mohammad Nasih, M.Si.:

Pesan saya tegas: Berhentilah menjadi konsumen dongeng dan mulailah menjadi produsen sains! Jangan biarkan nalar kritis yang telah dianugerahkan Allah diserahkan begitu saja kepada siapa pun yang mengeksploitasi simbol keagamaan demi keuntungan duniawi mereka sendiri. Jika ada kiai atau habib yang menceritakan hal-hal luar biasa bernuansa takhayul yang menjauhkan kita dari ikhtiar ilmiah, tolak dengan sopan dan kritis. Ujilah setiap narasi keagamaan dengan dua alat ukur utama: kesesuaian substantifnya dengan prinsip-prinsip keadilan Al-Qur’an dan validitasnya di laboratorium sains serta realitas empiris.

Zaman terus bergerak dengan akselerasi yang luar biasa cepat. Kita berada di era kecerdasan buatan, eksplorasi ruang angkasa, dan rekayasa genetika. Orang-orang beriman harus menjemput perkembangan zaman ini dengan alat-alat yang adaptif dan mutakhir. Kita membutuhkan ribuan laboratorium riset baru, kita membutuhkan pusat-pusat inovasi teknologi yang dikendalikan oleh anak muda Muslim yang bertauhid murni. Ingat, tawakkal adalah puncak setelah ikhtiar fisik dilakukan habis-habisan. Mari kita bangun kekuatan peradaban Islam yang disegani dunia dengan ilmu pengetahuan, kemandirian ekonomi, dan kekuatan teknologi, bukan dengan pasrah di bawah ketiak hegemoni Ulama’ al-Dunya. Hanya dengan cara itulah, Islam bisa kembali menjadi Rahmatan lil ‘Alamin yang nyata, bukan sekadar slogan utopis di atas kertas sejarah.